Antara Kahlil Gibran dan Alvin Shul Vatrick Oleh: Bambang Oeband

Rindu …
mata pisau
penyayat kalbu
karena jiwamu
aku mengilu kasihku.
 
Karya puisi bukan lagi bacaan asing bagi para penikmatnya di permukaan jagad raya. Bahkan puisi bernapaskan kerinduan yang ditimbulkan dari kekuatan cinta, menjadi sajian menarik dari masa ke masa, tak pernah pupus, sangat digemari bagi usia baru bercinta hingga dewasa, tengah dihadapkan kendala seakan sulit untuk melepaskan dari jiwanya dan terbelenggu pada kesensitifitasan.
 
Sebuah rangkai bahasa yang mampu melarutkan jiwa dan pikiran ke alam dimensi memabukkan. Apalagi tema yang disajikan tentang perasaan dengan aroma rindu begitu menukik ke dasar samudra keresahan, begitu bergejolak.
Apabila kita meruntut jauh ke belakang bagaimana seorang penyair Kahlil Gibran berkelahiran Lebanon, begitu lunak dan mencengkeram jiwa setiap karyanya ketika membahasakan larik-larik puisi, meracik isian kerinduan begitu cermat dengan ketersiratan makna menuai hikmah dan mampu merangsang gairah, sehingga kepedihan tidak lagi merupakan sebuah siksaan batin, melainkan satu kenikmatan yang tidak melahirkan penyesalan, juga tak berdampak pada hikmah kedendaman.
 
Pada gilirannya, aku tersuguhkan kumpulan puisi “Sepisau Rindu” karya Alvin Shul Vatrick, sebagaimana aku mesti berpikir bening tanpa intervensi, mencoba menghayati alam imajinasi memberikan penilaian tanpa penghakiman. Tentulah dengan nalar serta berorientasi obyektif.
 
Bukan maksud untuk memperbandingkan siapa yang lebih hebat dan dikenal, antara karya fenomenal Kahlil Gibran dengan karya-karya puisi Alvin Shul Vatrick berkelahiran Keppe Luwu, Sulawesi Selatan berkadar lokal, tidaklah demikian adanya. Lagi pula rentang ruang dan waktunya, berjarak teramat jauh. Malahan, aku menangkap nuansa aura yang berbeda. Di mana pengungkapan Kerinduan bagi Kahlil Gibran melalui karya puisinya, masih terbilang sederhana dalam hal penggunaan idiom. Sedangkan pada karya Alvin Shul Vatrick, teramat kaya dengan kekuatan dalam memadukan perasaan hati dan pikiran begitu kental mengawinsilangkan dengan alam dan lingkungan. Seakan ia telah menepis jauh keegoan individu, melahirkan karya siratan alami. Apabila kita menerobos lebih jauh lagi, sama sekali ia tidak menyentuh tentang keberadaan Tuhan, tapi justru betapa tingginya pemahaman Alvin Shul Vatrick meletakkan keagungan Mahakarya Tuhan, di atas segalanya.
Kemungkinan besar pencapaian Alvin Shul Vatrick dalam melahirkan anak-anak karya puisinya, melalui proses teramat panjang, sejak masa kecil. Di samping keterlatihan dalam penulisan, tentulah seiring dengan perjalanan penikmatan penghayatan yang mengendap di perpustakaan mata batin, membuat kumpulan puisi “Sepisau Rindu” karya Alvin Shul Vatrick, menjadi karya kesemestaan sastra rindu mendunia dalam kekuatan Tuhan. Insya Allah, Amin.
 
Jakarta, 15 Februari 2017
Bambang Oeban
[fb_button]