Analisis Semiotik dalam Puisi Melati di Kesunyian Karya Alvin Shul Vatrick (Oleh : Achnas J. Emte)

Menulis puisi yang bermutu membutuhkan syahwat kreatif yang tinggi sehingga puisi yang tercipta mampu mencapai puncak orgasme yang tidak sekedar menyembulkan larik-larik keindahan dan sublimasi kenikmatan saat penyair menuliskannya dan pembaca menyelaminya, juga memberikan pancaran makna yang luas dan dan mendalam. Dengan kata lain, puisi berkualitas hanya akan tercipta melalui proses kreatif . Menurut Prof. Dimas Arika Mihardja aspek-aspek kreatif itu meliputi kedalaman (intencity), keutuhan (unity), keterkaitan (coherency), keserasian (harmony), keaslian (otenticity) dan kebaruan (novelity). Aspek-aspek kreatif yang sesungguhnya berlaku umum dalam karya seni ini menjadi penting diaplikasikan di ranah puisi sebagai rujukkan pendekatan penulisan puisi kreatif.
 
Aspek Kedalaman (intencity) merujuk pada makna adanya epport atau kinerja pemikiran dan imajinasi penyair dalam meramu ide, gagasan atau tema. Kinerja fikir yang imajinatif dan kontemplatif dalam proses penulisan akan memungkinkan hasil yang tidak biasa sehingga puisi yang ditulis akan memberikan performa yang sarat dengan estetika dan makna-makna yang melampaui batas keumuman. Aspek keutuhan bisa dimaknai bagaimana puisi mampu menyajikan bentuk, isi atau pesan nilai dan gaya bahasa yang integral. Variabel-variabel itu berperan secara organik dan fungsional tapi tetap membangun performa dan makna yang sistemik dalam tubuh puisi. Aspek keterkaitan menunjukan adanya arah yang linier dan koheren dalam relasi antara makna kata, prase/kalimat/larik/bait . Aspek keserasian dapat dianalisa melalu keselarasan bunyi dan irama/rimanya. Adapun Aspek keaslian dilihat pada kadar originalitas puisi sebagai karya murni pribadi atau hasil plagiasi. Sedangkan aspek kebaruan dapat dideteksi melalui tiphografi, aktualitas isi dan isu kekinian atau trend mode.
 
Ketika saya membaca puisi dengan judul : Melati di Kesunyian”, karya Alvin Shul Vatrick, saya segera menangkap adanya proses kreatif, terutama dalam memilih dan menempatkan diksi di setiap prase, kalimat, larik hingga bait-baitnya yang kemudian melahirkan tanda-tanda makna (semiotika) yang sublim. Setelah saya koneksikan dengan aspek-aspek kreatif, pemilihan diksi masuk dalam kriteria aspek keterkaitan. Menurut saya pada sis ini , Alvin Shul Vatrik mampu meramu diksi-diksi itu sebagai “entry poin” untuk membangun perfoma puisi yang elegan secara anatomis diiringi dengan kemunculan semiotika yang sangat prismatik. Pada tarataran semiotik inilah saya ingin mengkaji puisi ini lebih dalam dengan mengacu pada teori awal semiotik yang menurut Charles Sanders Perirce (1990), teks puisi hakikatnya menyajikan kata-kata sebagai tanda makna yang tidak berdiri sendiri karena dibentuk oleh tanda lain. Apakah itu karena ikonisitas (kemiripan), indeksikalitas (keberurutan) atau simbolisitas (berdasarkan konvensi).
 
Sebelum mengkaji lebih rinci, mari kita abaca puisi karya Alvin Shul Vatrick ini!
 
MELATI DI KESUNYIAN
Karya: Alvin Shul Vatrick
 
Terdiam di lembah sunyi berakrab lenguh angin gerimis
Tenggelam engkau dalam lengkung pelangi
Sepi tak resah, jingga menanti senja sebelum bulan cahayakan mimpi
 
Kupetik kisah dari matamu, riwayat daun gugur dari ranting
Embun kau peram di wangi kelopak, ingin kuminum sebulir saja
Sebulir paling bening.
 
Ketika lirih musim berebut masa terjatuh menimpa hening daun,
jaga putihmu meski kuyup terkulai
Usah melayat pilu kepada hikayat,
“Engkau melati yang mengakar di antara rimbun mawar dan kemboja.
Jangan terasing dari minda!”
 
Melati di kesunyian …
Lihatlah kupu-kupu yang bersengketa dengan hujan
hingga rela patah sayap hanya untuk mengeja wangimu
Maka tersenyumlah, biar rahimmu terbaring pada silam napasku
Mari menyimpuh sejumput doa, “Tuhan, jauhkan ajal dari rindu!”
 
Puisi “Melati di Kesunyian’ ditinjau dari aspek semantik saya kategorikan sebagai puisi prismatik bahkan cenderung mengarah ke “gelap” . Jika memahami nya secara sepintas kita hanya akan meraba ruang gelap. Oleh karena diperlukan “suluh analisis” yang bisa mencahayai kegelapan itu dan kita akan melihat satu persatu “benda” yang menunjukkan tanda makna, kita sedang berada di mana.
 
Dengan hanya membaca judul “Melati di Kesunyian” kita belum bisa melihat tanda makna itu muncul bahkan hanya untuk menebak tema yang diusung penyair pun masih terlalu sulit. Paling kita hanya bisa menduga bahwa melati itu diprediksi sebagai sebuah metafora. Melati adalah sejenis bunga yang dominan putih dan baunya sangat harum, cenderung menyengat. Bunga identik dengan sesuatu yang feminim, maka lebih tepat rasanya jika melati itu dimaknai sebagai “perempuan” dan “kesunyian” berarti sendirian.
 
Melangkah pada bait pertama, penyair menulis larik-larik berikut : Terdiam di lembah sunyi berakrab lenguh angin gerimis./Tenggelam engkau dalam lengkung pelangi/, Sepi tak resah, jingga menanti senja sebelum bulan cahayakan mimpi. Pada bait ini menjelaskan perempuan itu menyendiri di suatu tempat yang hampa. Hidup menyendiri harus dpilih meski dia harus meninggalkan ruang-ruang yang penuh dengan beragam keindahan sehingga kesepian itu tidak membuatnya resah karena ada yang menguatkannya yaitu sebentuk mimpi yang ia harapkan mewujud di suatu waktu.
Pada bait pertama tersebut belum didapati tanda makna yang mengarahkan pada tema yang utuh, sebuah bait yang berkisah tentang seorang perempuan yang menyendiri hanya berteman dengan mimpi.
 
Bait berikutnya, / Kupetik kisah dari matamu, riwayat daun gugur dari ranting/Embun kau peram di wangi kelopak,/ ingin kuminum sebulir saja/Sebulir paling bening. Dalam bait ini, aku lirik menjelaskan ada kisa sedih yang ia tangkap dari gadis itu berupa sebuah peristiwa kejatuhan. “Riwayat daun gugur dari ranting” semotika yang sangat estetis untuk menganalogikan kejatuhan itu dan semakin jelas ketika dikaitkan dengan “embun kau peram di wangi kelopak” yang berarti ada tangis yang tertahan dalam kelopak mata indahnya yang selalu dirindukan oleh aku lirik. Disini mulai terkuat bahwa peran aku lirik tidak hanya berperan sebagai penutur kisah, tapi memiliki hubungan tertentu dengan “melati di kesunyian” itu. Bahkan dalam bait ketiga semakin jelas indikasi hubungan itu dalam larik-larik: Ketika lirih musim berebut masa terjatuh menimpa hening daun, /jaga putihmu meski kuyup terkulai/
Usah melayat pilu kepada hikayat,/”Engkau melati yang mengakar di antara rimbun mawar dan kamboja. Jangan terasing dari minda!”. Pada bait ketiga, aku lirik terlibat lebih jauh dalam kehidupan Sang Melati dengan memberikan motivasi agar perempua itu tetap teguh memegang jati diri meski dalam keadaan lemah dan tidak mengeluh dalam kepedihan yang ia jalani. Selanjutnya aku lirik mencoba memberi kekuatan bahwa tak perlu bimbang meski berada diantara dua pilihan apalagi kehilangan kebahagiaan yang tersurat dengan jelas pada larik, ,/”Engkau melati yang mengakar di antara rimbun mawar dan kamboja. Jangan terasing dari minda!”.
 
Tema puisi ini akhirnya semakin jelas karena adanya semiotika yang indeksikalitas (keberurutan), dimana setiap prase, kalimat, larik maupun baitnya secara sistematik merangkum tanda-tanda makna itu sehingga menjadi kesatuan makna yang integrative dan resiprokal. Maka ketika ketika kita baca bait terakhir / Melati di kesunyian …/Lihatlah kupu-kupu yang bersengketa dengan hujan/hingga rela patah sayap hanya untuk mengeja wangimu/Maka tersenyumlah, biar rahimmu terbaring pada silam napasku/
Mari menyimpuh sejumput doa, “Tuhan, jauhkan ajal dari rindu!”/, disitu akhirnya terungkap ide cerita dan tema yang utuh. Bait ketiga adalah penjelas pamungkas, bahwa perempuan yang memilih sendiri itu tetap dipuja bahkan banyak para lelaki yang siap berkorban dengan ujian terberat sekalipun untuk mendapatkannya. Sehingga sekali lagi aku lirik memberikan support agar perempuan itu bangkit dan mendapatkan kebahagiaan silam yang begitu dirindukan bersama aku lirik.
 
Secara sistemik bisa disusun sebuah sinopsis kesatuan makna dari tebaran semiotika pada puisi ini bahwa Melati di Kesunyian yang dimaksud adalah seorang perempuan cantik (versi aku lirik) yang lebih memiilih hidup menyendiri setelah ia mengalami kejatuhan. Popularitasnya tenggelam dalam glamournya kehidupan, membuat ia semakin terjatuh. Aku lirik sebagai sahabat atau (mungkin) mantan kekasih masa lalunya terus memberikan motivasi dan keyakinan bahwa perempuan itu semetinya mengakhiri kesendiriaannya karena begitu banyak laki-laki yang memuja dan ingin mendapatkannya.
 
Kontruksi semiotika pada puisi ini semakin sempurna, karena memiliki seluruh unsur semiotik. Pertama unsur ikonisitas atau kemiripan tanda makna dengan makna objek sebenarnya. Metafora “Melati di Kesunyian” memiliki kecocokan dengan “perempuan dalam kesendirian” yang mungkin akan banyak ditafsirkan oleh pembaca. Kedua, unsur indeksikilitas atau keberurutan makna yang tersusun dari judul sampai larik terakhir yang tetap terhubungan dan saling memperjelas. Begitupun unsur yang ketiga, simbolisitas dapat dilihat dengan jelas seperti kata melati dapat dipahami secara umum tanpa reseserve oleh halayak sebagai symbol seorang perempuan.
 
Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa memahami tanda makna pada puisi prismatik seperti “Melati di Kesunyian” perlu pemaknaan yang hermeunetik. Pada konteks ini, pembaca yang ingin merayakan keindahan dalam puisi tidak hanya cukup membaca secara mekanistik dan matematis tapi lebih jauh harus imajinatif dan kreatif. Hal ini yang kadang menjadi dilema, ketika puisi disajikan dalam sembulan-sembulan makna prismatik, ia hanya akan dinikmati kelompok tertentu seperti pecinta sastra, penyair dan kritikus sastra, tapi sulit dijamah nilai-nilai sublimnya oleh pembaca awam. Inilah yang kemudia kerapkali menjadi bahan sindiran bahwa puisi semakin berjarak dengan khalayak. Penyair menulis puisi hanya sebatas menikmati proses kreatif membangun keindahan dan makna-makna yang dalam, berasyik masuk dengan puisinya sendiri atau hanya merespon penyair lain dan melupakan khalayak awam yang selalu gigit jari ketika mendapatkan puisi yang susah di tembus maknanya.Oleh karena itu perlu kearifan dalm proses kreatif dalam menulis puisi.
 
Selamat bersemiotik, bercumbu dengan tanda-tanda makna !
 
Jakarta, 4 Februari 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *