Bahasa dalam Puisi Alvin Shul Vatrick (Sebuah Analisis Struktural-Semiotik) Oleh: Margaretha Wida

 1. Proses Kreatif
 
Puisi lahir atau tumbuh dalam iklim tertentu, situasi dan kondisi budaya. Si penulis mencerap segala rupa dan jenis kesan sesuai dengan kepekaan budaya manusia, lalu memberinya bentuk. Maka penulisan puisi dilakukan oleh seseorang dalam iklim budaya, iklim sastra (Sitor Situmorang dalam Pamusuk Eneste, Ed. 1984:3). Dengan kecanggihan teknologi komunikasi masa kini, sastra pun bisa berada di dalam dunia cyber. Seseorang mempunyai banyak kesempatan untuk menjadi penyair, berkomunikasi dengan penyair-penyair baik yang senior maupun yang pemula, baik yang tinggal sedaerah maupun di luar daerah. Komunikasi dan proses belajar bersastra pun dapat dilakukan melalui jaringan komunikasi tersebut. Iklim seperti ini memberi kesempatan banyak orang menjadi penyair. Siapa pun bisa menulis puisi. Setelah karya dibuat, diunggah ke media sosial, secepat itu pula karya sampai pada para pembacanya. Orang dapat berkomentar tentang puisi yang diunggah, mengatakan apakah puisi itu bagus atau tidak. Bahkan ketika kemudian si penulis membacanya lagi dan mempertimbangkan komentar-komentar pembacanya, dapat juga melakukan perubahan bila dirasa perlu.
 
Penulisan, atau penciptaan puisi memang menyangkut ilham dan ide. Banyak ide bisa ditemukan dalam kehidupan kita. Dari nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan, kejadian-kejadian di sekitar, sampai pada pengalaman pribadi atau pengalaman batin, dapat menjadi ide penulisan. Agar ide-ide tersebut dapat dibaca oleh orang lain, perlu diungkapkan dan dikomunikasikan lewat bahasa. Namun tidak semua ide berhasil dituangkan menjadi puisi. Ini tergantung pada kepekaan, keterbukaan, kemampuan teknis seseorang dalam iklim sastra.
 
Seseorang perlu sering bergaul dengan sastra untuk bisa mengolah ide yang dimilikinya menjadi puisi. Walaupun sejak kecil sebenarnya kita sudah hidup dalam iklim sastra, mulai dari mendengarkan cerita-cerita atau dongeng sebelum tidur, pelajaran bahasa dan sastra di sekolah dan kegiatan-kegiatan berkesenian di lingkungan masyarakat, terlebih di dalam masyarakat yang masih menjaga tradisi sastra lisannya, namun kemampuan menulis puisi memerlukan usaha yang lebih serius. Kegemaran membaca karya sastra baik prosa maupun puisi dari para pengarang yang sudah mempunyai peran dan pengaruh terhadap dunia sastra, akan memperkaya wawasan literer seseorang. Dan itu akan memberi dorongan untuk mencipta puisi pula. Terkadang puisi tercipta tanpa disengaja dan tidak pada waktu yang terencana. Tiba-tiba saja datang sebagai ilham, berupa kata-kata yang terngiang-ngiang setelah menyaksikan atau melihat suatu benda atau peristiwa. Begitu si penyair berkonsentrasi, mengalirlah kata-kata atau kalimat-kalimat yang lain di kertas membentuk sebuah puisi. Kata atau kalimat-kalimat itu kemudian dibaca, diolah, disusun kembali dengan memperhatikan konvensi sastra. Dan lahirlah sebuah puisi. Tentu dalam hal ini bakat si penyair sangat berpengaruh, selain juga wawasannya terhadap hal-hal di sekitarnya.
 
Wawasan penyair terhadap masalah-masalah baik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat atapun pengalaman batin sangat dipengaruhi oleh kepekaan dan proses pembelajaran penyair. Wawasan itu akan memunculkan tema-tema dalam puisinya. Tema-tema yang muncul biasanya tema-tema sezaman (kontemporer) di masa penyair. Seperti misalnya tema-tema khas Barat (kota, individualisme) menjadi tema puisi Chairil Anwar pada tahun 45’an, melampaui tema-tema agraris puisi-puisi zaman Pujangga Baru.
 
Tulisan ini akan melihat bagaimana Alvin Shul Vatrick, penyair muda dari Luwu, mengungkapkan ide-ide kepenyairannya lewat bahasa puisi. Tema-tema apa yang diangkat sebagai ide puisi dan seberapa dalam kekuatan yang menyertai perasaan penyair ketika sedang mengolah idenya, dapat tertangkap lewat bahasa yang menjadi medianya.
 
2. Fungsi Puitik Bahasa
 
Roman Jakobson (dalam Teeuw 1988:53) mengatakan bahasa dalam pemakaiannya dibedakan menjadi enam fungsi yaitu emotif, referensial, puitik, phatik, kanotif, dan metalingual. Fungsi referensial kata mengacu pada arti yang sesuai dengan mimetik, misalnya kata seru ‘aduh’ dalam bahasa Indonesia merupakan unsur bahasa yang sistematik. Kata tersebut dapat diucapkan menjadi “Aduh!” dan berfungsi sebagai ekspresi perasaan, atau fungsi emotif. Jika kalimat itu diungkapkan pada seseorang sebagai lawan bicara maka bahasa berfungsi phatik. Dan bila si pembicara meminta perhatian dengan ungkapannya itu, maka kalimat “Aduh!” mengemban fungsi kanotif. Oleh karena itu ia menjelaskan pula, fungsi –fungsi itu tidak biasa terdapat secara terisolasi dalam pemakaian bahasa. Biasanya sebuah di antara enam fungsi itu dominan, tetapi fungsi-fungsi yang lain pun selalu hadir seperti contoh di atas. Fungsi emotif mengungkapkan rasa tetapi dalam pemakaiannya dapat sekaligus menyertakan fungsi phatik bila ekspresi itu diungkapkan dalam situasi komunikatif dengan seseorang atau pembaca.
 
Salah satu di antara keenam fungsi itu adalah fungsi puitik. Dalam fungsi puitik yang terpenting bukan referensi (acuan di luar ungkapan bahasa), tetapi kata. Pemakaian bahasa menjadi pusat perhatian walaupun fungsi-fungsi yang lain tentu juga ada di dalam puisi. Referensi yang pada prinsipnya menunjuk pada sesuatu di luar ungkapan bahasa harus diambil berdasarkan pesan dalam puisi. Misalnya larik ‘aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang’. Kata ‘aku’ tidak seperti dalam bahasa sehari-hari, mengacu pada pembicara, melainkan mengacu pada seseorang yang ‘keakuannya’ dijabarkan atas bahan puisi itu, pemaknaannya berdasarkan pada kemampuan si pembaca. Apalagi setelah kata ‘aku’ dimasukkan dalam konteks ‘binatang jalang’ sebagai metafora, maka dapat menimbulkan ambiguitas ‘makna ganda’.
 
Dalam bahasa puitik terdapat ekuivalensi (kesepadanan), terwujud dalam gejala yang sangat beranekaragam. Ekuivalensi bisa terdapat dalam bunyi, bentuk rima, aliterasi, asonansi, tatabahasa (morfologi, sintaksis) dan semantik. Sebagai contoh ekuivalensi bunyi dan rima terlihat dari kutipan berikut.
 
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh.
 
Namun sebagai varian terhadap ekuivalensi, juga sering terjadi penyimpangan, misalnya penyimpangan terhadap rima yang dipergunakan untuk memperkuat efek estetik. Di sini terjadi ketegangan antara aturan (konvensi) dan inovasi, seperti banyak terlihat pada puisi Indonesia modern.
 
Ketegangan juga terlihat pada penyimpangan terhadap unsur konseptual. Bahasa, sebelum dipakai oleh penulis sudah merupakan sistem tanda, sistem semiotik. Setiap tanda, unsur bahasa itu, mempunyai arti tertentu yang secara konvensi disetujui dan diterima oleh anggota masyarakat bahasa yang bersangkutan dan mengikat mereka. Sutardji Calzoum Bachri memberontak terhadap kungkungan perlengkapan konseptual yang terasa seakan-akan dipaksakan dan membatasi kebebasan penciptaannya. Dia ingin, malah harus bebas dari ‘penjajahan pengertian’, bebas dari beban ide-ide. Dan lahirlah puisi-puisi kontemporer Sutardji Calzoum Bachri. Untuk memahami puisi-puisinya diperlukan penafsiran khusus yang memerlukan keahlian tersendiri. Sebab kata-kata dalam puisinya yang tanpa pengertian itu sudah bukan bahasa lagi dan kehilangan fungsi komunikatifnya.
Padahal kata Teeuw (1988:97) sistem kemaknaan sebuah bahasa itu cukup lincah, luwes dan longgar, penuh dinamika sehingga memberi segala kemungkinan untuk dimanfaatkan baik secara kreatif maupun orisinal. Dari segi konseptual pun demikian. Pengertian yang terkandung dalam setiap kata dapat dimanfaatkan oleh penyair sedemikian rupa untuk mengungkapkan ide-ide kreatifnya.
 
Pendekatan puisi dengan melihat fungsi puitik bahasanya menjadi kerangka analisis struktural sebuah karya sastra. Pendekatan ini dikritik karena Jakobson hanya memperhatikan aspek linguistik dalam artian yang terbatas dengan mengabaikan aspek-aspek lain seperti aspek pragmatik dan eskpresif. Kedua aspek tesebut menyangkut peranan pembaca dan penulis. Dengan demikian pendekatan struktural menghilangkan relevansi sosial karya sastra.
 
Yang menentukan makna sebuah puisi ialah pembacanya, kata Michael Riffaterre (Teeuw 1988:80). Ia menambahkan, bahwa dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki pembaca dapat menentukan apa yang relevan dan fungsi puitik yang ada di dalam puisi. Analisis linguistik tidak cukup, lagipula kadang melampaui batas kemampuan pembaca. Riffaterre menonjolkan puisi sebagai sarana komunikasi yang sama dengan konteks harapan pembaca.
 
Harapan itu ditentukan oleh segala sesuatu yang pernah dibaca oleh pembaca sehingga puisi mendapat makna dalam konteks keseluruhan. Kata-kata atau kalimat dalam puisi mendapat makna dalam kontras dengan arti leksikalnya. Ketika membaca puisi, arti (meaning) yang kita berikan sesuai dengan mimetik atau fungsi referensialnya. Arti ini harus ditingkatkan menjadi makna berdasarkan penafsiran, entah pertentangan atau penyimpangan dari arti mimetiknya. Kata-kata di dalam puisi mendapat makna justru dalam kontras dengan arti biasa. Ketegangan antara arti mimetik (leksikal) unsur bahasa dan makna semiotik (significance) menjadi aspek penting dalam memahami suatu puisi.
 
Karena telaah sastra Indonesia modern lebih banyak memperhatikan struktur selain hal-hal di luar sastra, maka pendekatan struktural dan semiotik sering diterapkan secara bersamaan. Fungsi puitik Jakobson memberi kemungkinan untuk membatasi karya sastra terhadap tulisan atau ungkapan lain. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menemukan kekhasan pemakaian bahasa dalam karya sastra. Sampai di mana struktur bahasa sebagai sistem tanda mempengaruhi atau mengikat karya sastra sebagai sebuah ciptaan bahasa.
 
Puisi merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi masyarakat sastra. Dalam karya sastra arti kata-kata ditentukan oleh konvensi sastra, dengan demikian arti yang terdapat di dalam bahasa yang digunakan sebagai media puisi akan mempunyai arti baru yang disebut makna. Untuk mendapatkan makna utuh arti-arti leksikal bahasa dalam puisi itu perlu dikaji dalam kaitannya dengan suasana, perasaan, intensitas arti, arti konotasi,daya liris dan pengertian yang ditimbulkan oleh tanda-tanda kebahasaan.
 
3. Analisis Struktural – Semiotik terhadap Puisi-puisi Alvin Shul Vatrick
 
Pendekatan struktural dapat dilaksanakan untuk menganalisis puisi yang merupakan keseluruhan, yang unsur-unsurnya saling erat berjalinan. Puisi dikaji struktur dan unsur-unsur yang membangunnya berikut sarana-sarana kepuitikan yang terdapat di dalamnya. Unsur-unsur yang membangun sebuah puisi adalah imaji, simbol, pigura bahasa (figurative language), unsur bunyi, rima, irama (ritme), kata menyangkut kosa kata, bentuk kata dan kalimat, pilihan kata (diksi) dan faktor-faktor kebahasaan yang lain. Akan tetapi seseorang tidak akan dapat memahami puisi secara sepenuhnya tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna. Oleh karena itu pendekatan semiotic pun dilakukan secara bersamaan. Semua unsur pembangun puisi akan membantu pembaca menemukan tema apa yang ingin diungkapkan penyair.
 
Untuk memudahkan pemahaman terhadap puisi maka dilakukan parafrase terlebih dahulu. Parafrase di sini dibuat untuk memberi ancar-ancar makna puisi, bukan makna mutlak puisi yang dianalisis. Parafrase yang dibuat hanya merupakan salah satu kemungkinan penafsiran mengingat bahwa puisi bersifat polynterpretable, tafsir ganda.
Sesuai dengan judul esai, struktur yang dianalisis dibatasi pada bahasa yang yang digunakan penyair membangun puisinya. Analisis meliputi kata, termasuk di dalamnya kosa kata, kalimat, diksi dan faktor-faktor kebahasaan yang lain. Selain itu juga ekuivalensi yang terdapat di dalam bahasa puitik meliputi aliterasi, asonansi, rima dan sebagainya. Sejauh mana penyair menerapkan prinsip ekuivalensi tersebut, atau adakah penyimpangan dilakukan untuk memperkuat nilai estetis?
Selanjutnya analisis semiotik dilakukan untuk menemukan makna yang terkandung di dalam puisi dan pesan penyair pada pembaca. Analisis dilakukan terhadap dua puisi Alvin Shul Vatrick yang diambil dari kumpulan Wasiat Sunyi yaitu (1) DAN DOA BERSIMPUH dan (2) WASIAT SUNYI 1.
 
Puisi 1 DAN DOA BERSIMPUH
 
bulan separuh raga
engkaulah pemukau mata
menggelayut di bawah langit sendu
bagai gerimis hendak jatuh
luruh melepas kasih
 
bulan separuh raga
kupetik tangkai cahayamu
penerang dalam ruang-ruang rindu
biar tenang segumpal hati
malu sembunyi dosa
 
bulan separuh raga
ingin kucium keningmu
seperti sujudku di malam syahdu
ketika kukecup sajadah
dan doa bersimbuh
 
di tingkap langit kuketuk pintu-Nya
 
Luwu, 7 September 2018
 
Puisi 2 WASIAT SUNYI 1
 
mari menjadi rindu
di antara tebing-tebing sunyi
ketika bayang-bayang sibuk menerka hitam
putih tak mesti engkau atau aku
biar segala menjadi kita
mimpi usah dicari harapan jangan ditanya
karena langit tak pernah ragu kepada mendung
yang meneteskan butir-butir gerimis
 
mari menjadi senyum
di antara denting-denting gelisah
ketika malam-malam sibuk menganyam sepi
luka tak mesti engkau atau aku
biar segala menjadi khazanah
kecewa usah dimaki perih jangan disesal
sebab nasib berjalan pada titian waktu
yang mengajarkan makna sebuah keikhlasan.
 
mari menjadi karang
di antara puing-puing badai
ketika samudra sibuk menenangkan ombak
pasrah tak mesti engkau atau aku
biar segala mengikut kodrat
buruk usah dicaci baik jangan dipuji
sempurna tak ada tanpa kekurangan
 
mari menjadi doa
di antara keping-keping lupa
ketika jiwa-jiwa sibuk membilang dunia
dosa tak mesti engkau atau aku
biar segala menjadi bakti
khilaf usah disangkal budi jangan diumbar
sebab akan tiba masa di mana semua perbuatan
akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya
 
Luwu, 15 April 2018
 
a. Kata dan Pigura Bahasa
 
Puisi modern pada umumnya ditulis dalam bahasa Indonesia walaupun dalam kenyataannya bagi sebagian besar penyair, bahasa Indonesia bukan bahasa pertama atau bahasa ibu (mother thounge) mereka. Para penyair menggunakan kata-kata sehari-hari secara istimewa. Kata merupakan unsur dasar bagi baris persajakan, kata-kata tersebut menjadi sarana penyair menyampaikan simbol, pralambang, atau bahkan isi puisi itu sendiri. Dalam kedua puisi di atas, Alvin Shul Vatrick memanfaatkan kata-kata sehari-hari untuk membentuk puisi-puisinya. Kata-kata bulan, langit, gerimis, segumpal hati, sajadah, senyum, tebing, malam, luka, karang dan lain-lain dideskripsikan untuk menyatakan pengertian secara simbolis. Kata-kata tersebut ditampilkan dalam bentuknya sebagai metafora baru seperti bulan separuh raga, tangkai cahaya (bulan), segumpal hati, denting-denting gelisah, puing-puing badai.
 
Kata-kata yang digunakan penyair tidak sama artinya dengan kata-kata yang terdapat di dalam kamus. Kata-kata ini sudah diolah penyairnya dengan memasukkan perasaan dan sikapnya terhadap sesuatu. Kata-kata ini bersifat stilistik, mengandung jelmaan rasa dan cita penciptanya. Dengan puisinya, penyair ingin agar pembaca turut merasakan dan mengalami seperti apa yang dirasa dan dialaminya.
 
bulan separuh raga
kupetik tangkai cahayamu
penerang dalam ruang-ruang rindu
biar tenang segumpal hati
malu sembunyi dosa
 
Dalam bait puisi itu terpancar sikap dan perasaan si penyair. Ia yang sedang terpukau memandang bulan yang berbentuk separuh bulat pada malam hari, merasa ingin memetiknya. Pada waktu itu bulan tampak sebagai suatu benda yang menggelayut di langit, dan karena bukan purnama jadi bentuknya bersudut. Dan sudut yang tampak seperti tangkai (buah atau daun) ingin diraih untuk dimilikinya. Hendak dijadikan penerang hatinya yang sedang gundah dan malu karena menyembunyikan dosa.
 
Alvin Shul Vatrick juga menggunakan perbandingan-perbandingan atau metafora baru yang dibentuknya sendiri sehingga pemakaian bahasa sehari-hari dalam puisi memberi efek puitis dan romantis. Kata-kata yang dipilihnya disusun dengan cara sedemikian rupa hingga menimbulkan imajinasi estetik. Ia mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan cermat untuk mendapatkan intensitas arti dan keselarasan dengan unsur-unsur lain seperti larik.
 
mari menjadi karang
di antara puing-puing badai
ketika samudra sibuk menenangkan ombak
 
Tiga larik cuplikan puisi Wasiat Sunyi 1 tersebut memberi gambaran estetik tentang sebuah batu karang yang berdiri tegak di samudra pada saat badai. Ada ombak besar di sekelilingnya selain hiruk-pikuk nelayan yang berusaha menyelamatkan perahu, hasil tangkapan dan dirinya sendiri. Penyair secara simbolik memilih kata ‘karang’ untuk mengajak pembaca bersikap kokoh, tegar dalam menghadapi persoalan hidup.
 
Kata-kata yang dipilihnya bukan hanya mengandung aspek denotasi, arti yang menunjuk pada benda atau referensi nama tersebut, tetapi juga mengandung aspek konotasi, yaitu arti tambahaan yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi oleh kaitannya dengan kata-kata atau larik-larik lain yang membangun puisi itu.
 
mari menjadi senyum
di antara denting-denting gelisah
ketika malam-malam sibuk menganyam sepi
luka tak mesti engkau atau aku
biar segala menjadi khazanah
kecewa jangan dimaki perih jangan disesal
sebab nasib berjalan pada titian waktu
yang mengajarkan makna sebuah keikhlasan
 
Dari perasaan-perasaan sepi dan gelisah yang dilukiskan penyair dalam bait itu seperti denting-denting kegelisahan yang terdengar di malam-malam yang sepi, di antara penyesalan akan nasib yang dialami, kata ‘senyum’ mendapat arti tambahan. Kumpulan asosiasi perasaan yang dilukiskan penyair menjadikan kata ‘senyum’ mempunyai konotasi lain, yaitu menunjuk pada sikap dan nilai-nilai. Bukan sekadar tindakan menarik kedua sudut bibir ke atas dan membentuk senyuman di wajah, melainkan merupakan sikap agar kita (tak mesti engkau atau aku) menerima segala luka, perih dan kekecewaan dengan ikhlas. Sikap ikhlas demikian tercermin dari senyum. Frasa ‘mari menjadi senyum’ menunjuk relasi pada sesama agar kita pun menjadi penghiburan bagi orang-orang yang sedang susah dan terluka.
 
Pigura bahasa (figurative language) merupakan salah satu langkah penyair untuk mendeskripsikan ide dan imaji dalam puisinya. Adanya bahasa kiasan ini menyebabkan puisi lebih menarik perhatian, menimbulkan kejelasan gambaran angan. Ada banyak jenis bahasa kiasan namun mempunyai satu ciri yang umum, yaitu mempertalikan sesuatu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain. Beberapa macam pigura bahasa digunakan Alvin Shul Vatrick dalam puisi-puisinya secara bersamaan. Dua gaya bahasa yang digunakan secara kombinasi itu menjadikan ide penyair sampai kepada pembaca dengan intensitas yang lebih dalam dan menimbulkan kesan romantis. Misalnya terlihat pada kutipan berikut.
 
bulan separuh raga
engkaulah pemukau mata
menggelayut di bawah langit sendu
bagai gerimis hendak jatuh
luruh melepas kasih
 
Di sini terlihat gaya bahasa personifikasi dipadukan dengan metafora. Bulan digambarkan dan diperlakukan sebagai manusia ‘person’ yang mempunyai raga (badan) walau pada malam itu tampak separuh bagian raganya. Bulan itu diperlakukan seperti manusia yang dapat memukau mata, pandangan si penyair, ia menggelayut dan dapat melepas kasih. Bulan yang menggelayut diumpamakan sebagai gerimis yang hendak jatuh dan meluruhkan kasih. Dalam pemahaman masyarakat agraris, gerimis (hujan) sering dikonotasikan sebagai rahmat, kasih Tuhan karena memberi kesejukan dan kesuburan pada tanah-tanah pertanian. Masih banyak lagi metafora digunakan penyair untuk menambah efek puitis seperti tangkai cahaya, segumpal hati, frasa ‘ingin kucium keningmu (kening bulan), tingkap langit.
 
Gaya bahasa metafora dan personifikasi ini juga terdapat pada puisi Wasiat Sunyi 1 seperti tebing-tebing sunyi, denting-denting gelisah, titian waktu, karang, puing-puing badai dalam larik berikut.
 
mari menjadi rindu
di antara tebing-tebing sunyi
ketika bayang-bayang sibuk menerka hitam
 
mari menjadi doa
di antara keeping-keping lupa
ketika jiwa-jiwa sibuk membilang dunia
 
Enumerasi atau pengulangan terdapat pada bait puisi pertama seperti frasa ‘bulan separuh raga’ dan puisi kedua seperti larik-larik di atas. Pengulangan frasa ‘bulan separuh raga’ dalam ketiga bait memberi lukisan suasana syahdu yang mengantar penyair ke alam doa. Sedangkan pengulangan bait-bait berupa ajakan menjadi rindu, senyum, karang dan doa dimaksudkan penyair membawa pembaca untuk merasa emphatic akan nilai-nilai kehidupan yang direnungkannya.
 
Dari segi lain, susunan bahasa juga berpengaruh terhadap puisi. Dengan licentia poetica yang dimilikinya penyair sering membuat bentukan-bentukan kata baru, ungkapan-ungkapan kebahasaan yang tak lazim juga susunan kalimat yang tidak sesuai norma kebahasaan yang berlaku. Untuk menyatakan verba, Alvin Shul Vatrick tidak menambahkan imbuhan pada bentuk dasarnya. Begitu saja bentuk-bentuk dasar verba digunakan sebagai predikat kalimat, misalnya ‘malu sembunyi dosa’. Demikian juga kata-kata penghubung yang diperlukan sebagai penghubung kalimat ditiadakannya.
 
bulan separuh raga
kupetik tangkai cahayamu
(sebagai) penerang dalam ruang-ruang rindu
biar tenang segumpal hati
(yang) malu (karena ) menyembunyikan dosa.
 
Semua itu dengan sadar dilakukan karena sifat bahasa puisi yang konotatif, tidak lugas, untuk membedakannya dengan bahasa ilmiah yang denotatif. Penggunaan huruf kapital pada awal kalimat dan tanda-tanda baca pun ditiadakan dalam puisi ini. Pembaca diharapkan dapat menemukan sendiri kesatuan ide kalimatnya, mungkin pada sebuah larik, dua larik atau dalam satu bait. Kalimat pasif banyak digunakan pada puisi kedua seperti
 
mimpi usah dicari harapan usah ditanya
kecewa usah dimaki perih jangan disesal
buruk usah dicaci baik jangan dipuji
khilaf usah disangkal budi jangan diumbar
 
b. Ekuivalensi
 
Prinsip ekuivalensi yang tampak pada kesejajaran bunyi, rima dan sebagainya banyak terdapat pada puisi-puisi lama. Ekuivalensi ini teratur dan sangat ditaati ketika seseorang menuliskan puisi lama misalnya pantun. Ada aturan yang ketat tentang jumlah kata, jumlah baris, bait, kesejajaran rima, bahkan jenis-jenis yang disesuaikan dengan fungsi pantun (pantun nasehat, pantun jenaka). Pengenalan penyair modern akan puisi lama ini pada umumnya diperoleh melalui pendidikan di sekolah, kecuali bagi para penyair asal Sumatera (Padang, Riau, Jambi) di mana bahasa Melayu dan sastranya masih tumbuh subur. Bahkan bahasa daerah yang mereka gunakan dalam komunikasi sehari-hari pun berakar dari bahasa Melayu.
 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ekuivalen berarti mempunyai nilai (ukuran, arti, efek) yang sama, seharga, sebanding, sepadan. Ekuivalen berarti hubungan kesepadanan antara satuan linguistik yang lain dalam sebuah paradigma. Dalam hal ini, sejumlah kata hasil afiksasi dari morfem asal yang sama menunjuk pada hubungan ekuivalen, kesepadanan, misalnya belajar, mengajar, pelajaran, pengajaran yang berasal dari morfem {ajar}. Hubungan ekuivalen tersebut menunjuk pada makna yang sangat berdekatan.
 
Salah satu unsur kepuitisan bunyi ialah sajak atau rima. Menurut Slamet Mulyana (dalam Pradopo 1987:36) sajak ialah pola estetika bahasa yang berdasarkan ulangan suara yang diusahakan dan dialami dengan kesadaran. Sajak atau rima disebut pola estetis karena timbulnya di dalam puisi ada hubungannya dengan soal keindahan. Sajak bukan semata-mata untuk hiasan tetapi menjadi daya kuat untuk menimbulkan pengertian.
 
Rima berupa ulangan suara yaitu persamaan bunyi yang berulang-ulang pada akhir baris atau pada kata-kata tertentu pada setiap baris. Ada beracam-macam rima digunakan sebagai unsur kepuitisan dalam puisi Indonesia seperti rima awal, rima akhir, rima sempurna, rima berpeluk dan sebagainya. Persamaan bunyi juga bisa terdapat pada seluruh suku kata atau pada persamaan bunyi saja. Dalam pembahasan tentang rima juga terdapat aliterasi dan asonansi, keduanya digunakan untuk memperdalam rasa selain untuk keindahan bunyi dan memperlancar ucapan. Aliterasi adalah persamaan bunyi konsonan sedangkan asonansi adalah persamaan bunyi vokal. Contohnya kutipan berikut.
 
Aliterasi: Bukan beta bijak berperi
Pandai menggubah madahan syair
Bukan beta budak negeri
Mesti menurut undangan mair
 
Asonansi: teratai – permai
dunia – mulia
 
Para penyair puisi Indonesia modern menerapkan pemakaian bunyi dan persajakan ini tidak secara ketat seperti penyair-penyair masa Pujangga Baru. Bunyi disesuaikan dengan unsur-unsur kepuitisan yang lain seperti untuk mengintensifkan daya bayang (imagery), memberikan melodi sehingga puisi terasa berirama dan liris. Bunyi dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga mempunyai kekuatan untuk mengungkapkan suasana atau perasaan penyair. Misalnya bunyi-bunyi yang ringan atau langsing seperti vokal [i],[e],nasal [n],[ng] dan konsonan-konsonan [s], [c],[d] sering digunakan untuk mengungkapkan keriangan. Sebaliknya bunyi-bunyi berat seperti vokal [u], [a] dan bunyi glotal seperti [g[ atau [‘] sering digunakan untuk mengekspresikan keadaan sedih, sendu, galau, kacau dan sebagainya.
 
Dalam kedua puisinya, Alvin Shul Vatrick tidak membuat pola-pola persajakan yang teratur seperti halnya terdapat pada puisi lama. Namun bunyi-bunyi berat seperti vokal [a] dan [u] yang ada di akhir larik pada keempat bait puisi DAN DOA BERSIMPUH yang berkombinasi dengan bunyi kakofoni seperti [k],[p],[t] dan [s] memperkuat suasana sendu dan syahdu. Kesenduan terlihat pada suasana alam yang digambarkan untuk mewakili kegundahan hati yang menyembunyikan dosa. Namun suasana itu mengantarnya pada kesyahduan dalam kekhusyukan doa ketika ia sujud dan bersimpuh di atas sajadah.
 
Ekuivalensi justru tampak pada bentuk kata atau makna yang menunjuk pada persamaan dan keserasian dalam puisi. Hal ini terlihat pada puisi kedua WASIAT SUNYI 1. Pilihan kata yang ekuivalen satu sama lain baik secara bentuk maupun makna menunjuk pada makna antarbait. Frasa berikut:
 
menjadi rindu — di antara tebing-tebing sunyi
menjadi senyum — di antara denting-denting gelisah
menjadi karang — di antara puing-puing badai
menjadi doa — di antara keping-keping lupa
 
memperlihatkan kesejajaran bentuk antara frasa menjadi + nomina dan di antara + nomina. Keserasian makna terlihat pada adanya hubungan kata rindu dan sunyi. Di antara rasa atau suasana sunyi biasanya kita merindukan sesuatu. Demikian pula dalam kegelisahan sering diharapkan adanya senyum. Dan di antara kekacauan atau kegalauan hati kita berharap mempunyai kekuatan yang kokoh seperti karang. Penyair juga menghadirkan kata doa yang diperlukan bagi orang-orang yang lupa. Ada juga kesejajaran antara citraan (imagery) dan kata-kata yang dipilihnya. Citraan rasa mempunyai ekuivalen dengan kata rindu yang berhubungan dengan suasana sunyi dan kata senyum dengan gelisah. Citraan visual berhubungan dengan nomina seperti karang dan badai, doa dan keadaan di mana banyak orang lupa melakukan kewajiban berdoa itu.
Kalimat-kalimat berikut:
 
Mimpi usah dicari harapan jangan ditanya
karena langit tak pernah ragu kepada mendung
yang meneteskan butir-butir gerimis
 
Kecewa usah dimaki perih jangan disesal
sebab nasib berjalan pada titian waktu
yang mengajarkan makna sebuah keikhlasan
 
Khilaf usah disangkal budi jangan diumbar
sebab akan tiba masa di mana semua perbuatan
akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
 
Selain menunjuk pada bentuk dan jenis kalimat yang ekuivalen juga pada makna yang dikandungnya. Kalimat-kalimat itu secara ekuivalen menyarankan agar kita menerima keadaan dengan ikhlas karena semua perilaku dan perbuatan kita pada masanya nanti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
 
c. Makna
 
Apabila dibuat parafrase puisi pertama akan terlihat sebagai berikut.
 
DAN dalam DOA aku BERSIMPUH
 
bulan yang tampak separuh raga (bentuk)mu
engkaulah pemukau mataku
menggelayut di bawah langit yang sendu
bagai gerimis yang hendak jatuh
meluruhkan dan melepas kasih.
 
bulan separuh raga
ingin kupeluk tangkai cahayamu
hendak kujadikan sebagai penerang ruang-ruang rindu
biar tenang segumpal hati ini
yang malu karena menyembunyikan dosa
 
bulan separuh raga
ingin kucium keningmu
seperti dalam sujudku di malam yang syahdu
ketika kukecup sajadah
dan dalam doa aku bersimpuh
seakan aku merasa berada di tingkap langit dan kuketuk pintu-Nya
 
Dengan memperhatikan parafrase dan ulasan tentang bahasa puisi yang dipaparkan di muka dapatlah ditarik pemahaman berikut. Penyair membangun suasana syahdu dan sendu dengan menghadirkan bulan dan kesunyian dalam puisinya. Bulan separuh yang menggelayut di langit malam serupa gerimis yang hendak jatuh, memberi suasana syahdu dan khusyuk, merasuk ke dalam hatinya yang malu dan gelisah karena menyembunyikan dosa. Kesyahduan demikian mengantar penyair ke dalam suasana doa, mencium sajadah dan bersimpuh. Ia merasakan kedekatan dan kerinduan yang amat dalam pada Allah, hingga seakan berada di tingkap langit, mengetuk pintu-Nya. Mengharap dibukanya pintu pengampunan yang akan menenangkan jiwanya.
 
Puisi kedua berisi perenungan. Kata Wasiat menyaran pada pesan yang sangat berharga agar disampaikan. Di sini penyair menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada pembacanya. Nilai-nilai itu didasari pada ajaran agama dan kearifan budaya masyarakat yang melingkunginya. Dengan menggunakan metafora-metafora lukisan alam, penyair bercerita tentang kesunyian, kegelisahan, harapan, kekecewaan dan aneka peristiwa yang dialami di dalam kehidupan. Peristiwa-peristiwa itu dapat melukai hati, membuat perih dan kecewa. Namun hendaklah kita tidak menyesalinya. Kita harus menerima segala pencobaan hidup dengan ikhlas, bersikap tegar, kokoh dan yakin akan pertolongan Tuhan. Seperti langit yang tak pernah ragu kepada mendung yang memberinya hujan. Kita pun harus pula memperhatikan relasi dengan sesama, agar menjadi penghiburan bagi orang-orang yang susah; dan tetap berdoa selain bagi diri sendiri juga bagi jiwa-jiwa (orang-orang) yang melupakan Tuhan karena sibuk dengan urusan keduniawian. Kita harus menjauhi hal-hal yang buruk dalam setiap pikiran dan perilaku, karena semua perbuatan di dunia ini pada masanya nanti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
 
d. Tema
 
Tema-tema tentang kesunyian banyak didapati pada puisi-puisi modern. Bahkan di dalam kumpulan Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah pun sudah kita temukan. Tema tentang penyair yang kesepian kerap berulang pada masa-masa berikutnya seperti terlihat pada puisi-puisi Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono. ‘Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang’ melambangkan seorang pengembara yang kesepian. Sapardi Djoko Damono, kumpulan sajaknya diulas oleh Gunawan Mohammad dalam Horison (1966) dengan judul karangan ‘Nyanyi Sunyi Kedua’. Gunawan menjelaskan judul tersebut dengan mengatakan bahwa sajak-sajak Sapardi Djoko Damono menunjukkan penyair yang yatim piatu, terusir dari surga lebih jauh lagi ketimbang Adam.
 
dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan tiba-tiba di sini
tengadah ke langit : kosong – sepi
(Jarak)
 
Frasa ‘langit kami kosong dan sepi’ kata Gunawan Mohammad membuat ‘kami’ terlalu angkuh, menjadi keras dan berani pergi ke mana pun. Tetapi ini keberanian yang tanpa kepahlawanan karena tahu akan akhir kefanaan, yaitu kebinasaan yang tak terelakkan. Dan pada kesimpulan akhir dikatakan memang keadaan kita jauh lebih parah ketimbang Adam. Sebelum terusir dari Taman Eden akibat makan buah terlarang, Adam masih diberi petunjuk oleh Tuhan tentang dunia yang akan didiaminya dan segala konsekuensi yang akan dialami di situ. Sedangkan kita tidak tahu apa yang akan terjadi di ‘langit kami yang kosong – sepi’.
 
Tema-tema tentang kesepian mencerminkan realitas hidup kejiwaan para penyair. Penyair mengalami rasa puitik kesunyian itu dan menuliskannya di dalam puisi. Di dalam tradisi Jawa ada istilah ‘nenepi’ maksudnya menuju ke tepi. Orang akan berkelana melanglang buana meninggalkan hiruk pikuk keduniawian untuk mencari pencerahan batin. Oleh karena itu kesunyian yang dibarengi laku tapa merupakan suatu tingkat dalam perjalanan kearah penyelamatan dan pembebasan diri dari kehidupan lahiriah. Melalui penyatuan diri dengan alam, orang akan bisa mencapai penyatuan diri dengan Tuhan.
 
Dalam puisi modern kesunyian merupakan tujuan penciptaan puisi itu sendiri. Alvin Shul Vatrick mengatakan di bagian pengantar kumpulan puisinya Wasiat Sunyi. Sunyiku adalah negeri tanpa jalan, tidak melalui pengetahuan filosofis dan teknik psikologis. Ia ditemukan melalui cermin relasi, melalui pemahaman akan batin, melalui pengamatan. Sunyiku adalah pengamatan murni tanpa arah, tanpa takut akan sanksi dogma. Dalam sunyi ia membaca wasiat yang tak pernah tertulis, tak pernah tersuarakan, tak pernah terlukiskan. Serumpun puisi Wasiat Sunyi yang ditulisnya adalah catatan perjalanan batin yang merupakan proses pengenalan kepada diri dan semesta, untuk kemudian merasakan sebuah keberadaan di hadapan Yang Agung.
 
Tuhan dan pengalaman keagamaan sangat berpengaruh di dalam puisinya. Pengaruh dan tradisi keagamaan itu muncul melalui diksi sebagai ungkapan religius seperti ‘sujudku di malam syahdu’, ‘bersimpuh’ dan ‘kuketuk pintu-Nya’. Dalam renungan akan relasi dengan sesama Alvin sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan seperti keikhlasan, menjadi penghiburan ‘senyum’ bagi orang-orang di sekitarnya. Juga menjadi doa bagi orang-orang yang melupakan Tuhan karena sibuk dengan urusan keduniawian. Semua perilaku kehidupan itu didasari oleh keyakinan akan datangnya hari akhir saat manusia dipanggil kembali untuk mempertanggungjawabkan perbuatan selagi masih hidup di dunia.
 
Semarang 28 Pebruari 2019
 
 
Pustaka
Eneste, Pamusuk, Ed. 1984, Proses Kreatif II, Jakarta: Gramedia
Pradopo, Rachmat Djoko, 1987: Pengkajian Puisi, Yogyakarta; gajah Mada University Press
Situmorang, 1981, Puisi, Teori Apresiasi Bentuk dan Struktur, Ende, Flores: Nusa Indah
Teeuw, A, 1988, Sastra dan Ilmu Satra, Pengantar Teori Sastra, Jakarta: Girimukti Pasaka
— 1989, Sastra Indonesia Modern II, Jakarta: Pustaka Jaya
Vatrick, Alvin Shul, 2018, Wasiat Sunyi, Trenggalek: Rose Book
Wellek, Rene dan Austin Waren, 1989, Teori Kesusastraan, Jakarta: PT Gramedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *