Rendezvous Biru (Cerpen Alvin Shul Vatrick)

Setahun berlalu, di pantai ini aku berpisah dengannya. Wajah itu kembali mengusik sepiku. Tersenyum sangat manis, seindah lembayung menjingga di cakrawala senja ini. Senyum yang selalu melengkung mirip pelangi selepas gerimis, di balik awan-awan tipis. Kedua matanya … memandang sendu kepadaku. Mata yang sayu tak kemayu. Tatapan teduh, seteduh telaga sunyi. Mata yang tatapannya akrab menikam ingatanku dengan rindu.

“Rindu adalah penderitaan terhebat sekaligus bahagia terindah dalam cinta ….” Lirih kuberbisik membalas senyumnya yang terhalang pendar awan, dan kusaksikan mata sayu itu perlahan redup laksana senja terbenam dalam pelukan malam tanpa bulan. Lalu titik air mata, saat kuingat bagaimana ia mengkhianatiku.

Kutundukkan kepala, meninggalkan pasir-pasir putih. Namun, tatapan mata itu masih mengikutiku. Kini dengan butir-butir air berjatuhan dari sudutnya. Kuayun langkah lebih cepat lagi, tak ingin kulihat butir-butir itu luruh di atas pasir. Akh! Sebenarnya tak tega melihat dia membawa perihnya rindu dalam kesendirian. Seharusnya aku saja menanggung semua pedih itu.

***

“Sejak pulang sekolah belum makan, kamu kenapa?” Kak Yuni memegang bahuku. Kutenggak teh botol sosro di tanganku sampai habis. Kutatap menu makan siang di meja makan tanpa selera menyentuhnya, padahal ikan bakar kesukaanku masih hangat berbalur sambal dabu-dabu.

“Gak selera, Kak.”

“Tadi pagi sarapan tidak kamu sentuh, makanlah sedikit. Kakak khawatir kamu sakit!” Kak Yuni merayuku. “Ehm, kamu seperti orang yang lagi patah hati. Gak mau makan.” sambungnya.

Aku menoleh, sedikit senyum sudah menjadi jawaban. Wajah itu datang lagi, menyapa dengan tatapan sendu dan senyum tipis. Ah, dia selalu muncul tiba-tiba dalam ingatanku. Benarkah aku masih rindu dan akan terus merindukannya? Wuft, aku tak boleh larut dalam keadaan seperti ini!

Kuusir wajah itu setiap kali muncul dan bergelayut di mataku. Terkadang kucoba tersenyum hanya untuk meyakinkan diri bahwa semua telah menjadi kenangan, tapi tak jarang pula aku menggeram kepada waktu. Huh, mengapa ia harus pindah sekolah. Mengapa mesti ada perpisahan?

***

Jam empat sore. Lekas-lekas kubersihkan Honda CB sahabat yang setia menemani ke mana aku pergi. Hujan beberapa hari ini membuatnya kotor bahkan berlumpur. Selesai mandi, kupacu motor menelusuri pantai.

Aku duduk di atas tembok dermaga, menatap jauh titik temu air laut dengan jingga kaki langit.

“Ndra, dari tadi di sini?” Seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Baru saja.” Jawabku. Arjun lalu duduk sejajar denganku. Ia teman satu kelas sekaligus sahabat yang paling akrab.

“Tadi aku ketemu Naya di minimarket. Ia bukan Naya yang dulu lagi. Ia pura-pura tak kenal aku! Buruknya lagi, ternyata ia pacaran dengan Rendy.” Tersirat kecewa di raut muka Arjun. Ia terus saja menceritakan pertemuannya dengan Naya di minimarket, barusan.

Naya, gadis yang wajahnya akrab hadir dalam ingatanku. Rupanya ia pulang ke kota ini. Mungkin menjenguk kakek dan neneknya.

Setahun lalu Naya pindah sekolah ke Bandung ikut orang tuanya, selang seminggu kami menyatakan putus. Itu karena ia memilih Rendy, sahabatku. Lantaran Rendy penampilannya parlente sedangkan aku malah sukanya berpenampilan seperti gembel dengan jeans sobek.

“Oh ya! Masa sih Naya bisa berubah seperti itu?” Giliranku bertanya.

“Entahlah, Ndra! Aku pun heran. Bener-bener gak nyangka ….”

***

Pikiranku kalut usai bertemu Arjun sore tadi. Cerita tentang Naya membuka memori yang susah payah kulupakan. Sebelum mengenalnya, aku tak pernah tahu bagaimana rasa mencintai dan merindukan seseorang. Di awal perpisahan, aku kadang memimpikannya. Ia begitu ayu dengan senyumnya yang manis. Namun, semua kini menjadi entah. Tinggal pantai ini menjadi tempat paling damai bagiku ketika ingatan itu tiba-tiba muncul.

Pukul 8.00 malam, aku masih mendamaikan hati dengan menatap jauh ke bulan separuh yang merangkak dari permukaan air laut. Entah sudah berapa lagu yang diiringi musik akustik menemani kesendirianku di kafe ini. Sementara, di meja yang lain tampak sumringah pasangan-pasangan muda menikmati malam mereka.

Tahun lalu kafe ini menjadi tempat pilihanku dan Naya menikmati sepoi angin laut. Ada banyak cerita terukir di sini. Hingga pada sebuah malam aku mendapatinya di tempat ini bersama Rendy.

Praaaaak! Kubanting gelas di atas meja.

“Aku tak menyangka kalian tega berkhianat!” Kalimat terakhir yang kulontarkan. Air mata menggenangi mata Naya, Rendy geming tak bicara. Aku berlalu meninggalkan mereka dengan selaut luka, menahan amarah serupa menggenggam bara di tangan. Kebencian membakar batinku. Pacar macam apa dia? Sahabat macam apa dia?

***

Hari ini, Vera berulang tahun. Arjun meneleponku berkali-kali merajuk agar aku datang di pesta pacarnya itu. Namun, Honda CB-ku lagi cedera. Menungguinya di bengkel pasti butuh waktu lama. Terpaksa aku keluarkan si merah dari garasi, Ferrari Spyder kado ultah dari almarhum papa. Kawan-kawan sekolahku sebenarnya tak tahu latar belakang keluargaku. Yang mereka tahu, aku pencinta motor antik dan identik dengan pakain lusuh ala gembel. Hanya Arjun satu-satunya teman sekolah yang pernah datang ke rumahku.

Suasana hiruk pikuk saat aku masuk di ruangan yang di tengahnya sebuah meja bundar dengan kue tart pink coklat yang tinggi berhias lilin angka 17. Aku duduk di kursi paling sudut, memandangi tamu yang rata-rata satu sekolah denganku, mereka berpasang-pasangan.

“Hai, Kak Indra ya?” Seseorang menyapaku sambil tersenyum.

“Kakak sendirian?” sambungnya.

“Mmmh, iya!”

“Kenalin aku Lusy, sahabatnya Vera. Kak Arjun memintaku menemani Kakak.”

“Owh, terima kasih. Silakan!” Kugeser posisi, memberikan tempat duduk di sampingku.

Darahku berdesir, jantungku berdetak cepat saat mataku tertuju kepada sosok yang sangat aku kenali. Aku seperti bermimpi melihat dia di tempat ini. Kucoba kedipkan mata, aku sadar ia adalah Naya. Aku berdiri dan bermaksud hendak pulang, tetapi tangan Arjun lebih dulu memegang tanganku. Entah darimana datangnya, tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.

“Mau ke mana, Ndra?”

“Pulang!” jawabku singkat.

“Aku tahu, kamu bakal pergi jika tahu Naya ada di sini. Tapi, Ndra! Itu hanya akan menambah kekesalanmu. Bersikaplah biasa-biasa saja, gak baik menyimpan benci lama-lama.” Ia menatapku tajam.

“Baiklah, aku di sini karena kamu sahabat baikku!”

Belum sempat duduk kembali, kudengar suara menyebut namaku. Sejenak aku geming berusaha memastikan pemilik suara itu, kemudian duduk di samping Lusy.

“Apa kabar, Kak Indra?”

Benar dugaanku, suara Naya.

“Sangat baik!” jawabku tak acuh.

“Jangan jutek gitu dong!”

Aku diam seakan tak mendengar. Setelah beberapa menit berdiri, Naya meninggalkan aku yang pura-pura terlihat dekat dengan Lusy. Hingga pesta selesai aku tak melihatnya lagi. Kulanjutkan ngobrol dengan Lusy. Ia gadis yang asyik, mengobrol dengannya membuatku nyaman. Ada sejuk terasa diam-diam menetralisir perasaanku yang tadinya marah. Ia gadis yang baik, ramah, dan sederhana.

***

Satu per satu tamu undangan mulai pulang. Lusy bergabung bersama Vera dan beberapa temannya. Kudekati Vera dan memberikan kado ultah untuknya sekalian pamit. Rupanya di luar masih ramai teman-temannya pada asyik ngobrol. Tiba diparkiran kubuka pintu si merah. Namun, baru saja kuangkat kakiku, Naya muncul dan tanpa risih memegang lenganku.

“Maafin aku ya, Kak! Aku bersalah waktu itu.”

Mata Naya berkaca-kaca dan bulir bening menggumpal di sudutnya serupa embun yang hendak jatuh dari ujung daun.

“Sudahlah Nay, aku maafkan. Tapi, tolong jangan temui aku lagi. Biar kita menjalani kehidupan masing-masing ….” Ucapku lirih.

Air matanya perlahan jatuh satu-satu. Ada keharuan menimpa dada kiriku. Namun, terlalu sulit melupakan pengkhianatan Naya. Cinta pertamaku terlukai, hatiku terlanjur hancur. Tak lama berselang, Lusy dan Arjun menemuiku. Arjun memintaku mengantar Lusy pulang.

“Maaf ya, Nay. Aku duluan!”

Kubuka pintu mobil buat Lusy dan berlalu dari tempat itu. Sepanjang jalan pulang kami asyik mengobrol. Kuberanikan diri menggenggam jemari Lusy. Dibalasnya dengan senyum teramat manis.

“Kamu mau jadi kekasihku?”

Lusy kembali tersenyum, lalu mengangguk kecil. Ia menyandarkan kepalanya di lenganku. Aku bahagia. Terima kasih, Tuhan!