Dinding Pembatas (Cerpen Margaretha Wida)

Dinding Pembatas
(Margaretha Wida)
 
Aku membaca statusnya di facebook tentang kecelakaan yang menimpanya. Teman-temannya mengucapkan prihatin atas kecelakaan itu dan menyemangatinya agar cepat sembuh. Ah, apakah yang sebenarnya terjadi? Aku memandang seraut wajah tua berupa sketsa yang jadi foto profilnya. Pandangnya masih teduh seperti dulu. Senyumnya ramah menyapa siapapun yang menatap fotonya. Wajah lugu dan tulus. Tak menyembunyikan giginya yang sudah tanggal beberapa. Mengikat rambut putihnya yang semakin memanjang. Ia sudah benar-benar menjadi seniman. Beberapa pementasan sering dilakoninya, juga drama pendek di televisi.
Berapa tahunkah sudah lewat sejak aku kuliah di kotanya dulu? Tahun-tahun awal perkuliahan yang ceria. Kami berkenalan di beranda rumah pemondokan yang teduh. Senja meremang di antara bayang pepohonan yang tumbuh di halaman luas. Ia memarkir vespanya di bawah pohon mangga. Berdua bersama temannya naik ke teras dan menyalamiku. “Selamat sore,” katanya,” Benarkah ini alamat kos Rini? Saya mengantar teman saya ini menemuinya. Dia berasal dari Solo.”
“Ya benar.”
“Apakah ada di rumah?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Dan kami pun saling berkenalan. Berbasa-basi tentang daerah asal kami, tentang kampus dan kuliah, dan apapun yang bisa diceritakan sebagai bahan pembicaraan. Juga tentang hobi kami. Kebetulan aku suka teater dan kuliahku di jurusan Sastra Indonesia, jadi pembicaraan lebih seru. Tentang teater Dardanella, juga Toneel Belanda yang sering kumainkan pada masa sekolahku di susteran, dan latihan-latihan teater bersama teman-teman.
 
Rini kurang terlibat dalam pembicaraan ini karena minatnya bukan di bidang sastra. Aku merasa sungkan, karena bukankah ia yang sebenarnya hendak dikunjunginya? Segera topik pembicaraan beralih pada kota Solo dan kebudayaan Jawa yang kental di sana. Sejak itu kami sering pergi bersama. Ia mengajakku bergabung dengan teaternya dan menjemputku setiap Selasa malam untuk berlatih. Kegiatan seniku jadi bertambah, karena aku juga ikut paduan suara kampus. Tapi aku menikmati semua kegiatan itu, membagi waktu antara kuliah dan kegiatan seni. Ingin kureguk banyak ilmu selama aku kuliah di Yogya ini, kelak bisa menjadi bekalku dalam mengajar jika sudah lulus kuliah.
 
Kebersamaan yang bermula dari kegiatan berkesenian, lama kelamaan menimbulkan perasaan yang berbeda. Entahlah apa namanya. Kalau aku pulang kuliah sore hari, sering kutunggu deru vespanya memasuki halaman pemondokan. Dan kuharapkan bayangan dirinya berjalan melintasi tetanaman bunga menuju teras. Mengetuk pintu dan merekahkan senyumnya yang ramah sambil berkata,
“Selamat sore Ajeng. Baru pulang kuliah?” Juga kuharapkan cerita-ceritanya tentang apapun. Tentang kekecewaannya kuliah di jurusan ekonomi yang tak diminatinya. Tapi karena keinginan orang tua ia kuliah juga walau tak dipahaminya deret-deret angka yang diterangkan dosennya.
“Nanti nggak lulus tentamen lho mas,” kataku mengingatkannya.
“Yach, ngulang lagi toh.”
Lalu kami meninggalkan pembicaraan tentang kuliah. Kuambil gitar dan ia memetiknya. Kami menyanyikan lagu-lagu lama kesukaan kami, Let it Be me, Scarlet Ribbon, San Fransisco dan lain-lain.
 
Suatu ketika ia mengajakku nonton pementasan Hamlet di Senisono. Harinya sabtu malam minggu. Aku berdebar, seorang teman laki-laki mengajakku keluar malam minggu? Perasaanku sebagai wanita jawa tentu saja bergelut antara senang, malu juga bangga. Berarti ia siap memperkenalkan aku pada teman-temannya, karena di acara pementasan begitu pasti banyak seniman atau peminat seni hadir. Ia menjemputku pukul tujuh. Pementasan mulai pukul delapan. Kami melintasi jalanan kota Yogya yang padat. Malioboro seperti biasa menggeliat oleh banyaknya pedagang kakilima dan wisatawan yang membaur di antara aneka barang dagangan. Tawar menawar yang riuh, lalu lalang mahasiswa yang ke malioboro sekedar cuci mata tanpa membeli apapun, sampai pengamen yang memperdengarkan lagu-lagunya dengan iringan gitar.
Senisono berada di ujung jalan Malioboro, di sudut perempatan air mancur. Kami tiba di situ, melihat-lihat pamflet yang dipajang di depan pintu masuk. Ada lukisan para pemain di pamflet itu, di antaranya mas Yoyok Aryo sebagai Hamlet.
“Mas kenal sama yang jadi Hamlet?”tanyaku.
“Ya, dia seniman senior di Yogya. Kita bisa belajar dari melihat aktingnya nanti,”katanya sambil mengajakku masuk ke gedung.
Pementasannya bagus sekali. Mas Yoyok Aryo memerankan Hamlet dengan sangat mendalam, membawa emosi penonton ke dalam suasana batin yang pilu. Membawa perasaan kami ke masa lampau, jaman kerajaan-kerajaan di Eropa saling berperang untuk memperebutkan kekuasaan monarkhi. Aku duduk dan mengikuti alur cerita dengan sepenuh perasaan sampai akhir pementasan. Pukul sepuluh baru selesai, dan kami keluar gedung. Bertemu dengan teman-temannya, saling bersalaman dan segera berpamitan pulang duluan.
 
Kebersamaan yang menjadi penyemai cinta kami. Bibit-bibit cinta mulai tumbuh. Kuncupnya mekar satu demi satu mewarnai hari-hari yang kami lalui. Walau tanpa pernah terucap kata ‘cinta’ dari bibir kami, tapi rasa itu ada. Terkirim lewat sinyal-sinyal indah di antara kami. Kehadirannya di setiap akhir pekan. Diajaknya aku berkeliling kota Yogya dengan vespanya. Ia mengenalkan tempat-tempat wisata dan budaya yang hidup subur di tengah-tengah masyarakatnya. Aku juga mengirim sinyalku padanya, lewat puisi-puisi yang kukirim sewaktu siaran radio. Ya, aku membawakan acara Puisi dan Lagu di sebuah stasiun radio swasta. Dan selalu kuselipkan puisi-puisi kasih untuknya. Rupanya puisiku juga berbalas. Suatu sore ia memberiku sekumpulan puisi yang diketiknya sendiri. Ada banyak puisi di situ, karya penyair-penyair terkenal. Ada juga puisi-puisi karangannya. Salah satunya puisi yang dibuat untukku. “ Senyummu tulus, bukan pikatan dan kepalsuan. Wajahmu lembut dan damai. Suaramu halus dan merdu, merekam segala yang baik. Di teras itu, sebulan yang lalu di bulan September, kausambut diriku dengan senyum. Kaujabat tanganku dengan lembut. Lembut kausebut namamu. Engkau bicara bagai gema, tapi bukan kepalsuan. Kaupandang segalanya dengan keyakinan yang tulus. Aku bertanya, dapatkah kau berdoa untukku, yang belum lepas dari rasa iri dan dengki. Engkau tersenyum lembut, bagai tersiram banyu sewindu hatiku tenang dan damai di sampingmu.”
 
Hari-hari begitu indah kami lewati. Saling memahami dan mendukung kegiatan kami masing-masing. Tetapi akhir-akhir ini kedatangannya mulai jarang. Aku tak tahu apa yang terjadi, sampai suatu sore ia datang dan mengatakan kalau sering keluar kota.
“Sekarang aku kuliah sambil bekerja Ajeng, menjadi wartawan.”
“wah, asyik dong mas, bisa sering bepergian. Kuliahnya bagaimana?”
“Ah ya bisa diatur,” katanya sambil tertawa.
Kusampaikan padanya kalau besok minggu paduan suara kami ikut pentas dalam acara Pasar Musik, mungkin mas bisa meliputnya.
“Pasar musik, apa itu?” tanyanya.
“Ya seperti pasar mas, kami boleh menyanyi lagu apa saja tanpa ditentukan panitia, dan kostum bebas.”
“Menarik nih, pasti aku datang.”
Dan benar, minggu itu dia datang. Aku baru menyadarinya ketika ada seseorang menyentuh rambut panjangku dari belakang. Ketika menoleh, kulihat dia heran sambil berkata, “Manis sekali kau Ajeng.”
“mBak Titik yang mendandaniku mas, kami tampilkan Nusantara lewat dandanan dan lagu-lagu kami.”
“Dan kau berdandan sebagai None Betawi, tapi berurai rambut. Lagunya juga?”
“Ya, Kicir-kicir dan ada lagu Melayu juga, Sekedar Bertanya.”
 
Kebersamaan yang sangat indah. Benang merah yang mengikat semakin mempererat kami dalam cinta kasih. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku mencintainya. Apalagi kalau bukan cinta, jika hatiku begitu gemuruh ketika ia datang. Dan rindu mencekam saat ia tak datang. Berkali kubacai kembali puisi-puisi yang ditulisnya. Berkisah tentang kegelisahan hati dan kegersangan batin. Namun di bulan September itu ditemukannya sebuah kelembutan yang damai dalam jabat tanganku.
 
Tetapi jauh di dalam hati aku merasa sedih. Sangat tak berdaya menghadapi cinta ini. Kami dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berbeda keyakinan. Ia mengantarku ke gereja, tapi tidak ikut misa. Ia menjemputku kembali dan meneruskan bermalam minggu. Sering kuselipkan dalam doa di depan Bunda Maria agar ‘memanggilnya’ menjadi putranya, dan bersama-sama aku akan menuju altar mengucap janji suci perkawinan kami. Tetapi secara halus ia juga menyampaikan keinginannya agar aku berpindah mengikuti keyakinannya. Tidak berkata terus terang. Ia mengatakan,”Suaramu sangat indah untuk melantunkan ayat-ayat suci Alquran, Ajeng.”
Ah, aku tidak bisa mas, kataku dalam hati. Sangat tidak berdayanya aku untuk berjalan menerobos dinding yang membatasi kita. Jika kakiku melangkah menujumu, kaki itu akan menambah luka di tubuh Yesus yang berlubang paku. Dia sudah menanggung sengsara untukku, masihkah aku menambah duka dengan meninggalkanNya? Kini aku hanya diam terpaku di batas dinding. Menyimpan cinta kami di dalam hati, entah sampai kapan. Sedang perjalanan hidup masih panjang. Kesulitan ekonomi keluargaku memaksa aku kuliah sambil bekerja juga. Tak ada lagi keriangan kampus dan dunia mahasiswa yang ceria. Atau berkutat dalam kegiatan seni. Kebersamaan kami semakin jauh. Aku hanya mengikuti tulisan-tulisannya di koran lokal. Setiap hari kusempatkan membaca tulisan berinisial namanya. Sampai pada suatu hari kutemukan ucapan selamat atas pernikahan seorang wartawan koran itu. Kupandang foto sepasang pengantin yang terpajang di halamannya. Ah, wajah seorang pria yang amat kukenal. Wajah tercinta. Kupandang lama-lama. Tak terasa airmataku jatuh membasahi koran itu.
***
Kini facebook mempertemukan kami kembali saat usia kami sudah senja. Saling menyapa dan berkomentar tentang kegiatan-kegiatan yang kami unggah di laman kami. Memandangi foto-foto kami. Kadang ia mengunggah foto-foto lama dan bernostalgia tentang masa muda. Ah wajah itu kutemukan kembali. Dulu aku tak punya fotonya, tetapi wajahnya tetap tersimpan di sudut hatiku. Dan siap muncul di bayang mataku setiap kali aku mengunggahnya. Sekarang wajah itu tersimpan juga di memori hpku dan siap muncul di layar setiap aku klik.
“Kecelakaan apa, mas,” tanyaku lewat inbox.” Hati-hati kalau berkendara. Yogya sekarang padat sekali. Lalu lintasnya ramai.”
“Justru bukan karena ramai lalu lintas Jeng. Memalukan sekali. Aku tergelincir saat mengendarai motor di jalan yang licin dan sepi.”
“Yogya hujan to mas?”
“Iya, hujan pertama bulan September,” katanya. Ah, bulan itu mengingatkan kembali akan petemuan kami. Di teras pemondokan yang rindang, kami berbincang. Dan kini, di bulan September lebih dari tigapuluh tahun kemudian, kami berbincang lewat dunia maya. Seolah menyambung kembali dua hati yang terpisah jarak dan waktu. Tapi dengan ikatan rasa yang berbeda. Bukan cinta remaja seperti dulu, melainkan kasih sayang tulus. Aku merasai cinta ini sebagai rasa seorang adik yang menyayangi kakaknya. Takut kehilangannya. Kami sudah sama-sama tua. Penyakit sudah menghampiri tubuh kami.
“Jaga kesehatan ya mas,” sering tulisku di bawah postingannya,”Jangan terlalu lelah.”
‘Ajeng juga ya. Harus mengikuti perintah dokter. Minum obat dan diet untuk menjaga gula darahmu,”
“Itu yang sulit, mas.”
“Betapapun sulit harus tetap dilakukan. Ayo semangat, katanya mau latihan jalan sedikit-sedikit biar bisa ikut reuni dengan teman-teman kuliahmu.’
“Makasih mas,” kataku. Ia masih seperti dulu. Selalu menyemangatiku. Aku ingat dulu ketika menangis karena tentamen linguistikku dapat nilai empat. Dia menyemangatiku,”Ajeng pasti bisa, ayo belajar lagi.”
Kini bukan kegagalan tentamen linguistik, tapi latihan berjalan dengan kaki palsu karena sebuah kakiku diamputasi. Penyakit diabet yang kuidap telah memenggal salah satu kakiku. Sangat sakit berjalan dengan satu kaki, sedang kaki palsukupun tak nyaman dipakai. Aku sering mengunggah fotoku berkursi roda di facebook. Dan dia, juga teman-teman menyemangatiku dengan komen-komennya.
“Semangat Ajeng, tetap sehat ya. Kita akan bertemu di acara kopdar.”
Ah ya, dia memasukkan aku ke dalam grup Sastra dan Puisi yang dibuatnya di facebook. Sayang sekali aku belum sempat sekalipun datang di acara kopdarnya.
Kini aku menginap di homestay yang terletak di sebuah desa dekat candi Borobudur. Suami dan adik-adikku ingin melepas penat dari kesibukan kerja mereka di kota. Kami kemari bersama keluarga masing-masing. Homestay ini menawarkan paket wisata yang menarik: Keliling desa naik sepeda onthel, menikmati fajar merekah dari Punthuk Setumbu, naik ke candi Borobudur, rafting di kali Elo, dan lain-lain.
“Baiklah aku ikut kesana. Kalian bisa mengikuti paket wisatanya. Aku tinggal di homestay saja menikmati keindahan alam desa,” kataku menyetujui rencana suamiku. Rumah joglo yang dijadikan homestay ini sudah tua. Pilar-pilarnya menyangga pendapa yang luas. Di salah satu sudut pendapa berjajar aneka macam sepeda. Ada sepeda onthel, sepeda mini,sepeda gunung. Di sudut yang lain tertata beberapa meja makan panjang. Salah satunya kami pakai makan malam. Menunya khas desa, sayur lodeh kluweh dan ikan kali yang digoreng. Suamiku sangat menikmati ikan cethul goreng, sambil bercerita bahwa itu ikan kesukaannya sewaktu kecil. Setelah makan kami duduk-duduk di bagian tengah pendapa. Tempat ini cukup luas. Agaknya lampu gantung kuna yang ada tak sanggup memendarkan cahayanya ke seluruh ruangan. Dalam remang-remang suasana, sayup kudengar suara musik gamelan mengalun sendu. Seorang lelaki berkostum ksatria melangkah pelan dalam ‘lampah lumaksana’. Kaki kanannya melangkah pelan ke depan, kaki kiri gedruk, lalu ganti melangkah ke depan. Selanjutnya kaki kanan gedruk, terus melangkah ke depan. Begitu seterusnya sampai ke tengah pendapa. Aku terkesima memandangnya. Lama tak kunikmati gerak langkah tari jawa, di sini kutemukan kembali. Sungguh indah. Pengelola homestay ini ternyata memberikan suguhan kesenian untuk tamu-tamu yang baru datang menginap. Sambil melepas lelah perjalanan, kami menghirup udara malam pegunungan, menikmati gemulai tari jawa yang syahdu. Selanjutnya ditampilkan beberapa tarian lagi. Keponakanku sudah tidak sabar ingin beranjak dari pendapa.
“Sudah ya bude, mau main game nih,” katanya.
“Lihat dulu,” kataku.
“Ngantuk,” katanya sambil menarik tangan ibunya,”Ayo bu, ke kamar.”
Aku bertahan sampai pertunjukan selesai, lalu menyusul mereka ke kamar. Mereka ingin lekas-lekas tidur karena besok selepas subuh akan berangkat naik ke Punthuk Setumbu agar bisa menyaksikan matahari terbit dari situ.
Dengan kursi roda aku keluar, ke halaman rumah joglo ini. Duduk menghadap ke timur, kuhirup udara pagi yang segar. Sementara sinar matahari memanjakan kulitku dengan limpahan cahaya. Terdapat aneka tetanaman di sini, ada daun-daun pohon besar jatuh di dekatku. Kutengok ke atas, oh, ternyata pohon kluweh. Buah-buahnya bergantung di dahannya. Masih ada juga pohon sukun di halaman. Di beberapa sudut halaman dibuat taman mini dengan bermacam tanaman hias. Aku tak tahu tanaman apa saja itu. Mungkin suamiku tahu karena hobinya tanam-menanam. Tapi ia sedang ke Punthuk Setumbu bersama rombongan. Mereka pasti juga ingin menikmati sinar matahari pagi dari puncak ketinggian itu. Aku di sini saja. Matahari yang sama juga yang kunikmati. Sambil kurasai semilir angin, kuputar youtube. Kudengarkan lagu-lagu nostalgia. Morning has Broken Nana Muskouri yang indah. “Morning has broken, like the first morning. Blackbird has spoken, like the firs bird. Praise for the singing, praise for the morning. Praise for them springing, fresh from the world.”
Tiba-tiba kurasakan tepukan lembut di bahuku, “Ajeng,” suara pelan memanggilku.
Aku menoleh. Alangkah terkejutnya aku melihat wajah yang sedang menatapku lembut. Ya, wajah yang kusimpan di sudut hatiku. Kini benar-benar hadir. Kuputar kursi rodaku. Menatapnya lama-lama. Sama seperti yang kulihat di foto profilnya. Mata teduhnya tersembunyi di balik kacamata. Ada raut-raut ketuaan, menambah bijak wajahnya. Ia tersenyum lembut.
“Mas, aku tidak menyangka …,” kataku terbata-bata, “Kita ketemu di sini?”
“Ya Ajeng, aku menjemput anak-anak sanggar. Mereka pentas seni tadi malam, menyambut tamu yang datang. Ternyata kau tamu yang kusambut,” katanya. Tangannya menggapai kursi rodaku.
“Yuk kudorong jalan-jalan. Ada paving track di halaman ini, bisa dilalui dengan kursi roda.”
“Kemana?” sambungnya,” Aku akan mengantarmu ke mana yang kausuka,” katanya.
“Ke taman mini yang ada banyak tanaman hias dan bunga-bunga itu, mas” kataku sambil menunjuk ke salah satu sudut. Ia mendorongku ke sana. Menikmati rumpun bunga mawar yang tumbuh subur.
“Selfie dulu ya mas,” ajakku. Dan kami berpose mengambil gambar kami. Ia di belakangku agak membungkuk. Agak mendekat lagi biar gambar kami terekam kamera hp. Klik. Kami lihat hasilnya. Ternyata kami bersisian sangat dekat. Berfoto lagi dengan latar pohon kluweh.
“Temanku pengelola homestay ini Ajeng. Sanggarku menjadi salah satu pengisi acara kesenian untuk menyambut tamu-tamu yang datang. Ketika ia bercerita ada seorang berkursi roda dalam rombongan tamunya, kukira kaulah itu. Kucari, dan kutemukan kau di sini,” katanya.
“Terima kasih mas,” kataku,” Mas sehat to? Jangan dahar sembarangan ya, kita sudah tua,” kataku.
“Ha ha , itulah yang sulit. Kalau sudah kumpul dengan teman-teman, kopi, rokok, gorengan ….”
Ia ke belakang kursiku. Mendorongku lagi keliling taman. Matahari makin meninggi, sinarnya mulai hangat. Kami bercerita tentang segala hal, tentang kehidupan yang kami jalani selama ini. Pekerjaan, anak-anak sampai kegiatan kami mengisi hari-hari kami di usia senja. Terasa lepas penat yang menyangga.
“Jadi kau masih menulis Ajeng?’
“Iya mas. Aku sudah tidak bisa melakukan pekerjaan fisik, tapi jari-jariku masih dapat kugerakkan. Kuterima anugerah Tuhan, apapun. Kalau tak sakit, tak bisa kunikmati apa itu sehat bukan?”
“Semangat Ajeng,” katanya, “Tuhan masih memberikan anugerah dalam keterbatasanmu.”
Ia selalu memberiku semangat. Nyaman sekali rasanya berjalan-jalan dengannya pagi ini. Aku bisa bercerita tentang apapun. Dan ia mendengarkan. Ah ia selalu mau mendengarkan. Aku seperti merasa mempunyai seorang kakak yang bijak. Ia juga mendorong kursi rodaku dengan sabar.
“Capek ya mas?” tanyaku,” Yuk menepi ke teras saja. Di sana ada kursi, mas bisa beristirahat.”
“Ah tidak, hanya keliling taman.”
“Ayuk, menyusuri Malioboro,” tantangku.
Dia tertawa,”Nggak bisa Ajeng. Kau akan tertabrak becak atau delman. Aku nggak tanggung jawab lho.”
Derai tawa kami terhenti ketika seorang ibu mengantarkan secangkir kopi dan teh beserta gorengan.
“Wah sukun,” kataku girang,”Lama sekali tak pernah makan cemilan tradisional ini.”
Kami menikmati sajian pagi dengan santai. Benang merah terentang lagi diantara kami, mengikatkan kasih sayang sebagai kakak dan adik. Indah sekali pertalian ini. Tidak ada dinding pembatas. Memang seharusnya dinding pembatas itu tidak ada. Walau kami dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang berbeda keyakinan, kasih sayang selalu bisa hadir dalam kehidupan. Ia mencari wujud dalam pengejawantahannya. Kami terlalu naïf di masa remaja, sehingga saling menjauh dan kehilangan begitu banyak waktu untuk mewujudkan cinta kami. Kini kami sudah sama-sama tua, cinta itu mencari wujudnya sebagai kasih sayang persaudaraan. Ketika hari semakin meninggi rombongan Punthuk Setumbu datang. Kuperkenalkan ia kepada keluargaku sebagai kakakku. Kami bersalaman. Rombongan keluargaku mandi dan bersiap untuk mengikuti paket wisata berikutnya. Ia akan kembali ke Yogya membawa rombongan anak sanggar yang sudah menantinya dari tadi.
Semarang, September 2018