Nilai Estetis dalam Puisi Alvin Shul Vatrick (Oleh: Margaretha Wida)

1. Pengantar
Dalam sebuah percakapan di dunia maya Alvin Shul Vatrick bercerita tentang nyanyian alam yang akrab dengan kehidupannya. Kicau burung di pagi hari, suara percik air sungai berseteru dengan bebatuan, nyanyian jangkrik di malam hari. Ia belajar di kesendirian, menyikapi sunyi dengan senyum hingga benar-benar menikmati hening tanpa denting, tanpa kata, ketika dirinya terlempar dari pikiran. Pada alam yang disebutnya ‘sunyi’ ia membaca yang tak tertulis, mendengar yang tak bersuara, menyentuh yang tak terlihat. Sentuhan dengan alam itu menggerakkan tangannya menuliskan pengalaman estetisnya dalam bentuk surat.
Dengan lugu dikatakannya surat itu ia namai puisi. Mengapa tidak? Memang bentuknya cukup panjang, selintas orang tidak akan menganggapnya puisi bila masih terpaku pada pemahaman tentang kriteria puisi yang sudah kita ketahui sejak dulu, misalnya definisi berikut. Puisi ialah karya kesusastraan yang berbentuk sajak (syair, pantun dan sebagainya). Secara intuitif orang dapat mengetahui sebuah puisi berdasarkan konvensi wujud puisi bila dibandingkan dengan prosa atau naskah yang lain. Tetapi sekarang sering orang tidak dapat membedakannya jika hanya melihat bentuk visualnya sebagai karya tulis.
 
Puisi sebagai karya seni itu puitis. Kata puitis mengandung nilai keindahan yang khusus untuk puisi. Sesuatu disebut puitis bila membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas dan menimbulkan keharuan. Puisi merupakan sebuah struktur yang kompleks. Analisis yang bersifat dikotomi yaitu pembagian dua, bentuk dan isi belum dapat memberi gambaran yang nyata dan tidak memuaskan (Wellek 1989: 158). Efek estetis karya tidak disampaikan melalui isinya saja. Kata-kata sebagai tanda, tidak aktif sebagai penentu estetis, tetapi cara kata-kata itu disusun untuk membentuk unit bunyi dan makna, merupakan penentu estetis. Semua unsur yang tidak berfungsi estetis dinamakan bahan, sedangkan cara pengolahan bahan untuk mencapai efek estetis dinamakan struktur. Struktur mencakup isi dan bentuk sejauh mempunyai fungsi estetis. Dengan demikian karya sastra dapat dilihat sebagai suatu sistem tanda yang utuh, struktur tanda yang memiliki fungsi dan tujuan estetis tertentu.
 
Puisi merupakan karya imajinatif dengan media bahasa yang unsur estetik (seni)nya dominan. Orang tidak dapat memahami dan menganalisis karya seni tanpa menunjukkan penilaian. Puisi merupakan salah satu genre sastra. Sastra diklarifikasikan tidak berdasarkan waktu atau tempat tetapi berdasarkan tipe struktur atau susunan sastra tertentu. Penilaian karya sastra menyangkut pembahasan tentang struktur. Demikian juga terhadap puisi, penilaian ditentukan oleh pengalaman dan konsep pembaca tentang puisi. Tulisan ini mencoba menemukan nilai-nilai estetis dalam puisi Alvin Shul Vatrick. Dengan ditemukannya nilai-nilai estetis itu semoga penyairnya tidak lagi menganggap suatu kebodohan telah menamai surat-surat sunyinya sebagai puisi.
 
2. Nilai Estetis
Selain memiliki sistem kekerabatan, suatu masyarakat juga dikenal dari hasil budayanya seperti seni. Seni ini meliputi lagu, tari, ritual keagamaan dan lain-lain. Dari kelompok seni ini sastra muncul secara bertahap. Sastra (termasuk di dalamnya puisi) merupakan suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Untuk memberi definisi tentang sastra bukan sesuatu yang mudah. Terdapat banyak kriteria dipakai untuk menandainya, misalnya imajinasi, penggunaan bahasa dan segi estetis. Sastra sebagai karya imajinatif tidak berarti bahwa setiap karya sastra harus memakai imaji (citraan) walaupun bahasa puitis memang penuh citraan. Tetapi pencitraan tidak identik dengan rekaan. Banyak puisi yang tidak memakai imaji bahkan ada yang disebut puisi pernyataan. Ada puisi yang bisa divisualisasikan dengan membangkitkan imaji indrawi, tetapi ada pula yang tidak bisa dibayangkan, namun kita dapat mengenali pikiran, motivasi, penilaian dan keinginan-keinginan penyair lewat pernyataannya.
 
Kriteria paling mudah untuk mengenali sastra adalah memerinci penggunaan bahasa yang khas sastra. Bahasa adalah bahan baku kesusasteraan, tetapi harus disadari bahwa bahasa ini ciptaan manusia, mempunyai muatan budaya dan linguistik dari kelompok pemakai bahasa tersebut. Untuk melihat penggunaan bahasa yang khas kita harus membedakan bahasa sastra dengan bahasa sehari-hari dan bahasa ilmiah. Perbedaannya dengan bahasa ilmiah cukup jelas, namun dengan bahasa sehari-hari lebih sulit. Dalam bahasa percakapan, bahasa sehari-hari juga mempunyai fungsi ekspresif. Metafora hadir secara tersembunyi dalam bahasa sehari-hari, di dalam puisi metafor itu dapat divisualisasikan.
 
Kriteria lain untuk menandai sebuah karya sastra ialah segi estetis. Ini dapat dilihat misalnya pada karya-karya besar yang menonjol karena bentuk maupun ekspresi sastranya.
 
Apa yang membuat orang suka pada sastra, nilai-nilai apa yang dilihat orang pada sastra? Salah satu jawabannya mungkin pada fungsi sastra. Sastra mempunyai kedudukan yang sangat penting di dalam masyarakat, sebagai institusi sosial maupun sebagai media. Dalam fungsinya sebagai media maka sastra dapat menyampaikan apa yang terjadi di dalam masyarakat. Horace mengatakan bahwa karya sastra itu dulce et utile. Dulce berasal dari bahasa Latin yang bermakna enjoyment ‘kesenangan’ dan utile bermakna usefull ‘berguna’. Dalam sastra pasti ada kesenangan tersendiri. Kesenangan yang diperoleh dari sastra bukan seperti kesenangan fisik lainnya, tetapi kesenangan yang lebih tinggi yaitu kontemplasi. Sedangkan manfaatnya adalah bersifat didaktis. Manfaat ini dapat diekspresikan sebagai penyampaian pesan, pernyataan tentang ide-ide penyair, opini dan lain-lain.
 
3. Kriteria Penilaian Estetis
Bagaimana orang harus menghargai dan memberi penilaian pada sastra? Wellek (1989:317) mengatakan bahwa orang harus menghargai sastra sebagai sastra itu sendiri, orang harus memberi penilaian terhadap sastra dengan mengacu pada tingkat nilai sastra itu sendiri. Sifat, fungsi dan penilaian terhadap sastra harus saling berkaitan. Kita harus menilai sastra berdasarkan sifat-sifatnya. Dalam kaitan dengan sifat sastra ini dikenal istilah sastra murni untuk membedakannya dengan sastra yang digunakan untuk tujuan praktis seperti propaganda atau tujuan ilmiah.
 
Sastra merupakan suatu pengalaman estetis yang otonom, terpisah. Pandangan ini berbeda dengan kutub yang menganggap sastra sebagai alat dari ilmu pengetahuan dan masyarakat. Sastra mempunyai nilai estetis. Berdasarkan suatu sistem nilai kita dapat memberi nilai pada karya sastra. Pengalaman estetis itu unik. Pengalaman estetis adalah suatu persepsi terhadap suatu kualitas yang secara intrinsik menyenangkan dan menarik. Pengalaman itu berkaitan dengan perasaan tertentu (kenikmatan, sakit, reaksi hedonistis) dan penginderaan (Wellek, 1989: 320). Tetapi perasaan itu diobjektivikasi dan diartikulasikan , dalam arti bahwa perasaan itu menemukan korelasi objektif dalam karya sastra. Orang yang mengalami pengalaman estetis tidak memanfaatkannya demi kepentingan sendiri. Ia tidak boleh merasa ingin memiliki, menghabiskan atau mengubah persepsi estetis menjadi rasa. Pengalaman estetis adalah sebuah bentuk kontemplasi, perhatian yang penuh kasih pada kualitas dan struktur kualitatif.
 
Karya sastra adalah sebuah objek estetis yang mampu membangkitkan pengalaman estetis. Bagaimana kita menilai sebuah karya sastra? Kelompk formalis (form = bentuk) menilai kesastraan sastra berdasarkan kriteria estetis. Mula-mula dilakukan konstruksi verbal karya sastra (cerpen, puisi, drama) lalu mempertanyakan apakah karya itu bagus atau tidak. Di sini karya sastra ditempatkan dalam suatu ranking untuk mendapatkan kedudukannya sebagai pengalaman estetis.
 
Wellek (1989:321) mengatakan kata form atau bentuk bersifat ambigu. Ia menggunakan istilah itu untuk mengacu pada struktur estetis karya sastra, yang menjadikannya karya sastra. Tidak ada dikotomi antara bentuk dan isi. Yang ada adalah bahan mentah yang kemudian secara estetis diolah oleh ‘bentuk’. Dalam sebuah karya seni, bahan mentahnya sepenuhnya terasimilasi dalam bentuk. Apa yang semula merupakan ‘dunia’ istilah Abrams ‘semesta’ berubah menjadi bahasa. Bahan mentah karya sastra pada tingkat tertentu adalah kata-kata. Pada tingkat berikutnya adalah perilaku manusia. Dan pada tingkat selanjutnya adalah pemikiran dan sikap manusia.
 
Kriteria lain yang dipakai untuk penilaian estetis adalah kebaruan (novelty) dan kejutan (surprise). Kata-kata dalam istilah klise ditinggalkan. Bahasa harus mengalami deformasi, dibentuk dengan gaya yang berbeda untuk menarik perhatian pembaca. Penyair membuat pembaharuan bahasa, melakukan revolusi kata dan meningkatkan kesadaran pada kata. Kebaruan itu untuk mendapatkan persepsi kualitas.
 
Kebaruan juga terlihat dalam hal makna. Ini sering terjadi bila kita mengupas puisi yang sama beberapa kali. Ada kecenderungan untuk mengapresiasi kembali suatu puisi yang pernah diapresiasi pada masa sebelumnya. Setiap kali melihat kebaruan, biasanya yang dimaksud adalah tingkatan makna yang baru dan pola asosiasi yang baru. Sebagai contoh misalnya puisi-puisi Chairil Anwar bila diapresiasi oleh pelajar tahun ’80 an akan berbeda makna jika diapresiasi pelajar zaman sekarang. Hal itu disebabkan antara lain bahasa dan imaji yang digambarkan Chairil Anwar menimbulkan persepsi yang berbeda bagi remaja tahun ’80-an dan remaja milenial.
 
Kompleksitas dalam puisi juga merupakan salah satu nilai estetis. Kaum formalis menilai semakin ketat susunan sebuah puisi semakin tinggi nilainya. Karya-karya yang strukturnya sangat kompleks membutuhkan penjelasan. Kompleksitas ini bisa terdapat pada diksi, sintaksis dan persajakan. Tetapi juga ada pada tingkatan pencitraan, nada, alur dan tema.
 
Kriteria yang diberikan kaum formalis di atas tidak mengukur nilai-nilai puitis keseluruhan karya. Padahal tujuan puitis keseluruhan karya menentukan unsur-unsurnya. Keragaman bahan yang meliputi pemikiran, pengalaman sosial dan psikologis haruslah dikoherensikan dengan semua unsur pembangun puisi. Pandangan yang memisahkan antara bentuk dan makna tidak memperhatikan keseluruhan karya. Koherensi merupakan kriteria estetis dan sekaligus kriteria logika. Pandangan hidup yang disampaikan dalam puisi harus dapat diterima sebagai pandangan yang mempunyai koherensi, kematangan dan berdasarkan pada fakta-fakta pengalaman. Kebenaran pengalaman mengacu pada dunia di luar sastra yang menuntut perbandingan antara sastra dan kenyataan.
 
Jadi di mana letak estetis sebuah karya? Apakah pada puisi, pada pembaca, atau pada kaitan antara keduanya. Memang diperlukan seorang pembaca untuk menemukan dan menghargai nilai karya sastra. Tetapi seringkali pembaca tidak mengaitkannya dengan objek karya sastranya sendiri. Pendekatan ini bersifat psikologis. Pembaca demikian lebih memperhatikan reaksi dan emosi kepada dirinya sendiri sebagai penikmat seni.
 
Bila nilai estetis diletakkan pada puisi, ini memperlihatkan aliran platonisme. Pengalaman pembaca dapat disebut sebagai pengalaman puisi itu sendiri. Ia mengalaminya, mewujudkan kualitas estetis yang bernilai dan mewujudkan kaitan struktur yang dapat dilihat dalam puisi itu. Keindahan estetika adalah sifat dari beberapa hal dan berada di dalamnya, tetapi berada hanya dalam hal-hal yang memiliki kapasitas tertentu; dan melalui kapasitas dan latihan itu realisme perspektif dapat dilihat (Wellek 1989: 335). Nilai-nilai estetis itu secara potensial ada pada struktur karya sastra. Nilai-nilai itu dapat direalisasi dan diapresiasi kalau dibaca dan direnungkan oleh pembaca yang kompeten.
4. Nilai Estetis dalam Puisi Alvin Shul Vatrick
Puisi sebagai karya seni itu puitis (Pradopo 1987: 13). Kata puitis sudah mengandung nilai estetis yang khusus untuk puisi. Nilai estetis itu dapat dicapai dengan bermacam-macam cara, misalnya dengan cara visual: tipografi, susunan bait. Dengan bunyi : persajakan, asonansi, aliterasi, dengan lambang rasa dan sebagainya. Dapat juga dengan diksi, bahasa kiasan, gaya bahasa dan lain-lain. Cara-cara itu dapat digunakan penyair sekaligus secara bersamaan sehingga mendapatkan efek keindahan dalam puisinya.
 
Seperti telah disampaikan dalam ulasan di muka analisis puisi secara formal yang menganalisis unsur-unsur dan memperhatikan puisi dari segi bentuk dan isi secara terpisah, tidak menemukan nilai seni puisi yang dianalisis tersebut. Hal ini disebabkan karena puisi merupakan karya imajinatif bermedium bahasa yang nilai estetisnya dominan. Orang tidak dapat memahami dan menganalisis karya seni tanpa menunjukkan penilaian (Wellek dalam Pradopo 1987: 20). Analisis struktural untuk mengetahui unsur-unsur pembentuk puisi harus ditingkatkan secara semiotik, melihat karya sastra sebagai sistem tanda yang bermakna, menemukan makna puisi melalui setiap fenomena (unsur). Kemudian ditingkatkan lagi dengan melihat fungsi estetik terhadap fenomena atau unsur-unsur karya sastra itu.
 
Demikian maka puisi Surat Sunyi 1 karya Alvin Shul Vatrick tersaji dalam analisis ini untuk dapat dilihat segi estetisnya sehingga dapat kita beri penilaian terhadapnya.
 
SURAT SUNYI 1
: Perjalanan Sunyi
Menuju Altar Sang Agung
 
/1/
Bahwa aku semakin jauh
memasuki sunyi dan
kurasakan engkau mengikuti
sambil menginjak bayanganku.
Matahari mulai terbit
dari dada malamku!
 
Denting nadi telah menjadi nyanyian
di telinga batinku, sendu kandil mata ini
telah menjadi cahaya terang
di setiap sudut jiwaku.
Inilah kerinduan dalam
tiap denyut jantung.
Dalam setiap perilaku,
dalam setiap mimpi,
dalam setiap sunyi,
kutemukan rindu yang sama.
Dan, engkau yang berada di belakangku,
sibaklah tirai diri, ikutilah dia
kita sedang dalam petualangan
yang mengasyikkan!
 
/2/
Ini sebuah perjalanan!
Ketika kemesraan datang,
masuk dan sadari keadaan itu
dengan sekhusyuk mungkin.
Inilah petemuan dua pribadi,
dua raga, dua jiwa.
 
Inilah pertemuan batiniah
dan pergumulan batiniah,
lalu kita akan melampaui cinta kasih
hingga tiba di altar pemujaan
kepada Yang Agung
dan menjadi sebuah pintu
untuk memasuki penyatuan,
keakraban antara aku dan engkau
dengan keseluruhan.
 
Tinggallah sesuatu yang tak berwujud,
seluruh keberadaan dan diri kita.
Mari menjadi saksi terhadap kemesraan
antara diri dan seluruh kehidupan.
 
/3/
Bila kita telah mampu menjadi saksi
atas pertemuan diri dengan
seluruh kehidupan, maka kita telah
melampaui diri dengan
seluruh kehidupan,
melampaui kedua-duanya.
Maka diri inilah keseluruhan itu,
diri inilah cinta kasih itu,
diri inilah welas asih itu.
 
Apakah engkau masih terjaga
untuk terus membaca suratku ini sampai akhir?
 
Kerinduan dan cinta bukanlah
sekedar nyanyian kemesraan,
aku memasuki keduanya
dan membuka tirai misteri.
Saat kerinduan hanya sebatas khayal
yang bermain dengan bayangan,
aku tak akan menemukan cinta kasih.
Kita terkadang licik
dengan menciptakan cinta kasih
yang pura-pura,
 
/4/
sehingga merasakan hilangnya
cinta kasih atau surutnya cinta kasih
setelah kerinduan terpuaskan.
Cinta kasih murni
tidak berada di depan pertemuan,
tetapi di belakang perjumpaan.
 
Kini kita mengayun langkah
dengan perlahan tanpa doktrin,
tanpa tekanan, tanpa jeruji pemasung jiwa.
Mari berjalan dengan penuh kesadaran
akan cinta kasih, yang adalah
cahaya semata wayang
dalam gelapnya kehidupan.
 
Mari menelusuri setiap sudut kehidupan,
dan menyaksikan Yang Agung ada di mana-mana,
kita tak boleh melawannya. Tetapi,
tak boleh juga diikat oleh apa pun, lewatilah!
Sebab keindahan masih bertaburan
di hadapan kita, kenikmatan bertebaran
di jalan kita, kebahagiaan menanti di istana sunyi.
Kita mesti tetap melangkah
karena Yang Agung mungkin berdiri
di balik apa saja, maka berdamailah dengan apa saja.
Hidup ada di mana-mana !
 
a. Tipografi
Bentuk puisi Indonesia mengalami perkembangan mulai dari bentuk pantun dan syair yang terdiri dari empat baris sampai kepada bentuk sonata yang berasal dari Italia. Kemudian timbul bentuk puisi bebas yang telah dimulai pada masa Pujangga Baru dan melampaui puncaknya pada zaman angkatan ’45. Walau pada tahun 1973 kita dikejutkan oleh suatu bentuk puisi yang sangat aneh dan ganjil menurut ukuran Indonesia (seperti puisi Sutardji Chalzoum Bachri, Noorca Marendra dengan puisi-puisi kontemporernya), penyair puisi Indonesia modern masih berpegang pada konvensi puisi pada umumnya.
 
Mereka masih menulis puisi dalam bentuk bait-bait walau tanpa keketatan tentang jumlah larik dalam bait, pola persajakan yang teratur maupun diksi dan gaya bahasa klise. Seperti halnya puisi Surat Sunyi 1. Secara tipografi terlihat, bentuknya merupakan puisi yang disusun berdasarkan bait-bait. Istimewanya adalah bahwa bait-bait itu berkelompok ke dalam beberapa bagian yang ditandai dengan penomoran dari kelompok /1/ sampai dengan /4/. Setiap kelompok terdiri dari beberapa bait. Apakah maksud penyair melakukan pengelompokan bait ini akan kita ketahui setelah mempelajari puisi Surat Sunyi 1 lebih lanjut. Penyair yang pernah menulis puisi dengan bentuk demikian misalnya Subagio Sastrowardoyo dengan puisi berjudul Keroncong Motinggo dan Ramadhan KH dengan judul Dendang Sayang.
 
Pikiran, sikap dan perilaku manusia merupakan bahan baku utama dalam penulisan puisi, kata Renne Wellek. Pikiran atau pertimbangan-pertimbangan penyair bersifat personal dan memperlihatkan visinya terhadap realitas. Perilaku manusia yang ditemuinya dalam dunia nyata (semesta) bisa menjadi ide-ide penulisan. Pertanyaan-pertanyaan tentang apa dan bagaimana perilaku manusia beserta sikap-sikap menghadapi peristiwa, akan menjadi perenungan yang dalam bagi seorang penyair. Kebenaran-kebenaran dan pertimbangan-pertimbangan yang menjadi visinya diciptakan sedemikian rupa sehingga ciptaan tersebut masuk akal dan sesuai dengan logika imajinatif. Untuk itu struktur bahasa yang dipergunakannya disusun menurut urutan yang baik mulai dari permulaan, pertengahan sampai pada bagian akhir.
 
Puisi Surat Sunyi 1 ditulis dengan struktur sebagai berikut. Pada bagian /1/ penyair melakukan perjalanan spiritualnya dan merasakan adanya orang kedua ‘engkau’ lirik mengikutinya. Ia memasuki alam sunyi dan merasakan kerinduan batin yang muncul di setiap denyut jantungnya, di setiap perilaku, dan di setiap mimpinya. Ia mengajak ‘engkau’ lirik untuk membuka diri dan ikut mengalami petualangan spiritual yang mengasyikkan itu.
 
Pada bagian /2/ dilukiskan kemesraan antara diri dan kehidupan. Dalam sebuah perjalanan spiritual demikian penyair mengalami pertemuan batiniah dan pergumulan batin di dalam dirinya, sampai ia akan tiba di altar Yang Agung. Pertemuan dan pergumulan batin ini akan menjadi pintu untuk memasuki penyatuan yang akrab antara manusia dan seluruh kehidupan.
 
Bagian /3/ menjelaskan bahwa diri manusialah keseluruhan itu. Diri kitalah welas asih itu. Kerinduan dan cinta akan menampakkan kasih jika kita benar-benar masuk ke dalamnya. Benar-benar menghayati nilai kasih itu, bukan sekedar berkata-kata mesra dengan menciptakan cinta kasih yang berpura-pura.
Bagian /4/ menegaskan bahwa cinta kasih yang pura-pura ( atau cinta semu) akan menyurutkan cinta kasih bila kerinduan telah terpuaskan. Cinta kasih murni justru berada di belakang perjumpaan. Terjadi setelah perjumpaan. Penyair mengajak kita berjalan dengan penuh kesadaran akan cinta kasih yang menjadi cahaya kehidupan. Ia mengajak kita menelusuri setiap sudut kehidupan kita dengan cinta kasih, dan berdamai dengan apapun. Kita harus tetap melangkah tanpa melawan. Tak boleh juga diikat oleh apapun. Sebab Yang Agung ada di mana-mana, di balik apa saja.
 
Pengalaman perjalanan batin dan pemikiran-pemikiran penyair tersebut diungkapkan lewat kata (bahasa) secara sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah struktur puisi yang estetis. Pengalaman yang ditransformasikan kepada pembaca disampaikan secara efektif dengan mengekspresikan emosi, suasana hati, rasa pesona, kagum, dan sebagainya. Emosi yang ada di dalam puisi Alvin Shul Vatrick ini dinyatakan melalui detail-detail yang cocok dengan suasana dan situasi yang ingin dikemukakan. Kisah perjalanannya menuju altar Yang Agung dikemukakan secara mendetail melalui setiap peristiwa yang dilakoninya. Mulai dari awal perjalanan yang penuh kerinduan. Kerinduan itu diucapkan berulang pada bait kedua. Pertama ia menandaskan kerinduan yang berada di setiap denyut jantung. Kerinduan itu bermula ketika ia merasakan adanya cahaya yang menyinari hatinya dan dilukiskan dengan sangat indah lewat larik-larik berikut.
‘Matahari mulai terbit dari dada malamku’
‘Denting nadi telah menjadi nyanyian di telinga hatiku,
sendu kandil mata ini telah menjadi cahaya terang di sudut mataku’
 
Dan kerinduan itu pun masih ditemukan dalam setiap perilaku, dalam mimpi dan di dalam kesunyian yang dijumpainya.
 
Dalam pertemuan dan pergumulan batin yang dialaminya di perjalanan itu ia merasakan sebuah kemesraan antara dirinya dan kehidupan. Penyair mengajak ‘engkau lirik’ memasuki dan menyadari adanya kemesraan itu dengan khusyuk agar ia bisa merasakan pertemuan dua pribadi.
 
‘Ini sebuah perjalanan!
Ketika kemesraan datang,
masuk dan sadari keadaan itu
dengan sekhusyuk mungkin.
Inilah pertemuan dua pribadi,
dua raga, dua jiwa’
 
Pertemuan batin yang penuh pergumulan akan menjadikan ia dan ‘engkau’ merasakan keakraban dengan keseluruhan kehidupan. Ia mengatakan keakraban dengan keseluruhan kehidupan menyadarkan kita akan adanya cinta kasih di dalam diri kita. Bahkan kita sendirilah cinta kasih itu sehingga apapun yang kita perbuat dalam setiap langkah haruslah merupakan perwujudan cinta kasih. Tetapi dalam tingkah laku manusia, cinta kasih ini sering ditampilkan sebagai kepura-puraan sehingga kehilangan nilai murninya. Penyair menyampaikan kontras antara cinta kasih murni dan cinta pura-pura dalam baris-baris berikut.
‘Diri inilah cinta kasih itu
diri inilah welas asih itu
Kerinduan dan cinta kasih bukanlah
sekedar nyanyian kemesraan,
aku memasuki keduanya
dan membuka tirai misteri’
 
‘Kita terkadang licik
dengan menciptakan cinta kasih
yang pura-pura
sehingga merasakan hilangnya
cinta kasih atau surutnya cinta kasih
setelah kerinduan terpuaskan’
 
Dan setelah kontras itu penyair mengajak kita kembali menyadari akan cinta kasih murni yang harus menjadi cahaya dalam perjalanan hidup kita. Kita harus melangkah dengan rasa damai dan tak terikat oleh apapun, sebab di dalam perjalanan kita Yang Agung hadir di balik apa saja.
 
b. Kebaruan dan Kejutan
Bahan dasar puisi Alvin Shul Vatrick yang berupa pengalaman batin, perasaan, sikap dan pandangannya tentang ‘laku’ atau perjalanan manusia menuju altar Yang Agung itu diolah secara estetis. Selain menyertakan emosi dan suasana hati dalam proses penciptaannya, penulisan puisi juga menggunakan bahasa yang indah. Tidak terdapat kata-kata atau istilah-istilah klise di dalam puisinya. Kata-kata klise akan menimbulkan kebosanan pada pembaca, oleh karena itu penyair menciptakan kata-kata atau kiasan-kiasan yang baru untuk menyatakan simbol-simbol. Kata-kata itu disusun secara baru dan segar sesuai gaya personalnya. Hal ini menunjukkan adanya novelty dan surprise, kebaruan dan kejutan dalam bahasa puisi Alvin. Bahasa mengalami deformasi untuk menarik minat pembacanya. Metafor-metafor yang klise digantinya dengan metafora baru yang hanya penyair sendiri menggunakannya. Misalnya untuk menyatakan mulai dirasakannya ada cahaya menerangi jiwanya ia menggunakan metafora:
 
– matahari terbit dari dada malamku
– denting nadi menjadi nyanyian di telinga batinku
– sendu kandil mata menjadi cahaya terang
 
Dalam larik-larik itu kita temukan istilah baru ‘dada malamku’, ‘denting nadi’ dan ‘sendu kandil mata’. Apa yang dimaksud dengan dada malam adalah lukisan tentang hati yang gelap. Hati yang resah karena didera kerinduan batin akan cahaya terang yang menuntunnya dalam perjalanan. Dan cahaya yang diharapkannya mulai terbit sebagai matahari di tengah kegelapan hatinya, Cahaya itu diiringi juga dengan kesyahduan nyanyian di telinga batinnya sehingga matanya yang sedih seperti kandil (pelita) yang sendu pun mulai bercahaya. Cahaya yang mulai menerangi hatinya, menyemangati penyair melakukan perjalanan menemukan kerinduan untuk bertemu dengan Yang Agung di istana sunyi.
 
Tentang cinta kasih penyair mengungkapkan secara baru dengan pernyataan berikut.
 
‘kerinduan dan cinta bukanlah
sekedar nyanyian kemesraan’
 
Nyanyian kemesraan dimaksudkan oleh penyair tentang kebiasaan seseorang bila sedang merasakan cinta. Kata-kata mesra yang diucapkan kadang merupakan kamuflase seseorang untuk menutupi kepura-puraan cintanya sehingga membuai dan mengecoh orang lain yang menganggap kata-kata itu sebagai ungkapan cinta kasih. Penyair mengungkapkan persepsinya tentang cinta, yang justru hadir setelah pertemuan. Kualitas cinta diuji setelah kita menemukan apa yang kita rindui selama ini. Demikian juga kebersatuan kita dengan seluruh kehidupan diuji dalam cinta kasih itu. Apakah kita dapat menjalani hidup kita dengan kesadaran akan cinta kasih yang menuntun setiap langkah, atau kita masih dibebani oleh apapun ‘diikat oleh apapun’. Kalau kita masih diikat oleh apapun, seperti keinginan-keinginan duniawi, balas dendam, keinginan berkuasa, keserakahan dan lain-lain langkah kita akan terikat oleh jeruji pemasung jiwa. Dan kita akan kehilangan keindahan dan kenikmatan yang disediakan Yang Agung di istana sunyi. Ada tiga metafor yang indah di sini yaitu ‘jeruji pemasung jiwa’ yang bermakna hal-hal yang mengikat kita dalam perjalanan menuju ke altar Yang Agung, ‘cinta sebagai cahaya semata wayang’ dan ‘istana sunyi’.
 
b. Kompleksitas
Kompleksitas di sini mencakup integrasi imajinatif dan keragaman bahan yang diintegrasikan. Dalam puisi Surat Sunyi 1 keragaman bahannya adalah pemikiran tokoh dan pengalaman psikologis. Alvin Shul Vatrick menggunakan tokoh kita yang mencakup ‘aku’ dan ‘engkau’ lirik untuk mengungkapkan ide dan pengalaman psikologisnya. Tokoh ‘aku’ menjadi pelaku sekaligus penulis surat. Siapakah yang dituju sebagai penerima surat yang berkisah tentang perjalanan sunyinya bersama ‘engkau’ itu. Mungkin pembaca puisinya.
 
Pemikiran dan pengalaman psikologis penyair diintegrasikan secara imajinatif. Pembaca dapat memvisualkan imaji itu sebagai gambaran perjalanan hidup seorang ‘aku’ yang penuh perenungan. Pembaca dapat merasakan perasaan penyair tentang pergumulan batin yang dihadapinya. Apakah ia akan berdamai dengan semesta kehidupan dan melewati segala rintangan yang mengikat langkahnya menuju altar Yang Agung. Atau ia akan terpesona pada pikatan keindahan duniawi seperti cinta yang tidak tulus, kemesraan sesaat yang menghapus kerinduannya untuk bertemu dengan Yang Agung.
 
Dan kita dibukakan pemahaman akan kelanjutan perjalanan itu. Bahwa kita harus tetap melangkah dan menelusuri setiap sudut kehidupan dengan berdamai dengan apapun. Kisah perjalanan spiritual itu dilukiskan dengan cukup kompleks melalui susunan alur yang terangkai dalam bait-bait yang cukup panjang. Kalimat-kalimat yang digunakan sering dipotong menjadi enjambement, membutuhkan kejelian pembaca untuk merangkaikannya kembali sehingga dapat ditangkap ide kalimatnya. Contohnya seperti larik-larik berikut.
 
Bila kita telah mampu menjadi saksi
atas pertemuan diri dengan
seluruh kehidupan, maka kita telah
melampaui diri sendiri dengan
seluruh kehidupan
melampaui kedua-duanya’
 
Mari menelusuri setiap sudut kehidupan,
dan menyaksikan Yang Agung ada di mana-mana,
kita tak boleh melawannya. Tetapi,
tak boleh juga diikat oleh apapun, lewatilah!
 
Kompleksitas juga terlihat pada diksi. Penyair ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya secara intens. Untuk hal ini ia memilih kata yang setepat-tepatnya yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya. Kata-kata yang dipilih itu disusun dengan cara sedikian rupa hingga artinya menimbulkan imaji estetis. Ia menyusun kata-kata pilihannya menjadi ungkapan-ungkapan puitis seperti contoh ‘dada malam (ku)’. Dada adalah rongga tempat jantung dan paru-paru terletak. Sedangkan malam adalah waktu setelah matahari terbenam sampai terbit kembali. Malam bernuansa gelap, sehingga frasa ‘dada malam’ secara kontekstual menggambarkan suasana hati yang gelap sebelum cahaya matahari terbit menerangi jiwanya.
 
Suasana munculnya cahaya penerang hatinya itu didukung dengan ungkapan-ungkapan lain yang menggambarkan pencerahan dan harapan. Ungkapan itu adalah ‘denting nadi’ yang menggambarkan tiruan bunyi denyut nadi di pergelangan tangannya pun berubah menjadi nyanyian. Sendu kandil mata yang mengiaskan pandang mata yang seolah seperti sinar pelita yang redup dan pilu, berubah menjadi cahaya terang yang menerangi setiap sudut hatinya.
Diksi lain yang cukup kompleks artinya terlihat pada caranya menghadirkan tokoh ‘engkau’ lirik. Ia menyebutnya ‘kau yang ada di belakangku’, ‘kau yang mengikuti dan menginjak bayanganku’, diajaknya dalam petualangan, pengembaraan mengikuti kerinduan hati bersamanya. Dimintanya ‘kau’ lirik menyingkapkan ‘tirai’ atau penutup diri dan melakukan perjalanan yang penuh kemesraan. Bahkan ia mengajaknya masuk dan menyadari adanya kemesraan itu dengan sekhusyuk mungkin, masuk dengan sungguh-sungguh penuh penyerahan diri. Kemesraan itu ditemukan di dalam ‘pertemuan batin’, pergulatan batin antara pilihan mau hidup dengan cinta kasih atau terikat oleh cinta diri sendiri.
 
Bila dalam pergumulan itu kita berhasil melampaui keinginan diri dan memilih cinta kasih sebagai cahaya yang menuntun langkah kita, kita akan memasuki penyatuan, keakraban antara aku, engkau dan keseluruhan kehidupan. Dengan kemesraan demikian kita akan berjalan ke ‘altar Yang Agung’, yaitu suatu tempat dimana kita meletakkan kurban persembahan. Agar hidup kita layak sebagai kurban persembahan, maka kita harus menjadikan diri kita welas asih. Kita harus berbelas kasih dan mengayunkan langkah dengan penuh kesadaran akan cinta kasih murni, melewati segala ‘doktrin’ dan ‘jeruji pemasung jiwa’. Doktrin dan pemasung jiwa itu bisa berupa ajaran-ajaran tertentu yang menekan kita dan terali-terali yang mengikat kita sehingga tidak bebas menelusuri setiap sudut kehidupan ini.
Kita harus terus melangkah dengan cinta kasih yang menjadi penerang, menjadi cahaya dalam gelapnya kehidupan. Tak boleh ‘diikat apapun’ dalam arti tak boleh terbelenggu oleh hal-hal selain cinta kasih seperti keserakahan, cinta diri, kesombongan, dendam dan lain-lain. Kalau kita dapat melalui perjalanan hidup ini dengan penuh cinta dan welas asih, hidup kita akan menjadi persembahan yang berkenan dan layak di persembahkan di ‘altar Yang Agung’. Di ‘istana sunyi’ tempat kediaman Yang Agung itu disediakan keindahan, kenikmatan dan kebahagiaan bagi kita bila hidup kita berkenan bagi-Nya.
 
5. Penutup
Setelah kita pelajari puisi Alvin Shul Vatrick tersebut dapat kita temukan kata kunci: kerinduan, pergumulan batin, penyatuan diri, dan melangkah menuju Altar Yang Agung. Semenjak dirasakannya ada cahaya yang menerangi hatinya, penyair menyibakkan tirai diri yang selama ini menggelapkan hati, lalu meneruskan melangkah melakukan perjalanan yang penuh petualangan. Perjalanan ini mengikuti kerinduan akan ‘sesuatu’. Di dalam perjalanan itu terjadi pertemuan dan pergumulan batin yang hasilnya akan menjadi jalan masuk ke penyatuan antara diri dan keseluruhan kehidupan.
 
Kebersatuan antara diri manusia dan keseluruhan kehidupan itu menyadarkan manusia akan makna dan nilai cinta kasih. Bahwa sebenarnya cinta kasih itu berada di dalam diri manusia, bahkan diri kitalah cinta kasih itu. Tetapi terkadang kita menutupi rasa cinta dan welas asih dengan kepura-puraan. Dalam kehidupan seringkali seseorang melakukan perbuatan dengan dalih cinta kasih, tetapi sebenarnya ia melakukan tindakannya dengan tujuan tertentu demi kepentingan diri sendiri. Cinta semu atau pura-pura itu terlihat dari kata-kata yang manis, mesra, atau perbuatan-perbuatan yang seolah-olah menyatakan cinta pada sesama. Tetapi kalau kita jeli akan terlihat kepura-puraan di balik perbuatan amal kasihnya itu, seperti misalnya tujuan pamer, merendahkan orang lain, dan sebagainya.
 
Penyair mengajak kita melangkah menelusuri jalan kehidupan yang mesti kita lalui dengan mendasari segala kata, perilaku dan perbuatan dengan cinta dan belas kasih. Kita lepaskan doktrin-doktrin yang menekan dan mengikat kita. Juga kita bebaskan diri kita dari segala hal (jeruji) yang mengikat kita. Kita harus terus melangkah dan berdamai dengan apapun yang hadir di dalam perjalanan hidup, entah peristiwa yang menyedihkan, orang-orang yang membenci kita, atau situasi-situasi yang menyulitkan kita. Bahkan kita juga harus melepaskan ego dan keinginan diri sendiri. Perjalanan ini harus dilakukan dengan tuntunan cinta kasih murni karena segala perilaku kita disaksikan oleh Yang Agung; Yang Agung itu berada di mana-mana, berada di balik apapun. Kehidupan yang kita jalani dengan penuh cinta kasih ini nantinya akan menjadi persembahan hidup yang pantas dihaturkan ke Altar Yang Agung.
 
Pandangan penyair tentang perjalanan kehidupan manusia seperti yang dilukiskan dalam Surat Sunyi 1 merupakan pandangan yang berterima, dalam artian mempunyai koherensi berdasarkan fakta-fakta pengalaman. Pandangan seperti ini juga berterima secara logika. Kebenaran pengalaman yang bersifat psikologis tersebut mengacu pada hal-hal di luar sastra. Penyair menyampaikan pandangan itu secara matang setelah melalui perenungan (kontemplasi) yang dalam tentang perilaku manusia dalam hidup bermasyarakat maupun hidup pribadinya. Koherensi, kematangan dan kebenaran pengalaman ini merupakan nilai estetis dalam sebuah karya, melampaui penilaian kaum formalis yang hanya berpusat pada bentuk karya sastra itu sendiri.
 
Setelah kita kaji secara mendalam dan ditemukan adanya nilai estetis dalam keseluruhan karya demikian, tentunya dapat kita simpulkan bahwa Surat Sunyi 1 bukanlah sekedar surat. Tetapi memang puisi, berjenis puisi liris-naratif. Puisi liris-naratif adalah puisi yang bersifat menjelaskan atau menceritakan sesuatu yang diungkapkan secara ekspresif sesuai dengan cetusan hati penyairnya. Oke?
Salam penuh kasih bagi para pecinta sastra.
 
Semarang, Maret 2019
 
Pustaka
Pradopo, Rachmat Djoko, 1987, Pengkajian Puisi, Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Situmorang, B.P, 1983, Puisi : Teori, Apresiasi Bentuk dan Struktur, Ende Flores : Nusa Indah
Teeuw, A. 1989, Sastra Indonesia Modern II, Jakarta: Pustaka Jaya
Vatrick, Alvin Shul, 2018, Risalah Sunyi, Trenggalek: Rose Book
Wellek, Rene dan Austin Warren, 1989, Teori Kesusastraan, Jakarta: PT Gramedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *