Ekstase Penyair Alvin Shul Vatrick dalam Wasiat Sunyi Oleh: Agung Pranoto

Alvin Shul Vatrick merupakan salah satu penyair Indonesia yang berasal dari Luwu, Sulawesi Selatan. Sebutan “penyair” yang melekat padanya, tidak sekadar karena yang bersangkutan banyak menulis puisi, melainkan ada beberapa alasan yang secara empiris dapat dipertanggung-jawabkan.

Menurut amatan penulis, pertama, ia termasuk penyair yang memiliki bakat alam dan intelektualisme. Kedua, ia selektif memilih diksi sehingga puisinya begitu pekat dan sublim, serta tetap memperhatikan estetika termasuk aspek bunyi (rima, irama, asonansi, aliterasi, katafora, anafora, efoni, dan kakafoni) yang menyembulkan kemerduan manakala puisinya dibaca atau dideklamasikan. Ketiga, jalinan antarbaris dan antarbait yang membangun keutuhan dan keterpaduan puisi begitu terjaga, sehingga tidak menampakkan kegagapan dalam berekspresi. Keempat, kesatuan-keterpaduan (kohesif-koheren) puisinya mendedahkan sajian puisi yang prismatis, yang menghipnotis skemata pembaca untuk tergerak membaca puisinya berkali-kali. Kelima, seluruh puisinya terdapat esensi yang dipantulkan sehingga tidak sekadar permainan diksi melainkan ada “nyawa”, ada “roh”; dan ini menunjukkan adanya keseimbangan antara struktur lahir (surface structure) dan struktur batin (deep structure) dalam puisi-puisi ciptaannya.

Selain alasan di atas, Alvin yang aktif menulis di laman gawai ini, juga telah menunjukkan darah seninya khususnya di ranah sastra — dalam hal ini puisi. Ia telah banyak berkiprah di panggung sastra, khususnya panggung puisi Indonesia. Oleh sebab itu, produktivitas karyanya yang diimbangi dengan kualitas dalam menulis puisi, sangatlah wajar jika ia telah menerbitkan banyak antologi puisi baik secara individual maupun kelompok.

Wasiat Sunyi merupakan kumpulan puisi tunggal yang ke sekian dari penyair Alvin Shul Vatrick. Tampaknya di dalam kumpulan puisi ini ada satu kesatuan tema, yang kesemuanya bermuara pada persoalan keillahian. Persoalan keillahian yang dimaksud terkait dengan komunikasi personal yang mengarah pada dimensi vertikal dan horisontal. Tak pelak lagi pengembaraan batin Alvin terhadap alam mikrokosmos dan makrokosmos itu menunjukkan kedalaman spiritual yang bersangkutan, sehingga tampak sekali adanya pencarian eksistensi diri terhadap berbagai hal, baik melalui yang tampak maupun yang tidak tampak.

Jika kita meminjam pernyataan YB Mangunwijaya bahwa “pada awal mula sastra itu religius”, maka sesungguhnya benar adanya. Sebab, setiap karya sastra yang ditulis oleh sastrawan itu kata Sapardi Djoko Damono tidak berangkat dari kekosongan sosial. Artinya karya sastra ditulis sastrawan berpijak dari kepekaan pengalaman intuitif dalam menangkap fenomena yang terjadi di sekeliling sastrawan itu berada. Oleh sebab itu, tentu karya sastra yang diciptakan sastrawan mendedahkan aspek-aspek moral yang mengajak kepada kebaikan. Ajakan ke arah kebaikan tersebut merupakan praktik religiusitas. Religiusitas seperti apakah dalam puisi-puisi Alvin Shul Vatrick?

Mencermati sajak-sajak penyair ini, ada pengalaman yang menarik yang perlu kita ungkap, yakni pengalaman religius yang transenden yang tercermin dalam karyanya. Sebagai aliran di dalam tradisi intelektual Islam, sastra sufistik menurut Amien Wangsitalaja dalam salah satu esainya berjudul “Kuntowijoyo Sastrawan Profetik” dapat disebut juga sebagai sastra transendental karena pengalaman yang dipaparkan penulisnya ialah pengalaman transendental, seperti ekstase, kerinduan, dan persatuan mistikal dengan Yang Transenden. Pengalaman ini menurut Abdul Hadi WM berada di atas pengalaman keseharian dan bersifat supralogis.

Menyoal sastra transendental, kita tidak bisa melupakan sastrawan Islam dari Persia, yakni Jalaluddin Rumi (1207-1273). Salah satu karya Jalaluddin Rumi adalah Diwan-i Syams Tabriz yang berupa 33.000 bait puisi berbentuk lirik. Puisi-puisi ini pada awalnya adalah lontaran spontan yang muncul dari mulut Jalaluddin Rumi ketika ia berada dalam situasi ekstase. Lontaran-lontaran itu kemudian dicatat oleh para muridnya yang mengelilinginya. Puisi-puisi dalam Diwan-i Syams Tabriz ini berisi renungan-renungan Illahiyah dan persatuan mistikal. Selanjutnya, Muhammad Iqbal (1873-1938) dari Pakistan merupakan sosok lain dari sastrawan transendental dalam tradisi sastra Islam. Puisinya menampakkan kekentalan permenungan filsafat, ini tampak di antaranya dalam kumpulan puisinya yang berjudul Asrar-i Khudi. Muhammad Iqbal juga adalah pengagum Jalaluddin Rumi dan menganggap Jalaluddin Rumi sebagai guru spiritualnya .

Dalam sastra Indonesia modern, sastra transendental dapat kita jumpai dalam karya-karya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Abdul Hadi W.M., Sutardji Calzoum Bachri, Kuntowijoyo, K.H. Mustofa Bisri, Ehma Ainun Nadjib, Mustofa W. Hasyim, Mathori A. Elwa, Amien Wangsitalaja, Abidah el Khalieqy, Roval Alanov, Sofyan RH Zaid, Ghouts Misra, Edi Kuswantono, Jaka El-Masriv, Jejak Kembara, dan lain-lain.

Kali ini kita mencoba menjelajah jejak transenden dalam puisi Alvin. Teks puisi perlu ditafsirkan untuk memperjelas maknanya. Interpretasi adalah penafsiran karya sastra, yang berisi penjelasan tentang makna bahasa sastra (puisi) terutama pada kegelapan, ambiguitas, atau bahasa kiasannya. Di bawah ini dapat kita cermati sisi transendental dalam puisi Alvin Shul Vatrick.

ENGKAU

engkau napasku
berselindung butir debu
mengasihi rontok daun layu
sebelum berkalang tanah pilu
engkau cahayaku
saat jalan gelap berliku
ketika hitam putih berlalu
luka telapak tersayat sembilu

kucintai seluruhmu
tak bertapal batas temu
biar rindu berbayang semu
menanggung pilu aku tak jemu

Luwu, 1 September 2018

KEKASIH

telah kucari engkau
dari perbukitan thursinah
hingga lembah-lembah zhangye
dalam cahaya aurora antelope canyon
mungkin tengah bertapa di chittorgarh fort
atau menyepi di antara pulau kapur ha long bay
kekasih … kudapati engkau tersenyum dalam hatiku!

Luwu, 16 September 2018

Menikmati kedua puisi di atas, terpantul kedalaman spiritual Alvin pada muara “Keillahian”. Dimensi komunikasi vertikal antara aku lirik dengan Dia atau Tuhan begitu terang. Puisi yang berjudul “Engkau” jelas menunjuk pada keyakinan adanya Tuhan, Sang Pencipta. Tuhan digambarkan memberikan cahaya terang, memberikan kesejukan, sebagai tempat berlindung, sehingga “kecintaan” itu begitu tulus menghamba. Pengembaraan batin penyair dan kembali “ke akar” (Maha Pencipta) adalah pengembaran kaum sufi untuk mencapai sebuah jiwa yang tenang. Kemenghambaan penyair kepada Tuhan di atas bukanlah suatu keterpaksaan, melainkan kesadaran spiritual penyair bahwa semesta beserta isinya itu tidak datang tiba-tiba, melainkan ada yang “Mengadakan” atau “Menggerakkan”.

Pada puisi “Kekasih” tidak berbeda dengan puisi ‘Engkau”. Kata ‘Kekasih’ dan kata ‘Engkau’ substansinya mereferensikan kepada Sang Khaliq. Namun pada puisi “Kekasih” lebih menyoal “perburuan”, atau “pengembaraan” pada pencarian Tuhan. Begitu gigihnya, si aku lirik untuk menemukan Tuhan. Bahkan upaya pencarian itu hingga digambarkan sampai ke mana-mana (“perbukitan thursinah”, “lembah-lembah zhangye”, “di chittorgarh fort”, atau “di antara pulau kapur ha long bay”). Namun ujung-ujungnya “Kekasih” ditemukan “tersenyum dalam hatiku!”. Ini sebuah ketaksadaran diri selama pencarian “Kekasih”. Namun dengan kebeningan hati atau kebeningan akal dan pikiran, Sang Kekasih sebenarnya ada dalam diri si aku lirik.

Pada penggunaan kata “kekasih” dalam tradisi sastra Islam merupakan simbol-simbol untuk mengungkapkan kerinduan akan cinta-Nya dan merepresentasikan asal-muasal sumber penciptaan. Ketika A. Teeuw menelaah puisi berjudul “Ombak Itulah” karya Abdul Hadi WM, ia menulis: “Jadi kepenyairan, sebagai inti eksistensi, seluruhnya tergantung pada Yang Lain, si kau, entah siapa persis yang dimaksudkan dengan kau itu. Identitas kekasih dengan Tuhan bukan sesuatu yang aneh dalam tradisi puisi, baik di Barat maupun di Timur; Tuhan dan engkau sebagai kekasih malahan sangat biasa” . Di sisi lain Yudi latif menyatakan bahwa “Dalam karya sastra, kita bisa merasakan pentingnya kehadiran-Nya, sekaligus kegelisahan akan ketidakhadiran-Nya. Karena itu, ia menjadi momen pencarian dan pelarian” .

Selanjutnya dalam puisi “Peluk Aku”, ada semacam kesadaran diri atas dosa-dosa masa lalu akibat dari “terlena syahwat”. Ketika kesadaran itu muncul secara internal, mau tak mau kembali menuju ke muara “Keillahian”. Tuhan Allah menjadi tempat memohon, tempat pertaubatan yang dinukilkan melalui frase ‘peluk aku’. Kembalinya aku lirik ke “akar” atau ke “sumber” tersebut terpetik atas ketakutan-ketakuan terhadap “panas bara neraka” (bait 1), sebab dalam konteks ini memandang Tuhan itu begitu ‘menakutkan’. Memang perjalanan manusia itu selalu terekam jejaknya “dalam catatan-Nya” dan manusia harus mempertanggungjawabkannya. Pertaubatan itu sebenarnya dalam agama-agama secara dogmatis telah diajarkan, dan Tuhan Allah itu Maha Rahman dan Rahim, yang dapat diartikan bahwa Tuhan Allah itu begitu ‘menyejukkan’, ‘berhati lembut’, memiliki rasa ‘belas kasih’ kepada umatnya. Secara utuh, mari kita nikmati puisi “Peluk Aku” berikut.

PELUK AKU

oh … peluk aku!
yang terlena syahwat
mengecup rekah bibirmu
apakah aku menjadi pendosa
tak seperti mereka pemburu pahala
lantaran firdaus menjanjikan bidadari
ataupun ketakutan akan panas bara neraka

campakkanlah aku jika tak ikhlas mencintaimu

aku memujamu melebihi indahnya surga
bukan semanis khuldi, anggur, delima
mengapa mawar engkau beri duri
hingga angin melinang air mata

rindu melayang dalam doa
dari pucuk lima bunga
oh … peluk aku!

Luwu, 14 September 2018

Menjelajah jejak transenden dalam puisi di atas, kita coba berpijak pada pendapat Kuntowijoyo yang mendasarkan perumusan sastra profetik dari Al Quran surah Ali Imran: 110, mencakup empat hal, yaitu (1) konsep tentang umat terbaik, (2) aktivisme sejarah, (3) pentingnya kesadaran, dan (4) etik profetik. Konsep tentang umat terbaik (the choosen people) atau khaira ummah dengan syarat mengerjakan sebuah tantangan untuk bekerja lebih keras ke arah aktivisme sejarah. Aktivisme sejarah mengarah pada bekerja di tengah-tengah manusia (ukhrijat li an nas), yang berarti bahwa yang ideal bagi Islam ialah keterlibatan umat dalam sejarah.

Selanjutnya, nilai-nilai Illahiyah menjadi tumpuan aktivisme Islam. Peranan kesadaran ini membedakan etik Islam dari etik materialistis. Pandangan kaum Marxis bahwa superstruktur (kesadaran) ditentukan oleh struktur (basis sosial, kondisi material) bertentangan dengan pandangan Islam tentang independensi kesadaran. Demikian pula, pandangan yang selalu mengembalikan pada individu (individualisme, eksistensialisme, liberalisme, kapitalisme) bertentangan dengan Islam, karena yang menentukan bentuk kesadaran bukan individu tetapi Tuhan. Demikian juga segala bentuk sekularisme, ia bertentangan dengan kesadaran Illahiah . Etika profetik berlaku umum, untuk siapa saja, baik individu maupun kolektivitas diharuskan untuk mengamalkan ayat ini, (a) yaitu amar ma’ruf (menyuruh kebaikan), (b) nahyi munkar (mencegah kejelekan), dan (c) iman (tu’minuna) bi Allah (beriman kepada Allah).

Berdasarkan pendapat di atas, ketiga puisi Alvin Shul Vatrick tersebut, sebenarnya memiliki kemenonjolan dalam hal (a) kesadaran dan (b) etik profetik khususnya pada iman (tu’minuna) bi Allah (beriman kepada Allah). Kedua persoalan itu juga tercermin melalui puisi “Menuju Penantian Terakhir”, “Pulang”, “Dan Doa Bersimpuh”, “Rindu”, “Tersesat”, “Rindu Setapak Jalan”, “Permaisuri Malam”, dan masih sederet judul lainnya.

Ada hal yang menarik dari puisi “Menuju Penantian Terakhir” dan “Tersesat” yakni keyakinan adanya kelahiran dan kematian. Saat manusia hidup di dunia memang tidak sedikit yang bereforia dan yang terjadi sering lupa kepada Yang Maha Mengada. Ketersesatan jalan kehidupan tidak disadari telah melupakan Tuhan Yang Esa atau mempercayai tuhan-tuhan yang lain sebagaimana diekspresikan dalam puisi “Perahu Daun”. Pada saat kekilafan dan atau kesesatan itu terjadi, masih lumayan jika kembali pulang ke jalan yang benar, kembali ke akar atau kembali ke sumber. Lalu ketika manusia dihadapkan pada adanya kematian tentunya mulai tergugah kembali kesadarannya untuk menghamba kepada-Nya. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya larik-larik: ”….daim cinta / semata / esa / dalam / tiap napas / tersemat nama / luruh melafalkan doa / …. / persembahan akhir lepas di pangkal lidah /pamit pulang menuju tanah penantian terakhir” (cuplikan puisi “Menuju Penantian Terakhir”).

Kematian memang nyata adanya. Allah berfirman dalam Al-Quran: “…di mana pun Anda berada maka kematian akan tetap menjemput Anda,” (QS. An-Nisa: 78). Firman Allah ini menegaskan bahwa kematian itu akan menjemput yang hidup, yang bernyawa, meskipun seseorang berada di dalam benteng bawah tanah dengan perlindungan ruang yang dicor beton setebal 100 cm pun, kematian tetap akan menjemput jika sudah waktunya. Lebih lanjut dalam An-Nahl: 61 disebutkan bahwa “Maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan mendahulukannya sedetik pun,”. Artinya bahwa kematian itu merupakan keputusan Allah, dan manusia pun tidak bisa menundanya atau meminta didahulukan. Selain dua hal tersebut, fiman Allah yang menyoal tentang kematian masih bisa kita telusuri dan renungkan kembali di dalam Al-Quran. Dalam konteks ini Tuhan sendiri sebagaimana tercermin dari beberapa nama dalam asmaul husna: malik (Raja), jabbâr (Pemaksa), qahhâr (Yang Menundukkan), kabîr (Yang Besar), muntaqim (Sang Pembalas), mâliku ‘l-mulk (Pemilik Kerajaan), dan lain-lain. Kematian pasti akan terjadi. Ada kehidupan tentu ada kematian. Segala sesuatu yang ada di bumi ini senantiasa mengoposisi biner dan hal ini tidak bisa dibantahkan oleh teori apa pun. Kita sering mendengar dan menyaksikan berita maupun peristiwa kematian. Peristiwa kematian ini, tidak bisa kita pandang sebagai angin lalu saja. Peristiwa ini tentu harus dimaknai sebagai peringatan kepada manusia, tidak perduli berapa pun usia yang kita lalui. Sebab, hanya Allahlah yang mengetahui rahasia umur manusia, sementara manusia hanya bisa menduga-duga.
Dalam sastra Indonesia, tema kematian menjadi inspirasi bagi penulis, baik itu puisi, prosa, maupun drama. Kematian menurut Wili Azhari seakan-akan menjadi tema besar yang membayang-bayangi penyair, seperti Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Subagio Satrowardoyo, Abdul Hadi WM, Acep Zamzam Noor, dan lain-lain. Wili Azhari yang fokus penelitiannya pada “Makna Kematian dalam Puisi-puisi Joko Pinurbo Melalui Pendekatan Semiotika” yang mengambil sampel puisi berjudul “Keranda”, “Kain Kafan”, “Ranjang Kematian”, dan “Kalvari” disimpulkan bahwa penggunaan diksi ‘ranjang’ dan ‘tubuh’ telah merepresentasikan kematian yang bermaknakan hubungan eskatologis antara tubuh dan Sang Pencipta. Makna-makna yang terangkum dalam empat puisi Joko Pinurbo disimpulkan sebagai suatu jalinan keadaan, yakni hidup manusia selalu berdampingan dengan kematian dan Tuhan (Allah) sebagai tempat kembali yang hakiki.Bahkan ada beberapa penyair Indonesia yang menulis puisi tentang kematian sekaligus suara bawah sadar itu merupakan batas akhir kehidupan di dunia. Artinya bahwa puisi yang ditulis dengan bahasa hati, bahasa rasa, sering memantulkan suatu peristiwa yang akan benar-benar terjadi. Puji Santoso memaparkan beberapa penyair atau sastrawan Indonesia yang terobsesi dengan maut (kematian), di antaranya sebagai berikut. Chairil Anwar dalam puisi “Nisan” dan “Derai-derai Cemara” menemui ajalnya ketika berusia 27 tahun. Penyair Kriapur memuja maut melalui puisi “Kupahat Mayatku di Air”, “Berpikir Tentang Maut”, “Seperti Angin Maut Lewat Jendela”menemui ajalnya ketika berusia produktif, 28 tahun. Subagio Sastrowardoyo dalam buku kumpulan puisi Dan Kematian Makin Akrab (1995) dan puisi-puisi mautnya dalam Simfoni II (1990), menemui kematiannya pada Juli 1995. Selanjutnya, Motinggo Busye melalui puisi “Merasuk Malam” (1999) berisi tentang obsesi maut dan ia menemui ajal sebelum puisi itu sempat dipublikasikan melalui majalah sastra Horison.
Pada puisi-puisi Alvin Shul Vatrick yang lainnya, ia melakukan pengembaraan spiritual melalui sesuatu yang nampak. Dalam konteks ini, penyair Alvin mengekspresikan pengembaraan batinnya melalui sekian banyak puisi yang bertajuk “wasiat”, seperti dalam judul “Wasiat Rumput”, “Wasiat Langit”, “Wasiat Semesta”, “Wasiat Bestari”, “Wasiat Rembulan”, Wasiat Air Mata”, “Wasiat Angin”, “Wasiat Buih”, “Wasiat Semesta Kasih”, “Wasiat Daun”, “Wasiat Hayat”, “Wasiat Nalam”, Wasiat Embun”, dan lain-lain. Penggunaan kata ‘wasiat’ secara leksikal memang menyuratkan adanya “pesan yang dititipkan”. Misalnya perhatikan puisi di bawah ini.

WASIAT RUMPUT

pada rumput hijau
yang menetaskan embun

kueja seribu makna dari akarnya
tidak sekadar serabut menyulam tanah

pada rumput hijau
yang menyabarkan daun
kubaca seribu makna keikhlasan
tidak sekadar tabah berseteru kemarau

ini bukan tentang takdir
atau waktu mengurung nasib
setiap akar dan hijau rerumputan
ada kehidupan bermula tanpa rencana

Luwu, 18 September 2018

Puisi “Wasiat Rumput” sebenarnya adalah analogi kehidupan manusia yang meski harus banyak belajar dari tanaman berupa ‘rumput’. Bagaimana akar yang bergerak menembus tanah yang kadang terjal mengirimkan makanan untuk menghijaukan dan melebatkan daun. Pada saat musim kemarau yang berkepanjangan, ia pun masih mampu bertahan hidup meski dengan kondisi yang semakin memprihatinkan. Rumput hanyalah tanaman yang secara fungsional tidak begitu penting dalam kehidupan manusia. Namun dalam pertumbuhan rumput itu sebenarnya pengembaraan spiritual penyair hendak mengajarkan sebuah kebaikan yakni tentang keikhlasan manusia menghadapi segala macam kondisi yang ada. Rumput tak pernah menggerutu ketika menghadapi musim kemarau. Oleh sebab itu, dalam keadaan apa pun manusia harus banyak bersyukur dan ikhlas sepenuh hati menghadapi kenyataan dengan tetap menggerakkan tangan dan kaki, juga otak dan hati untuk bertahan hidup. Keikhlasan ini adalah kemampuan mengendalikan nafsu-nafsu yang diselaraskan dengan keimanan kita kepada Tuhan Allah.

Pada puisi “Wasiat Semesta” justru penyair mengajak sesama hambanya untuk tidak sekadar melihat keadaan semesta, melainkan bagaimana kita membaca tanda-tanda semesta ini. Mari kita berselancar pada puisi dimaksud yang dikutip secara utuh di bawah ini.

WASIAT SEMESTA

baca, bacalah tanda!
pada tanah, gunung, sungai, dan pepohonan

baca, bacalah tanda!
pada langit, matahari, bulan, dan gemintang

baca, bacalah tanda!
pada musim, angin, hujan, dan kemelut cuaca

baca, bacalah tanda!
pada tubuh, jantung, hati, dan penglihatan

baca, bacalah tanda!
pada jiwa, batin, rasa, dan pikiran

cari, dan carilah!
pada nikmat mana hendak engkau dustakan?

Luwu, 14 September 2018

Dalam QS Al Alaq/96: 3-4 difirmankan: “Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia melalui perantaraan kalam”. Lalu kita hubungkan dengan kata pertama dari ayat pertama kitab suci Islam yang menyebutkan “iqra” (artinya: bacalah), yang menjadi imperasi manusia untuk memahami bahasa (kalam) yang tersebar di setiap milli semesta ini (pinjam istilah Radhar Panca Dahana), “sebagai perangkat dasar manusia untuk mengetahui makna, menyadari keberadaannya” .

Puisi “Wasiat Semesta” di atas sebenarnya menyembulkan pertautan kebatinan mikrokosmos dan makrokosmos, bahwa “bahasa jiwa merupakan vibrasi dari semesta, dan sebagai upaya aktualisasi diri pada puncaknya yang tertinggi dan terdalam adalah upaya meleburkan diri dengan kosmos bagi penemuan kebenaran, keindahan, dan keadilan tertinggi” . Kehendak menyatu dengan kosmos ini merupakan kehidupan spiritual kemanusiaan yang paling esensial.

Dalam puisi “Wasiat Semesta” yang secara repetitif mengulang baris: “baca, bacalah tanda!”, sebenarnya baris atau larik yang menegaskan pada pembaca tentang makna terdalam dalam tanda-tanda semesta. Dari sinilah pengembaran batin atau spiritual itu diharapkan mampu menyentuh ke hal-hal yang paling esensial untuk memperteguh akan adanya Yang Maha Agung. Tanda-tanda semesta yang secara semiotik itu pada hakikatnya bermuara pada Keillahian. Oleh karena itu, penyair Alvin secara batiniah mengajak pembaca untuk mencari, menelusuri, menggali, mengasah akal pikir serta pemungsian mata hati untuk menyibak rahasia-rahasia Ilahi.

Selanjutnya, dalam antologi ini, penyair Alvin masih melengkapi lima belas puisi yang bertajuk “Wasiat Sunyi” mulai dari I – XIV. Keempat belas puisi “Wasiat Sunyi” tersebut secara substansial kandungan isinya (struktur batin puisi) tidak jauh beda dengan puisi-puisi lainnya dalam sehimpun buku ini. Semua puisinya bermuara pada Ketuhanan atau Keilahian.

Pada umumnya puisi menurut Jamal D. Rahman merepresentasikan Tuhan “sebagai pusat orientasi relijius dan spiritual. Tuhan adalah pusat kerinduan dan cinta Ilahi. Artikulasi kerinduan dan cinta Illahi kerapkali dibarengi dengan rasa sesal, bahkan tangis dan airmata, atas berbagai misorientasi profan; kerapkali pula dibarengi dengan pengakuan atas pengalaman-pengalaman kelam di masa lalu. Sebagai ekspresi religius, puisi mereka menghadirkan suasana batin dengan berbagai gejolak dan gebalaunya, juga dengan segala kesunyian dan ketenangannya. Suasana batin ini dibangun dengan berbagai imajinasi dan asosiasi emotif, yang kadang susul-menyusul seakan mengeksrepsikan situasi rohani yang sesak”.

Akhir kata, antologi Wasiat Sunyi, merupakan sehimpun buku puisi yang mengungkapkan perjalanan atau pengembaraan batin penyair Alvin Shul Vatrik khususnya kemenghambaan terhadap Tuhan. Konsistensi pemilihan diksi sebagai bentuk ucap atau ekpresi menunjukkan kematangan tersendiri dalam menulis puisi-puisi yang religius, yang sufistik, atau yang transendental. Demikianlah ekstase Alvin Shul Vatrick.

[fb_button]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *