Puisi Karya Hafney Maulana

MAWAR SUNYI
(Hafney Maulana)
 
 
bahasa apakah yang harus kuucapkan
 
anak-anakku menganga
di ambang pintu
sementara seikat mawar
di pigura
mengekalkan jeritan manis teramat sunyi
 
seekor kepompong bergantungan
menanti kelahiran takdir
 
sekepak kupu-kupu pun menjelma
 
dan kalender jatuh ke lantai
sebab waktu semakin tua
 
daun-daun mawar
meranggas
“selamat tinggal”
sunyi semakin sunyi
 
2017
 
 
 
 
 
DESA YANG HILANG
(Hafney Maulana)
 
 
“Jerambah nibung yang bisu ini akan jadi saksi masa kecil kita,” Selalu aku dengar ucapan ini disela telaah malam sepulang mengaji. Hanya ribuan kunang-kunang menerangi jalan kita yang penuh lubang
 
Aku terkenang mimpi-mimpi tentang istana kecil di sudut tanjung dengan atap daun-daun nipah, bulan penuh warna sebagai lampunya. “Inilah rumah masa depan kita,” katamu. Tempat melahirkan anak-anak yang akan bermain kejar-kejaran dari tiang ke tiang
 
Alangkah mahalnya sebuah mimpi, bermusim-musim penantian tak cukup dengan harap dapat menjemput. Kita tak mampu lagi mencatat kehilangan karena kita sendiri pun hanya membisu menghitung butir-butir kehancuran dengan tawa yang pedih. Istana yang kita impikan hancur berkecai ditelan gelombang pasang. Dan jerambah nibung itu pun tinggal tiang-tiang kedinginan
 
“Inilah desa kita yang tergeletak di bibir pantai,” kukenang lagi ucapanmu. Diam-diam kususuri lagi desa ini. Tak ada suara tangis atau mata yang terjaga menanti sanak keluarga pulang mengail atau menongkah di lumpur pantai
 
“Desa kita telah bisu tinggal kenangan,” suara itu melengking menusuk langit, mengulum lidah kita yang terkulai terbata-bata mengeja huruf nama desa. Di telingaku terdengar bisikanmu: “Aku pergi sebagai kata-kata!”
 
Tembilahan, 25 Oktober 2018
 
 
 
 
 
KEMARAU
(Hafney Maulana)
 
 
Hutan meranggas di tanah yang retak, mendedah segala pilu kehancuran dan kepedihan batin. Sebatang pohon yang kau tanam di halaman, kini kuntumnya mulai gugur berjatuhan bagai mengisyaratkan kekalahan pada tandusnya padang.
 
Mestikah kita berdusta pada musim tempat kita berdiam, walau ribuan simpang telah mengoyak dinding sunyi dengan kaki yang berdarah, terjinjit-jinjit menahan sakit agar kalender sampai ke rumah.
 
“Kemarau telah menghanguskan ladang-ladang kita,” katamu, berlari membelah malam sepi yang bimbang. Aroma ilalang terbakar menagih janji pada sumur paling dalam.
 
Musim kemarau telah melemparkan kita ke langit malam yang hampa tanpa mimpi, sebab waktu tak mungkin terkoyak dengan airmata. Orang-orang menyulam duka dengan cinta agar matahari yang kau nanti tersadai di langit pagi.
 
Tembilahan, 2018
 
 
 
 
 
SANG DIA
(Hafney Maulana)
 
 
“Jangan! Jangan pandang aku seperti itu,” katamu. Menyerahkan senyum ikhlas pada orang-orang yang melintas. Wajah cahayanya mencairkan segenap ruang bagi segala kemungkinan, bagi segala harapan.
 
Lalu siapakah yang masih setia mengenal segala warna, sekedar mengharap cahaya dari mata yang buta di musim yang tak pernah jujur dan berusaha singgah di pojok-pojok sunyi untuk mencari cintamu.
 
Sekali waktu kau ingin mencair dalam kehangatan sang surya antara doa dan usaha membentuk guratan di telapak tangan, tanpa harus membakar hunian serangga.
 
“Jangan! Jangan pandang aku seperti itu,” katamu lagi suatu hari. Wajahnya bermantelkan hujan, lalu seperti kelebat waktu yang datang hanya sekilas pintas singgah di lorong tanpa pintu dan jendela.
 
Lalu satu lagi, kau berkata entah kepada siapa:
“Pasir waktu tersadai di lambung ibu.”
 
Tembilahan, 24 Oktober 2018
 
 
 
 
 
MENUJU SURGA
(Hafney Maulana)
 
gaunmu tersangkut ranting
berkibar ke surga
 
berkali-kali bulan membelai
gincumu yang memekarkan mawar rindu
 
sejenak saja pada epitaf batu
tanganku memainkan warna pada sudut matamu
 
diam karena fitrah perempuanku
jadi air atau angin, sehabis bercinta
 
mari membangun surga, katamu
angin yang basah membawa salju ke mataku
 
seekor kupu-kupu tersulam di sudut gaunmu
dekat dengan hempasan napasku
 
Tembilahan, 2 Januari 2019

 

 

Hafney Maulana (lahir tahun 1965 , di Sungai Luar, Kab. Indragiri Hilir, Riau). Karya puisinya telah dimuat diberbagai media massa daerah maupun nasional dan berbagai antologi bersama. Kumpulan Puisi tunggalnya terkumpul dalam: Usia Yang Tertinggal (Batam Grafiti, 1996), Mengutip Makna Tamasya Purba (KBP, 2005), Ijab Kabul Pengantin ( FAM Publishing, 2012), 100 Sonian Hujan Dini Hari ( FAM Publishing 2016), Nikah Hari (Probi, 2016), Memetik Cahaya (FAM Publishing, 2017). Menerima Anugerah Pemangku Seni Tradisional bidang Sastra dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau, tahun 2014. Pemenang Puisi Terbaik dalam Antologi 1000 Puisi Guru Asean, Perkumpulan Rumah Seni Asnur, tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *