Puisi Alvin Shul Vatrick

SETIA
 
Karena bulan tak pernah ingkar kepada cahaya, jadilah engkau purnama. Pijarkan sendu biasmu pada relungku yang gamang meremang, di temaramnya ada pilu sembunyi paling diam.
 
Karena angin tak pernah ingkar kepada awan, jadilah engkau hujan. Percikkan sejuk basahmu biar pecah di kemarauku yang retak kerontang, di celahnya ada debu usang paling tenang.
Karena cakrawala tak pernah ingkar kepada petang, jadilah engkau lembayung. Merahkan pendar sagamu pada biru melebam hitam keningku, di lekuknya ada rasa kasih paling putih.
 
Dan saat malam menjemput ingatan. Pergilah, sebagai perindu yang akan pulang dengan cinta!
 
Luwu, 3 April 2017
 
 
PESAN UJUNG PENA
 
Ujung pena ini kutancapkan di hatimu ketika rindu tak lagi menetaskan mimpi indah untuk malamku. Izinkan kutikam rasamu hingga pecah dan terkulai di ranjang perawan, tempat kesaksian antara bising tawa yang bertaruh dengan air mata.
 
Ujung pena ini kusayatkan di matamu ketika lupa mulai menghapus jejakku di pantai milikmu. Seribu sendu adalah cinta, jika ada pilu yang tersesat di celah karang hatimu maka kucabik-cabik ingatan lalu membuangnya ke pangkal jalan agar engkau terlupa masa untuk bergulana.
 
Ujung pena ini kurebahkan di tidurmu ketika bising tersingkiri oleh gending-gending sunyi pengantar lelap. Kidung-kidung maharindu perlahan sayup kumantrakan menjelma cenayang mengelus sekujur mayangmu dari gelap malam hingga pagi menyapa.
 
Mendekatlah duhai! Hapus dahagamu di ujung penaku, di sana menetes air semanis surga. Yang mengalir dari hulu sungai rindu, tempat di mana jiwa-jiwa cinta bernunajat. Selepas itu, terbanglah engkau mengecup bibir-bibir embun yang berkilau, bisikkan pada beningnya. “Tuanku menantimu di cakrawala senja!”
 
Luwu, 9 Agustus 2017
 
 
SABITAH PINANG SEBATANG
Di tuturmu kunikmati guritan bestari, serupa monolog rindu menerjemah desah daun sebelum permisi dari ranting. Mungkin ada syak wasangka menitip ragu kepada mendung yang memberat di wajah sang perawi, hingga engkau begitu gemetar saat kusemat jujur di bibirmu.
 
Masih ingin kudengar kicaumu, mengapa lidah mendulang asap sedang angin menakrifkan sebuah hakikat. Mungkinkah itu sehelai cemburu yang kaukenalkan kepadaku?
Jika rembulan malam yang jatuh itu adalah engkau, ikhlas kulebur diri di ujung duri sebelum senja pamit dari cakrawala.
 
Dengarlah duhai!
Meski langit berpasir kemuning, engkaulah sabitah pinang sebatang. Ke mana biduk hilang arah, berpijak jua di cahayamu.
 
Luwu, 4 September 2017
 
 
METAFORA AIR MATA
 
Kembali mengais kata pada belukar bibirmu duhai perempuan di balik tirai. Kudapati duri sedang menuding air mata yang baru saja retak bulirnya di ujung telunjuk, salah siapa?
 
Mendung senja tadi menuntunku kepada jejak gerimis yang katamu adalah karang, akh rapuh jua! Kemudian, dengan gigihnya sang hujan menikam malam hingga pagimu berdarah. Lihai kausembunyikan merah luka pada reruntuhan purba di mataku.
 
Kubalut air matamu dengan secarik awan yang kutenun dari putihnya rindu. Bersandarlah dalam peluk pada gemuruh teluk dadaku, mendung masih menyimpan dendam pada kemarau.
 
Jika saja esok, hujan lebih runcing dari malam itu. Ajak bibirmu meneduhkan diri di ceruk paling sendu, hatiku. Berdamailah dengan kelumit mimpi yang tak menemu ujung di keterasingannya. Di sanalah aku!
 
Luwu, 01 September 2017
 
 
PERAWAN MIMPI YANG HILANG
 
Telah kucampakkan ragaku pada serpih bening kaca yang membeling. Kutakut luka itu terbaca angin, lalu dibisikkannya kepada langit. Awan menghitam marah!
 
Telah kuterlantarkan bayangku di sungai berhulu sunyi tanpa penghuni. Jika mata air menjadikannya hanyut, sengsaralah ia di ambang laut. Biarkan saja menemu takdir, pasrah!
 
Telah kurajam hatiku karena menyimpan secebis ingin yang melumat keperjakaan malam. Dan saat pagi menggurat cahaya, kuikhlaskan perawan-perawan mimpi berpamitan. Aku tak terpukau pada semburat yang saga meski emas, tetap kucintai malam walau hitam itu pekat.
 
Telah kulantakkan anganku di rongga karang yang tegak di hadapan pasir putih. Biar matahari yang api membakar hanguskan ingatan sampai leleh, semoga keteduhan senja menjadikannya cinta. Repih pun tiada mengapa.
 
Duhai perawan mimpi yang hilang!
Rindu hatiku seberapa cahaya jika kuselipkan di matamu?
 
Luwu, 8 September 2017
 
(Sumber gambar: pinterest.com)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *