Puisi Religi Karya Arsyad Indradi

Zikir Berlarut
 
 
Rebana beralun alun di arus air
membaca syair keselamatan
sebagaimana perahu berarak arakan
Sungai yang melarutkan tasbih zikir
Menghambur harum kemenyan dari perapian
Malapai minyak likat baburih
Kemudian menghamburi dengan beras kuning
Lindungi dan selamati negeri kelahiran
 
Payung pucuk menyampaikan puji pujian pada Rasulullah
Lilin hakikat hati anak kami beriman dan cerdas pikiran
Diletakkan cermin cepatlah berebut
duit keping di dalam shalawat
 
Kursumangat diayun ayunan kuning
Berikat erat di tali ijuk jangan sampai putus silaturrahmi
batu pipisan di tengah watun :
Ai cepatlah menjauh segala penyakit
 
Malam hari bersuluh handayang
berlarut menghadap ke timur
Shalawat di tonggak penanjak
Gurdah di bilah pengayuh
meniupi jidad anakku beruntung bertuah
 
Banjarbaru, 2004
 
 
 
 
Terbang Burung
(Arsyad Indradi)
 
Sudah sampai di mana aku
Terhenyak di padang pasir uslah
Haus tiada tara bercucuran peluh
Rasa gelap pandangan kubuka dengan bashirah
Bumi dan langit kusisih dengan bismillah
 
Berdeburan angin beruap panas
Diketinggian gunung hauqalah bau harum
kembang al kautsar semerbak
Kupegangi erat jazim dalam dadaku
Kuiringi ke mana terbang hinggap kupukupu
 
Rasa kemalumaluan kaki melangkah
di muka pintu : Sempurnakan syahadatmu
Ruhmu sebenarnya burung yang terbang
yang mengembara ke benua asmaNya
Beri makan dengan aqa idul iman supaya sempurna
bersujud ke arasyNya
Tubuhmu sangkarnya yang harus dibersihi
dengan munazzatun ‘an kulli naqshin wa maa khahara
bil baal supaya sempurna sajadahNya
 
Jangan sungkan masuklah
Beradab dengan shalawat
Nyalai kamarnya dengan ma’rifatullah
Bukai jendelanya dengan nuruttajalli
 
Sesungguhnyalah : Laisa kamisylihi syai’un
Setelah itu bertasbihlah
 
“ Jika aku belum bermusyahadah
jangan Engkau tutup pintu ka’bah “
 
Banjarbaru, 2004
 
 
 
 
 
Dosa
(Arsyad Indradi)
 
 
Blincong bersumbu Hu Allah
Diayun padam janganlah padam
Merasuk sukma lailahailallah
Kukus dupa harum ma’rifat
Duduk menyampir zikir
 
Dosa anak adamkah di kelir berjelaga
Dosa yang kehilangan ayat ayat firmannya
Yang merincih rincih langit tiada pernah henti
Meracik racik bumi hitam darah hitam
berlumur di unjuran sajadah
 
Dosaku dosa kulik kulik elang rundak rakai
kepak yang kusut masai di atas angsana Alifmu
Parau kikis air mataku Alif Alif
Kucari ke mana jejak menuju ‘asyiq ma’syuq
Ke mana basirah ke mana seru ke mana napas
Dosaku dosa anak adam tergeletak di muara lawang
lahaula wala quwwata illa billahi al’aliyyil al’aadzim
Radam radam malam tak lagi malam
Mandam mandam siang tak lagi siang
Marcapada kehilangan terang
Tunduk tengadah Hu Allah
 
Kucabut gunung pasak tulangku alam bergoncang
Kucabut gunung tali lidahku arasy pun bergoncang
Kutancap mujahadah di gedebok raga badanku
Kutancap Hu Allah
 
Buah manggis bauntungai ke mana gugurnya
Ngandihiyay ke rumpun banta ngandihiyay
Shiraathal mustaqim tasbih yang bersusun
Ihyhy diri duhai yang meminta ampun
 
Banjarbaru, 2005
 
 
 
 
 
Zikir Madihin
(Arsyad Indradi)
 
 
Ilahi …
Lah bumi … lah bumi titian
Bumi … titian
Tujuh lapis bumi untuk titian
Tujuh lapis langit untuk pegangan
Lam jalalah jalan aku tuliskan
Merasa ringkih s’luruh raga badan
 
Kujemputi tasbih yang taburahai
Basmalah tali ikat perangkai
Supaya jalannya janganlah rundak rakai
Meniti fitrah mudahan niat sampai
 
Sesungguhnya aku gentar bermuraqabah di hadapanmu
Aku manusia yang tak bermuka tiada bersyukur atas
segala nikmatmu dan mendustakan s’luruh jalan yang
engkau hamparkan di mataku
Malam ini aku membuang maluku
Membuang sipu sipuku
Disujudku gemetar mudraku
Girisan menadah ke arasymu
Parau menyeru asmamu dalam isakku
Pedih mataku dalam cahaya matamu
 
Ya Rabbi jangan engkau padamkan lampu basirah
di tanganmu
nyalakan ma’rifatullah dalam bathinku
 
Ilahi …
Lah lemah … lah lemah lunglai
Lemah … lunglai
Lemah lunglai jiwa ragaku dalam nyala agungmu
tadzallulku tiada terkira mengotori
Riyaddhus Shalihin junjunganku
Aku sujud mencium Rabbmu
Basuhkan syahadatku dengan ayat ayat firmanmu
Bilaskan dengan air mata telaga Malakutmu
Aku manusia yang sesat dalam kasih sayangmu
 
Ilahi …
Lah bunga … lah bunga tanjung
Salaga … belah
Bunga tanjung salaga belah
Lah kunang … lah kunang
Kunang kunang di rumpun serai
Ampunkan dosaku banyak bersalah
Sebelum aku mati kita jangan bercerai
A a a a ai …
 
Amuntai, 2005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *