Khazanah Leluhur (Kumpulan Pantun)

Penulis: Bersan, S. Pd
Editor: Alvin Shul Vatrick
Tata Letak: Alvin Shul Vatrick
Design Cover: Alvin Shul Vatrick
 
Penerbit: Penerbit AJ
ISBN: 978-602-53705-7-1
 
Cetakan I: Februari 2019
13 x 19 cm, xii + 73 halaman
 
Kata Pengantar
 
Puisi rakyat merupakan warisan budaya bangsa yang wajib kita pelihara. Puisi rakyat salah satunya adalah pantun. Pantun sebagai salah satu jenis puisi lama warisan nenek moyang yang kaya muatan nilai moral, agama, dan budi pekerti. Melalui pantun inilah para leluhur mewariskan nilai-nilai luhur dengan cara yang menghibur, segar, dan indah. Dalam dunia perpuisian Indonesia, puisi berkembang dari tahun ke tahun. Yang semula banyak menggunakan aturan terikat kemudian berkembang menjadi puisi yang sangat bebas. Jika dilihat dari zamannya, puisi Indonesia terbagi menjadi tiga, yaitu: puisi lama, puisi baru, dan puisi modern.
 
Puisi lama adalah puisi yang sangat terikat oleh aturan-aturan, baik itu persajakan rima, jumlah kata, baris ataupun bait. Biasanya puisi-puisi ini sering dituturkan turun-temurun oleh para sesepuh sehingga nama pengarangnya pun kadang tidak dikenal. Barulah kemudian kebebasan dalam puisi sedikit mulai terbuka pada aliran puisi baru yang hanya mengikat pada bentuknya saja, sedangkan isi bisa lebih bebas dan luas dibandingkan puisi lama yang lebih banyak berkutat pada nasihat ataupun cerita. Sedangkan pada aliran puisi modern, orang-orang sudah mulai melupakan dan meninggalkan bentuk-bentuk aturan kaku atau konvensional seperti yang terlihat pada puisi kontemporer.
Dahulu, pantun sering dijadikan sebagai wadah untuk bertegur sapa, persembahan, atau nasihat yang sangat mengena pada setiap orang kemudian mulai hilang dan pudar hingga saat ini. Saat ini, pantun hanya dipakai pada saat-saat upacara, perayaan, atau acara tertentu saja. Pantun sering diidentikkan dengan karya sastra lama yang sarat dengan adat-istiadat budaya masyarakat tradisional sehingga terkesan pemakainya dahulu adalah sastrawan pujangga lama. Selain itu, pantun hanya dipelajari di sekolah-sekolah formal lalu ditinggalkan oleh para siswanya yang lebih berminat dalam dunia perpuisian.
 
Dari sekian banyak jenis puisi lama, pantun memang masih hidup dan membumi dalam pemahaman dan pengetahuan masyarakat secara umum. Sebagian besar orang-orang masih mengira pantun bukanlah sebuah puisi, sehingga seolah-olah pantun adalah salah satu jenis seni karya sastra selain puisi. Padahal, pantun juga merupakan salah satu bagian dari sebuah puisi. Sangat menyedihkan memang, tetapi begitulah kejadian dan keadaan yang sesungguhnya. Namun begitu, semangat berpantun masih tetap ada di dalam masyarakat meskipun jumlahnya sedikit.
 
Hal ini tidak dipungkiri tersebab lahirnya sebuah karya kumpulan pantun Khazanah Leluhur buah pena Bersan sebagai buktinya. Dilahirkannya buku ini sebagai apresiasi kegemaran dan konsistensi Bersan dalam keaktifannya menuliskan pantun sebagai refleksi terhadap gejolak empiris yang telah dilaluinya dalam kehidupan. Karya-karya seperti ini masih sangat jarang kita temukan sebagai pemerkaya literasi kita. Ada kabajikan-kebajikan yang ditanamkan dalam pantun. Inilah mengapa hingga saat ini pantun masih diajarkan di sekolah sebagai salah satu materi dalam pembelajaran untuk menggali nilai-nilai luhur warisan nenek moyang.
 
Bersan telah mematahkan anggapan bahwa bersastra pantun hanya dilakukan sastrawan pujangga lama. Ekspresi pantun yang telah dibuat tidak kaku dan dapat dinikmati karena bahasa yang digunakan cenderung ringan dan mudah dicerna serta banyak mengusung perihal sehari-hari.
 
Kesehariannya sebagai seorang pendidik, membuatnya tergerak untuk menulis pantun sebagai bagian dari karya sastra yang patut dilestarikan karena di era sekarang ini tak banyak lagi penulis-penulis pantun. Terlebih lagi pantun-pantun yang berisikan pesan-pesan untuk keberlangsungan kehidupan alam sekitar.
 
Anak kambing mencari makan
Rumput tumbuh di pinggir hutan
Lingkungan bersih jadi idaman
Hindarkan bumi dari kerusakan
 
Pantun tersebut menegaskan sebuah keprihatinan tentang peradaban bangsa saat ini. Bangsa kita telah banyak meninggalkan budaya-budaya leluhur yang berupaya menjaga kelangsungan hidup ekosistem. Hal ini berdampak terhadap kondisi alam yang semakin rentan dilanda bencana, dan sebagian besar diakibatkan ulah manusia yang kurang kesadaran untuk menjaga alam.
Selanjutnya, pada pantun berikut, Bersan masih menggunakan tema alam sebagai tema pantunnya.
 
Sarang burung di atas dahan
Dapat dilihat dari telaga
Alam semesta ciptaan Tuhan
Patut bersyukur serta dijaga
 
Menjaga alam adalah seruan kepada semua manusia sebagai ungkapan rasa syukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah menciptakan alam beserta seluruh isinya untuk dikelola dan dimanfaatkan manusia. Tidak ada yang Tuhan ciptakan di alam ini yang tidak memiliki manfaat bagi manusia jika manusia terus menggali ilmu. Maka, tanda syukur atas anugerah tersebut adalah menjaga alam dan semua isinya dari eksploitasi tanpa henti tanpa berpikir untuk memperbaharuinya.
 
Secara keseluruhan pantun-pantun yang dibuat Bersan adalah pantun yang berupa nasihat dan lebih memberikan tema-tema alam sebagai pesan dalam pantunnya. Alam tumbuhan dan hewan sebagai objek alam sedangkan manusia sebagai makhluk berakal menjadi pengelolanya.
 
Namun, di samping alam sebagai tematik pantun, Bersan pun tetap memberikan hiasan dalam kumpulan pantunnya ini berupa pantun-pantun jenaka yang lucu. Namun secara keseluruhan, saya mengakui keseriusannya dalam mengolah kata-katanya ke dalam bentuk pantun dengan isi pesan-pesan kepada manusia tentang alam.
Kita sama berharap, kehadiran buku kumpulan pantun Khazanah Leluhur ini mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat pembaca karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menghadirkan kesadaran kepada kita yang terkadang luput perhatian terhadap lingkungan hidup. Selain itu, semoga pantun bisa menjadi media komunikasi yang mengasyikkan dari kalangan umum hingga pelajar dan mahasiswa, sehingga patut ditiru sebagai kreatifitas menulis yang mengandung manfaat.
 
Salam pantun!
Yeni Sulistiyani

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *