Ada Puisi dalam Secangkir Kopi

 
(Antologi Puisi Grup Strafara)
Penerbit AJ
ISBN : 978-602-53705-5-7
 
Pengantar
 
PUISI DALAM SECANGKIR KOPI
 
Puisi merupakan strukturasi pengalaman. Hal ini berarti bahwa puisi tidak dapat dilepaskan dari pengalaman hidup penyairnya. Seorang penyair sebenarnya memindahkan pengalaman-pengalamannya ke dalam puisinya. Pengalaman yang dihadirkan ke dalam bentuk karya berupa puisi hadir sebagai media berbagi penyair kepada pembaca. Apa namanya jika tidak berbagi, ketika pesan-pesan yang dituliskan secara bernas ke dalam puisi berdasarkan pengalaman baik secara spiritual maupun imajinatif dan ekspresif pada akhirnya tertangkap secara mulus dan cepat maupun harus dengan berpikir penuh kerutan bagi pembaca. Lalu, dari pemahaman yang diperoleh pembaca terkonstruksilah imajinasi dan impresi terhadap pengalaman hidup penyair.
 
Pengalaman dalam proses kreatif puisi mengacu pada dua hal, yaitu pengalaman dalam penghayatan realita dan penghayatan dalam pengalaman puitik. Pengalaman dalam penghayatan realita terjadi di dalam proses penciptaan puisi berdasarkan peristiwa nyata yang direfleksikan ke dalam diksi-diksi puisi. Selanjutnya, penghayatan dalam pengalaman puitik muncul disebabkan oleh rangsangan imanjinasi penyair.
 
Tema-tema dalam puisi bermula dari berbagai fenomena, kenyataan, dan persoalan yang dihadapi penyair. Fenomena, kenyataan, dan persoalan tersebut dapat sangat konkret ataupun sebaliknya dapat sangat abstrak. Fenomena, kenyataan, dan persoalan yang dihadapi penyair misalnya kematian, cinta, penderitaan, waktu, dan sebagainya. Berbagai fenomena, kenyataan, dan persoalan tersebut Marry Louise Pratt mengatakan bahwa peristiwa ujaran bergantung pada konteksnya (contexdependent speechevent). Karena karya sastra dalam hal ini adalah puisi merupakan peristiwa ujaran yang bergantung pada konteksnya, itu berarti setiap pembaca puisi harus melalui pintu konvensi sosial bahasa sekaligus memahami bahasa puisi yang khas.
 
Tema abstrak pernah kita pakai dalam antologi bersama Strafara pada beberapa waktu lalu, yaitu tentang waktu dengan judul Menapak Waktu. Waktu adalah sesuatu yang abstrak, yang tidak habis-habisnya untuk kita bahas. Waktu adalah sesuatu yang tidak berwujud atau tidak berbentuk. Waktu sebagai seluruh rangkaian proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsungnya sebuah peristiwa. Semuanya menjadi mengacu pada bentangan sudah, sekarang, dan nanti.
 
Saat ini, sampailah kita pada tema kopi. Siapa yang tidak mengetahui kopi. Tema kopi dapat menimbulkan imajinasi yang abstra juga konkret. Dari kopi penyair dapat menyampaikan rekaman pengalaman secara nyata kepada pembaca pun menyampaikan hal-hal yang bersifat imajinasi yang berputar-putar dalam ruang jiwa penyair.
 
Kopi, hampir semua orang di dunia mengenalnya. Kebanyakan manusia di dunia ini biasa mengawali harinya dengan secangkir kopi. Hari tidak terasa lengkap jika tidak dibuka dengan secangkir kopi. Kopi adalah jenis minuman yang mampu memberikan cita rasa unik, bahkan tidak sedikit orang menjadi kecanduan karena cita rasa kopi karena adanya kandungan kafein dalam kopi itu sendiri.
Ada Puisi dalam Secangkir Kopi adalah judul besar dalam kumpulan buku puisi ini. Sebuah pemilihan tema dan judul yang sangat pekat dan padat. Kepekatan dan kepadatan puisi ini disebabkan banyaknya hal ihwal yang bisa dieksplorasi dari secangkir kopi, baik secara abstrak maupun konkret ke dalam simbol-simbol dalam larik-larik puisi.
Berbicara tentang kopi ada kearifan-kearifan lokal yang dapat kita petik juga. Kebiasaan minum kopi bagi masyarakat kita kemudian menciptakan sebuah pengikat kebersamaan yang ditandai dengan minum kopi bersama. Minum kopi bersama sebagai sebuah alasan dilaksnakannya jalinan keakraban, relationship, diskusi bahkan menjadi teman saat melaksanakan ronda malam. Inilah kearifan yang diberikan kopi kepada masyarakat kita.
 
Menjadikan kopi sebagai tema puisi merukapan sebuah daya tarik yang abadi bagi para penyair. Kopi menjadi sangat istimewa sebagai teman setia setiap menciptakan karya. Secangkir kopi yang diseduh senantiasa menghadirkan misteri di dalamnya karena dia selalu menyimpan segenap perasaan penikmatnya. Misteri kopi menjadi lahan inspirasi yang tak habis-habisnya.
 
Untuk dapat lebih menikmati kopi terkadang seseorang harus mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya dengan membeli kopi istimewa di kafe-kafe, atau membeli kopi dari berbagai macam daerah. Penikmat kopi ada yang sampai memburu kopi istimewa dengan harga mahal di setiap persinggahan yang melahirkan dirinya pada kesempurnaan palsu, artifisial. Namun, sesungguhnya ke mana pun kita mencari keistimewaan rasa kopi ada kalanya tetaplah tergantung pada siapa yang menyeduhnya. Ada jemari halus yang menyimpan ribuan kenangan dan peristiwa yang selalu dirindukan setiap kali menyeruput kopi. Di sinilah, keistimewaan secangkir kopi melahirkan bermacam-macam kenangan tampil dalam pengalaman realitas dan petualangan batin penikmatnya.
 
Objek karya puisi adalah realitas. Penyair sebagai causa prima lahirnya puisi akan memproyeksikan dirinya ke dalam karyanya. Kopi adalah objek yang bisa digali ke dalam sebuah karya. Banyak yang dapat diungkapkan melalui kopi. Kopi menjadi mediator inspirasi bagi penyair. Kopi sebagai kearifan budaya yang melahirkan peradaban menjadi tema yang menyalurkan pemikiran-pemikiran penyair dalam berbagai faktor sosial dan kultural.
 
Pengalaman realitas dan petualangan jiwani yang amat personal menjadikan masing-masing penyair memiliki sudut pandang berbeda tentang kopi. Persetubuhan antara realitas dan petualangan jiwani terhimpun dalam sebuah puisi. Pengalaman realitas menjelmakan penghayatan yang menyentuh emosi, baik emosi penyair maupun emosi pembaca.
 
Dipilihnya tema-tema yang dekat dengan pengalaman personal para penyairrnya sesungguhnya Strafara telah menggiring komunitasnya untuk lebih dekat lagi dengan realitas kehidupan yang melahirkan kecerdasan emosional hingga kecerdasan spiritual. Dengan tema kopi ini misalnya, penyair akan mengeksplorasi pengalaman realitas dan jiwani ke dalam puisinya menggunakan diksi-diksi untuk membangun kekuatan puisi.
 
Diksi-diksi yang dipilih pun dapat bertumpu pada bahasa kias (figuratif language) atau pun kata nyata (concreet word). Diksi yang bertumpu pada figuratif language akan memilih jalinan komunikasi melingkar, yaitu memberdayakan kata-kata simbol, metafora-metafora yang membuka peluang multiinterpretasi atau multitafsir seluas-luasnya kepada pembaca. Sebaliknya, penggunaan diksi yang bertumpu pada concreet word akan membuka peluang terciptanya puisi-puisi transparan yang mudah ditafsirkan.
 
Saat penyair meletakkan pilihan kepenyairannya sebagai upaya menampilkan realitas-realitas sosial pada umumnya dia akan meminimalkan penggunaan figuratif language, meminimalkan simbol-simbol personal atau sedikit mungkin menggunakan metafora-metafora yang rumit. Dengan demikian, muncullah puisi-puisi yang cenderung menampilkan ekspresi yang lugas dan eksplisit. Apakah ini jelek? Tidak semua yang lugas dan eksplisit itu jelek dan yang gelap penuh dengan bahasa kias itu baik. Karena, pada saat puisi dipakai untuk bicara dan menyuarakan kritik belum tentu dengan kelembutan mampu menyentuh nurani. Maka, digunakanlah pendekatan yang transparan bahkan telanjang. Dengan demikian, puisi tidak lagi ekspresi estetik semata namun menjadi alat perjuangan.
 
Apakah dengan tema kopi ini member Strafara dapat menjemput dan menampilkan imajinasinya ke dalam ruang publik? Ini menjadi sebuah pertanyaan sekaligus tantangan besar bagi member komunitas ini. Kita memahami bahwa sistem karya puisi berkaitan erat dengan sistem sosial budaya sehingga baik eksplisit maupun implisit, puisi selalu berupaya menggambarkan konstruksi sosial budaya yang sedang terjadi. Apakah member akan menyentuh ruang itu ataukah member akan tetap terus asik dengan dirinya sendiri? Inilah tantangan karena puisi sebagai refleksi, catatan, dan tafsiran segala perubahan kehidupan.
 
Kopi adalah simbol rasa pahit dan hitamnya sebuah kepekatan. Rasa pahit akan menjadi manis ketika diberikan sedikit gula. Kepekatan hitam akan menjadi warna lain yang lembut dan indah saat ditambahkan sedikit susu atau cream. Inilah bentangan kehidupan kita yang tidak semestinya kita nikmati secara melulu apa adanya namun akan ada cara lain untuk menikmati dan menciptakan keindahan dengan memberikan rasa dan warna lain. Maka, segalanya akan berubah menjadi lebih nikmat, indah, dan penuh cita rasa dengan keharuman yang berbeda pula. Meskipun demikian, ada kalanya kita harus kembali menikmati kepekatan hitam dan pahitnya dengan tetap mempertahankan keaslian aromanya agar tetap mampu mengembalikan kita pada muasal kehidupan dan bagaimana sesuatu itu diciptakan dengan segala fungsinya tidaklah pernah sia-sia dengan penuh maksud. Alam diciptakan dengan simpanan kearifan dan fungsi yang melahirkan peradaban manuisa.
 
Demikianlah Strafara mengajak penyair untuk terus merefleksikan realitas yang pahit dan hitam dalam karya-karyanya untuk memberikan kesadaran bagi siapa saja yang membacanya bahwa ada realitas bertebaran di sekeliling kita. Kumpulan puisi ini menunjukkan bahwa melalui puisi, penghayatan manusia terhadap realitas dapat menjadi intens. Puisi-puisi dalam buku ini juga dapat dijadikan contoh bagaimana kehadiran puisi dapat secara jujur menghadirkan realitas-realitas sosial dan ketimpangan-ketimpangan sosial yang dapat menimbulkan kegelisahan yang memaksa kita untuk menyikapinya secara terbuka, kritis, dan penuh kematangan. Namun demikian, berbagai ragam cara pandang penyair dalam merefleksikan realitas-realitas kehidupan semuanya mengajak kita menuju muara kontemplasi yang sama, yaitu introspeksi untuk lebih memaknai kehidupan.
 
Januari 2019
Admin Grup Stafara
 
Penulis :
 
 Ritual Kopi
 Saksi Kopi
 Kopi Hitam
 Malam Semanis Kopi
 Perempuan Peracik Kopi
 Penyair dan Dua Butir Kopi I
 Penyair dan Dua Butir Kopi II
 Secangkir Kopi dan Engkau
 Kopiku Malam Ini
 Hujan Januari
 Pagi Ini
 Siang yang Hilang
 Pemahat Batu di Kaki Bukit
 Ada Rindu
 Epilog Secangkir Kopi
 Kesunyian Kopi
 Meneroka Kembali Ladang Kopi
 Mata Sayu dan Secangkir Kopi
 Catatan Kehilangan
 Secangkir Kopi Beraroma Cinta
 Secangkir Kopi, Sebaris Puisi yang Belum Jadi
 Membaca Indonesia dari Secangkir Kopi
 Kamu dan Kopi
 Pesan Secangkir Kopi
 Kau dan Kopi
 Kopi Kerinduan
 Kopi Pun Bersaksi
 Kopi Cinta
 Dialog Kopi Kepedihan
 Pencari Tuhan dan Secangkir Kopi
 Mantra di Segelas Kopi
 Risalah Kecupan di Wajah Kopi
 Segelas Kopi dan Papan Catur
 Sepotong Pesan dalam Secangkir Kopi
 Di Kedai Kopi Orang Padang
 Anak-Anak Kata
 Riwayat Singkat
 Cangkir Sunyi
 Secangkir Arabika Tanpa Gula
 Orkestra Kopi
 Di Sungai Thames Waktu Malam
 Tempias
 Kenikmatan Cinta di Secangkir Kopi
 Senja, Kopi, dan Engkau
 Kopi dan Kenikatannya
 Kopi dan Teh Hangat
 Di Hitam Kopi Kugores Kenangan
 Antara kopi dan Titik Nadir
 Memetik Hening
 Kita dan Aroma Kopi
 Sebutir Biji Kopi
 Kemunafikan Kopi
 Kopi Tua
 Musim Kopi Manis
 Butiran Kopi
 Peramu Kopi Cinta
 Secangkir Kopi
 Kopi Kehidupan I
 Kopi Kehidupan II
 Secangkir Kopi
 Kopi Tak Bergula
 Ada Puisi dalam Secangkir Kopi
 Rahasia Memantul di Bola Matamu
 Secangkir Kopi Pahit
 Sajak Kehilangan
 Ada Cerita dalam Secangkir Kopi
 Kidung Kopi
 Teman Malam
 Debat dalam Secangkir Kopi
 Satu Seruput Kopi
 Labirin Hatimu
 Terusik
 Terkikis
 Aku, Kau, dan Kopi
 Jejak Kopi Kita
 Minuman Luar Biasa
 Kopi Teman Setia
 Berkah Kopi
 Aroma Kopi Pahit
 Menuju Pulang
 Hikayat Kopi
 Nilam Sunyi
 Aku, Kopi, dan Sepi
 Ampas
 Kesaksian Atas Secangkir Kopi
 Ayat-Ayat Kopi
 Asap Kopi
 Kopiku, Puisi yang Terseduh
 Kopi Susu
 Kopi Pengobar Rasa
 Kopi Asmara
 Kopi Malam
 Kopi
 Ada Kopi Ada Kamu
 Elegi Kopi Pagi
 Mana Kopiku
 Kenangku Utuh Padamu
 Aroma Kopi Jahe
 Setengah Cangkir Kopi Dingin
 Ampas Kopi Mulai Mengering
 Kopi Hitamku
 Balada Penyaji Kopi
 Secangkir Kopi
 Merindukanmu (Kopi)
 Tanpamu Aku Tak Hampa
 Jejak Kopi Sunyiku
 Tergores Kenangan
 Petani dan Ladang Kopi
Wiwit Purwanti
 Seperti Kopi Hitamku
 Kopi dari Timur
 Pecandu Kopi
 Elegi Kopi Pagi
 Ranum Mimpi Secangkir Kopi
 Kandas Seluruh Nikmatmu
 Ampas Kopi Terakhir
 Antara Kopi dan Kekasih
 Bermain dengan Pahit
 Kopi Menjadi Senjataku
 Mengadu pada Kopi
 Seduhan
 Kopi dalam Secangkir Tanah Air
 Kopi Air Mata
 Secangkir Kopi dan Kecupan Malam
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *