Puisi Tiga Dunia

Editor: Alvin Shul Vatrick
Tata Letak: Alvin Shul Vatrick
Design Cover: Alvin Shul Vatrick
Penerbit: Penerbit AJ
Cetakan 1: Desember 2018
13 x 19 cm, xii + 86 halaman
ISBN: 978-602-53705-2-6
 
Catatan Penulis
 
Puisi adalah cermin kehidupan penulisnya, baik berkait dengan gambaran moral, ideologi, sikap maupun pandangannya terhadap realitas dunia yang terbentang sepanjang sejarah. Oleh karena itu, puisi yang lahir pasti memiliki konteks sosial dan historis sebagaimana Alquran dengan asbabun nuzul dan Hadits dengan asbabul wurud. Ia akan menjadi manuskrip di segala zaman dan menjadi risalah kehidupan abadi meski dalam kefanaan jasad penulisnya. Raga pasti mati, tapi puisi yang lahir dari semua momentum akan menjadi monumen penulisnya di tengah kehidupan. Seperti Khairil Anwar, meski mati muda, tapi puisi-puisinya tetap hidup dan memberikan “kehidupan” dalam jiwa dan pikiran para pembaca tanpa dibatasi spektrum ruang dan waktu.
 
Pun, puisi-puisi dalam buku PUISI TIGA DUNIA (PTD) ini lahir dari rahim pergolakan batin yang merespon keadaan diri dan realitas meski dalam bentuk yang sangat sederhana, semacam “curahan hati”. Namun demikian dengan segala keterbatasan, penulis selalu berusaha meraciknya dengan bumbu poetik sehingga memiliki daya estetik dan mensinergikan konsep diri penulis dengan nilai-nilai ideal dan faktual sehingga terbentuk tatanan makna yang logik dan empiris. Jika harapan itu faktanya jauh panggang dari api, semoga dimaklumi.
 
Mengapa Puisi Tiga Dunia? Penulis semata-mata ingin menggambarkan bahwa puisi bisa lahir dan hidup di semua tempat bahkan melampaui ruang-ruang yang seolah tidak terjamah. Betapa ranah puisi itu luas. Saat kita mengenal puisi hanya ada di media cetak dan pegelaran sastra, tiba-tiba ia muncul secara massif di ruang cyber. Ketika pertama kali kita mengenal pantun dan gurindam lalu berkecambah genre-genre lain yang begitu heterogen, muncullah Haiku, Haibun, Pusai, Soneta, Quatrain hingga Patidusa. Ketika puisi terikat dalam tradisi kesantunan dan romantisme yang membuat orang mabuk kepayang, tiba-tiba menjadi garang dan tajam mengkritisi ketidakadilan dan ketidakidealan. Itulah puisi yang tidak hanya hidup dalam dunia yang sudah ada tapi juga akan menciptakan dunia-dunia baru sebagai ruangan luas bagi manusia untuk merayakan pertemuan dan keindahan. Puisi tidak melestarikan stagnasi karena dengan rambahan imajinasinya selalu menciptakan alternatif, kebaruan dan dinamika, maka puisi bisa ada dalam dunia pertama, kedua, ketiga dan dunia-dunia lainnya yang segera tercipta tanpa batas.
 
Tak ada tembok yang tak retak seperti halnya puisi-puisi dalam buku ini yang mungkin belum bisa sempurna membangun dirinya sebagai sebenar-benar puisi.
 
Selamat membaca!
 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *