Perempuan Berambut Perak (Antologi Puisi)

Editor: Alvin Shul Vatrick
Tata Letak: Alvin Shul Vatrick
Design Cover: Alvin Shul Vatrick
Penerbit: Penerbit AJ
ISBN: 978-602-53705-1-9
Cetakan 1: Desember 2018
12,5 x 19 cm, x + 106 halaman
 
Catatan Penulis
 
Makna yang diantarkan oleh puisi—terlepas dari keberhasilan puisi itu dari aspek kebahasaannya—tidaklah sama seperti makna yang diantarkan oleh berita koran. Karena di dalamnya terdapat gaya bahasa yang khas, sehingga dimungkinkan bermakna ambigu. Mungkin saja yang dikatakan “ini” yang dimaksud “itu”. Bisa saja yang dikatakan kaki yang dimaksud kepala. Pada persoalan yang seperti ini banyak pembaca yang kesulitan memahami makna puisi, lalu menganggap puisi terlalu rumit untuk didekati, tapi selama penyair mampu menjaga struktur gramatikal kata dan kalimat dengan pengurutan ide yang masih dapat dinalar serta mampu menjaga porsi penggunaan kiasan dan perbandingan, puisi tidak sungguh-sungguh sulit untuk dimaknai.
 
Sebagian besar karya dalam buku ini, dengan gaya yang cukup beragam, tidak melakukan eksperimen kebahasaan yang berlebihan sebagaimana puisi “Trem Berklenengan di Kota San Francisco” , “Tragedi Winka dan Sihka” karya Sutardji Carzoum Bachri, atau puisi-puisi Afrizal Malna yang banyak sekali melakukan penyimpangan bahasa. Di sini masih berada di wilayah konvensional, sehingga makna yang disampaikan dapat dijejak tanpa kesulitan yang berarti. Dengan demikian, saya berharap puisi-puisi yang terlahir menjadi komunikatif. Tentu saja tidak sekomunikatif iklan di televisi. Memang pada sebagian puisi terdapat kebiasan lantaran imaji-imaji abstrak yang dominan, tapi maknanya masih dapat dijejak dengan rekonstruksi semantis. Hal lain, tidaklah boleh melupakan bahwa bahasa sebagai sebuah sistem yang arbitrer, bukan absolut. Tidak selalu tampil sempurna, sebagaimana gading yang tampak cantik karena retakannya, bahasa puisi pun demikian.
 
Di dalam tubuh buku puisi ini terdapat kurang lebih 75 judul puisi. Di dalamnya, saya tidak semata ingin mengeksploitasi kesadaran diri namun lebih pada penggambaran batiniah terhadap segala macam persoalan kehidupan. Hubungan antarmanusia atau dengan alam sekitar, dapat dijadikan sebagai mediator untuk sampai pada hubungan lain yang lebih tinggi, yakni hubungan manusia dengan Sang Khalik. Saya berusaha menemukan Tuhan melalui sesama makhluk (alam semesta termasuk manusia).
 
Namun, di sisi lain ada hal yang ingin saya agungkan setelah Sang Mahaagung adalah sosok ibu. Ibu adalah muasal kehidupan manusia. Dari rahimnya manusia tumbuh dalam balutan cinta kasih dan dari kehidupannyalah manusia tumbuh dan berkembang dalam asuhan dan belaian jemari ringkihnya.
 
Perempuan Berambut Perak, pada akhirnya menjadi pilihan terbaik sebagai judul buku ini karena dirasakan lebih tajam arah yang dituju sebagai penggambaran di beberapa puisi yang tertulis tentang perempuan. Perempuan merupakan sosok istimewa yang diciptakan Allah SWT untuk menjadi makhluk yang pantas dicintai dan dihormati. Tuhan menciptakan sosok hebat terlahir dari rahim seorang perempuan dan membentuk pribadi dari didikannya. Tuhan menyertakan perasaan yang sangat kuat namun sekaligus rapuh pada diri perempuan. Perempuan Berambut Perak adalah penggambaran sosok perempuan setelah usia memerakkan rambutnya yang dulu hitam legam.
 
Semoga puisi-puisi di dalam buku ini memberikan manfaat dan pencerahan bagi pembaca.
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *