Surat Sunyi 4 (Si Gila)

Si Gila
 
/1/
Selamat pagi, Kekasihku!
Apa kabar dengan matamu pagi ini?
Mata yang bening sebening embun
menggelanting di pucuk pagi
jatuh melinang di wajah dedaunan.
Dan, daun-daun itu mungkinkah aku?
 
Remah kenang yang tersisa dari pergantian
hari masih menyapa bangunku.
Secangkir kopi hangat
dan sebatang sampoerna
melengkapi pikiran-pikiranku
yang menuju engkau.
 
Terkadang aku tersenyum,
ketika menemukan diriku
terlalu asyik bermain-main dengan parasmu.
 
Ah, betapa indah pagiku sejak pertemuan itu.
Mimpi-mimpi menjadi separuh nyata
dan separuh lagi menjelma embun.
 
/2/
Tahukah engkau?
Membaca jejak senyummu
mengantarku kelana batin
teramat dalam menyelami kehidupan ini,
walau engkau tak banyak tersenyum untukku.
 
Teruslah tersenyum, sebab hanya itu jalanku
memahamimu selain tatapan kedua mata itu
hingga suatu saat pertemuan
akan memberiku kenikmatan,
adalah menyaksikan wajahku
di matamu!
Kini aku kembali
dalam persemayaman sunyi
yang kucintai, akan kukabarkan
perihalmu kepada dinding-dinding kosong
ruangan itu agar segera memajang pigura
tentang seorang wanita sederhana yang cerdas.
 
Wanita yang tak tahu bahwa
aku sedang berusaha menyingkap kegaiban
dari kesederhanaannya.
 
/3/
Dan sekalipun aku mendiami sunyi,
tetap saja merindukanmu.
Terlebih ketika engkau berbicara tentang buih
yang menepi di tapal batas.
Banyak hal yang engkau pahami,
tetapi juga ada yang luput
untuk kaupahami.
Banyak hal yang kupikirkan
karena menjagamu dari
kebengisan prasangka mendung dan terik.
 
Mungkin yang terlintas dalam benakmu
bahwa aku “jahat”. Sudilah kiranya
engkau memahami hal itu, sebab aku
selalu menjaga apa yang kukagumi
dan kucintai dengan caraku.
Apakah ini sebuah kegilaan?
 
/4/
Aku gembira karena engkau senang
dengan tulisan-tulisanku,
padahal di dalam itu ada kegilaan.
 
Sebut saja aku Si Gila, ya gila.
Karena sampai saat kutulis ini
aku berada dalam kegilaan.
Gila kata, gila bait, gila puisi, dan gila …
ah segila-gilanya aku, wajahku
masih terkadang merah
ditampar keengganan.
Enggan engkau tahu bahwa aku pun gila
 
Kekasihku, aku sangat kecewa
karena harus menutup tulisan ini
tersebab mentari mulai melesapkan
embun-embun yang kucintai itu.
Jaga kesehatanmu sebagaimana
engkau menjaga matamu!
 
(Puisi dalam Risalah Hati 2018)