Renjana Luka Perempuan Berkalung Sehelai Rambut (Perspektif Gender dalam Buku Kidung Asmaraloka Karya Srie Astuty Asdi) Oleh: Yeni Sulistiyani)

Dia yang bernama perempuan berkalung satu kalimat akad dalam pernikahan menjadikannya seorang istri. Kalung itu ibarat sehelai rambut. Hanya sehelai rambut yang teramat kecil, lembut, ringkih, dan mudah terputus. Sehelai rambut tersebut bukanlah seutas rantai besi yang sangat kuat menjadi pengikat sehingga tidak mudah terputus, tidak mudah terpisahkan oleh prahara apapun. Kalung sehelai rambut saja, yang saya katakan ringkih dan mudah putus, yaitu ia yang mudah sekali terputus hanya melalui ucapan talak seorang suami.
 
Ringkihnya ikatan itulah yang harus sangat hati-hati untuk dijaga dan dirawat agar tetap kuat dan tidak mudah terputus.
 
“Istri itu harus menuruti semua perkataan suami, istri itu harus siap diatur suami, istri itu harus mengikuti perintah suami…….” dan bla…bla…bla lainnya itu yang sering kali terdengar di kalangan masyarakat mendudukkan perempuan dalam rumah tangga. Dia yang bernama perempuan sering kali ditempatkan pada dunia nomor dua.
 
Ia yang bernama perempuan masih ada saja yang memosisikannya sebagai makhluk second dengan inferioritasnya. Pemahaman hidup masih saja melabeli keberadaan istri yang harus nurut manut kemudian mengabaikan keberadaan istri cerdas. Istri cerdas pun masih juga dibatasi dengan tampilan mengemukakan segala hal harus selalu anggun dan beretika pada suami agar tidak dikatakan tidak nurut atau tidak bisa diatur dan menjadi pembangkang.
 
Era sekarang, dengan adanya persamaan gender dalam kehidupan egalitarian dan kemapanan semestinya sudah tidak dikakukan dengan peryataan “Istri itu harus menuruti semua perkataan suami, istri itu harus siap diatur suami, istri itu harus mengikuti perintah suami” karena istri juga memiliki hak yang sama di dalam mengemukakan pendapat dan diberi hak yang sama dan turut serta dalam pengambilan keputusan di dalam rumah tangga.
 
Berbicara tentang keperempuanan tak jauh-jauh pastinya membahas tentang feminisme dan gender. Baik feminisme maupun gender memiliki muara persoalan yang sama yaitu menuntut persamaan hak yang sama antara perempuan dengan laki-laki. Dalam praktiknya, gender cenderung lebih berkaitan dengan masalah-masalah praktis yang terjadi dalam masyarakat atau boleh dikatakan sebagai terapan, sedangkan feminisme lebih bermain dalam wilayah teoritis. Gender bersangkut paut dengan kemaskulinan dan kefeminiman.
 
Gender didefinisikan sebagai lawan seks (Edgar & Peter Sewdick, 1999:158), bersifat psikologiskultural, sebagai perbedaan antara masculine-feminie, sedangkan seks bersifat fisiologis, kodrati, sebagai perbedaan antara male-female. Gender merupakan sebuah konstruksi sosial bukan kodrat dan bukan ditentukan Tuhan. Gender merupakan ciri yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial budaya, sedangkan seks atau jenis kelamin merupakan ciri biologis manusia yang diperoleh sejak lahir dan ditentukan oleh Tuhan (Faqih, 1997).
 
Saya tidak pernah menyangka aliran perjalanan kehidupan saya harus bertemu dengan sebuah buku berjudul Kidung Asmaraloka. Sebuah judul buku yang menarik perhatian pembaca karena asmaraloka berasal dari kata dasar asmara. Sebuah kata dasar yang memiliki interpretasi tentang cinta, hubungan antarlawan jenis, sebuah rasa yang meletup-letup dan berbunga-bunga. Asmaraloka berbicara tentang dunia cinta yang ditembangkan di alam semesta. Namun, membaca lebih dalam keseluruhan isinya saya menemukan renjana asmara yang pecah tersayat dan kepiluan. Rupanya gerak takdir saya sebagai seorang penelaah perempuan diuji adrenalin saya untuk menelaah karya sastra seorang perempuan yang sedang mengidungkan renjana luka dalam asmaraloka kehidupan dan terbukukan secara apik sebagai perjalanan kepiluan yang panjang.
 
Keperempuanan saya diuji untuk mengkritisi permasalahan perempuan di dalam masyarakat. Apa yang terungkap dalam Kidung Asmaraloka karya Srie Astuty Asdi adalah salah satu potret perempuan saat ini di bagian dunia lain yang terlahir dari pemahaman konsep tatanan kehidupan yang sesungguhnya egalitarian ini. Negara dan agama telah mengatur tentang hubungan laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga, namun interpretasi atau hermeneutika masing-masing pelaku berbeda-beda. Sementara, cara pandang terhadap aturan dan kedudukan suami-istri memengaruhi kebijakan-kebijakan di dalam ikatan. Suami sebagai makhluk nomor satu dan istri sebagai mahkluk nomor dua yang identik untuk ditata. Apakah ini sebuah keniscayaan ataukah kita akan mengelupas apa yang terdiam dengan memerhatikan tentang psikologi manusia yang sebenarnya sama-sama memiliki hati dan pikiran untuk merdeka dalam menggerakkan laku kehidupannya meskipun tetap dalam aturan normatis.
 
Puisi-puisi yang ada di dalam buku ini begitu liris. Karena lirisnya, ia membawa pembaca pada kepiluan diksi-diksi yang dipilih ke dalam puisi menjadi sebuah puisi naratif dengan aku lirik sebagai tokohnya, dan beberapa nama tokoh lain, juga kau disebutkan sebagai tokoh yang membangun puisi. Ke mana arah kritik akan saya alirkan? Pusat perhatian kebanyakan kritik sastra feminis adalah ketidakseimbangan dalam merepresentasikan citra perempuan dalam teks sastra. Perempuan selalu direpresentasikan sebagai “orang lain”, sebagai liyan, dan sebaliknya kaum laki-laki selalu sebagai pusat. Oleh sebab itu, sasaran semua kritik sastra feminis adalah membongkar kesadaran laki-laki yang andocentric dan phallocentric (Welldon dalam Ratna, 2005:236).
Sampai di titik pemahaman ini, saya akan berdiri sebagai penyuara hati perempuan dari kaca mata perempuan. Anggapan saya, bahwa perempuanlah yang paling tahu diri mereka sendiri. Perempuanlah yang paling berhak menentukan posisi dirinya dalam aspek bermasyarakat. Eksistensi perempuan muncul karena keperempuanan itu sendiri, tidak ditentukan oleh bayang-bayang eksistensi yang lain.
 
Renjana adalah rasa hati yang kuat berupa rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya. Rasa hati yang berupa rindu dapat kita temukan sebuah rasa yang begitu luas karena rindu membuat kita merasa sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Harapan ini dapat berupa kemerdekaan, kebersamaan, atau keinginan yang kuat terhadap pertemuan. Keinginan dan harapan yang begitu kuat seringkali menghadirkan kesengsaraan di dalam batin. Kesengsaraan, kepiluan, atau keresahan menimbulkan luka batin. Namun, rindu tetaplah menjadi sebuah harapan untuk tercapai meskipun harus menunggu walaupun sebenarnya bisa juga dilakukan dengan cara mencari.
 
Srie Astuty Asdi adalah ibu yang telah melahirkan Kidung Asmaraloka, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan 6 Januari 1974. Pernah sekolah di SD Pertiwi Makasaar, SMP Negeri 18 Makassar, SMA Negeri 3 Makassar. Alumni Universitas Negeri Makassar Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan Teknologi Pendidikan tahun angkatan 1992. Dan juga pernah mengambil setahun di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Jurusan Seni Musik tahun 1994-1995 masih di UNM. Gemar menulis sejak 2014, belajar sastra secara otodidak melalui media sosial. Karyanya dimuat di beberapa media online dan buku: Dalam 1001 Perjalanan Kehidupan, Misteri Rindu, Nyanyian 12 Pena, Opera Cinta dalam Sebait Puisi, Quatrain untuk Rahma, Istana Makrifat, Hitam Putih, Senandung Sukma, Kata-Kata yang Tak Menua, Harmoni Bisu, Soekarno dan Wong Cilik, Celoteh di Bawah Bendera, Arkais, Nyanyian Lembah Kaili, Antologi Syair, Syiar, dan Syar’i, Kartini dan Bunga, Kisah Mata Pena, Aksara Amerta.
 
Telah banyak sebelumnya digambarkan tentang citra perempuan kita dalam tafsir sastra. Di antaranya dalam karya sastra prosa munculnya tokoh-tokoh Sri Sumarah dalam karya Umar Kayam seorang penulis laki-laki. Sesuai namanya tokoh cerita Sri Sumarah adalah perempuan Jawa yang memiliki perwatakan sumarah/pasrah punya keteguhan, tekad yang kuat, jujur, tidak mudah putus asa, amanat, namun memiliki kepatuhan kepada suami dan adat istiadat termasuk cara berpakaian. Demikiankah cerminan ideal perempuan pada masa itu yang digambarkan oleh penulis laki-laki namun dikontrofersikan dengan ketokohan Bawuk di dalam ceritanya dengan keterbalikan perwatakan sebagai cermin perempuan modern ketika itu.
 
Selanjutnya kita kenal Sri salah satu tokoh cerita dalam novel-novel NH Dini yang bersuara tentang keperempuanan yang memegang tradisi dengan pernak-pernik dan kerumpilan-kerumpilan kehidupan sebagai seorang istri namun memiliki kekuatan memerdekakn dirinya dalam bentuk menulis. Ketokohan Sri digambarkan begitu lugas dengan permasalahan-permasalahan perempuan oleh seorang penulis perempuan NH Dini. Kepedihan-kepedihan yang liris pun tak pelak digambarkan.
 
Dramaturgi tergambarkan dalam cerita-cerita tentang sosok perempuan dengan masing-masing pandangan baik Umar Kayam sebagai penulis laki-laki dan NH Dini sebagai penulis perempuan. Masing-masing memberikan gambaran citra perempuan di dalam masyarakat.
 
Di dalam buku Kidung Asmaraloka tak luput Srie Astuty Asdi dengan lirisnya menggambarkan rekam jejak kehidupan perempuan di masa kini. Renjana sebagai perasaan cinta, rindu, kasih, sayang, bahkan luka beberapa kali muncul sebagai diksi bahkan judul puisi.
 
RENJANA
 
Pelupuk senja pendar mengatup. Mengakhiri kecupan birai jingga. Gugus awan pun mengantar petang. Pulang, menuju puncak temaram. Menunggang kencana semilir angin dan kepak sepasang camar.
 
Sebermulanya, malam mengasih asa rembulan. Meski jauh, binarnya setia mendada. Semesra gemintang rengkuh kita. Jemput impian sepanjang bekal di peraduan.
 
Sehangat selimut, kabut-kabut luruh. Setara kasih embun rebah memeluk bumi. Kisah menyemai bening usaikan elegi kemarin. Tiada lagi terdengar kidung bernuansa mendung.
 
Duhai sabda alam yang berulang menyentuh jiwa. Menyusup hingga penuhi relung. Membasuh luka dengan selaksa afeksi. Aku kini padamu! Adalah engkau yang menabuh renjana di ujung lara.
 
Makassar, 18 Januari 2018
 
Demikianlah renjana digambarkan Srie Astuty Asdi dalam puisinya. Renjana menjelma sebuah perasaan cinta yang menyelimuti dan menghangati jiwanya. Perasaan cinta memenuhi seluruh pikiran dan emosi meluruhkan hati dan jiwanya untuk ikhlas menjadi penghayat cinta.
 
CINTA YANG IKHLAS
 
Setangkup harap menyelinap dalam hasrat. Mendekap jiwa perempuanku ketika kausunting dengan sekuntum kasih. Mengganti embun yang terlanjur pulang sebelum diserap matahari.
 
Debarnya kuhidupkan dalam hening dada. Biar mengembara tak kenal musim, jarak, juga waktu. Hingga engkau tersadar, di sanalah mukimmu. Rumah, segala rasa tentang kita.
 
Engkau kuserupakan perhitungan zikir setelah Tuhanku. Separuh nyawa lebur dalam sunyi. Menyusuri penjuru ruang yang berdetak pada detik nadi menyebar rindu di lingkar jiwa.
 
Hingga, adamu terpancar di binar mata yang kausebut telaga. Telaga itulah hunian kita kinasihku! Teduh ketika engkau dan aku sama berkaca, selaku cinta yang ikhlas bertasbih dalam sakral sebuah ijab.
 
Makassar, 12 September 2017
Ini adalah sumarahnya si aku lirik dalam ikhlas mencintai pasangan yang telah mengalunginya dengan ijab menjadikannya halal bagi seorang lelaki dalam sebuah akad pernikahan.
 
Setangkup harap menyelinap dalam hasrat. Mendekap jiwa perempuanku ketika kausunting dengan sekuntum kasih. Mengganti embun yang terlanjur pulang sebelum diserap matahari.
 
Petikan bait ini memberikan gambaran renjana seorang perempuan pada pasangannya hadir setelah pernikahan. Suami sebagai penyejuk, pengganti tetes embun yang diserap matahari. Sebelum pernikahan, seorang perempuan hanya memiliki cinta tiada tara kepada keluarga. Ia memiliki ibu yang selalu membelainya, mengasihinya, menyejukkan batinnya ketika segala permasalahan kehidupan remajanya mendera. Namun, ketika pernikahan bermula peran ibu langsung digantikan oleh suami. Suamilah penyejuk jiwa tempatnya bersandar dalam segala keluh dan kesah.
 
Engkau kuserupakan perhitungan zikir setelah Tuhanku. Separuh nyawa lebur dalam sunyi. Menyusuri penjuru ruang yang berdetak pada detik nadi menyebar rindu di lingkar jiwa.
 
Suami dalam renjana si aku lirik diserupakan dengan perhitungan zikir setelah Tuhan. Dapat diartikan bahwa suamilah yang senantiasa ada dalam hatinya, yang ia sebut-sebut dalam doa-doa keselamatan disebutkan dalam kasih dan cintanya. Nama suami yang senantiasa memenuhi ruang batinnya ketika tidak ada di sisi atau jauh dari pandangannya.
 
Hingga, adamu terpancar di binar mata yang kausebut telaga. Telaga itulah hunian kita kinasihku! Teduh ketika engkau dan aku sama berkaca, selaku cinta yang ikhlas bertasbih dalam sakral sebuah ijab.
 
Renjana terus melingkupi hubungan cinta menjadi sebuah telaga. Seperti danau di pegunungan yang menyejukkan. Kesejukan yang setenang telaga karena kedalaman cinta kasih terpatri suci dalam janji akad.
 
SEMINAI RINDU
 
Rindu menggurat di pucuk daun. Rebah, lintang melayu. Lunglai di jerit matahari. Pulangkan embun terayun di bulu sembilu. Merintih dengan tetesan sedu.
 
Embun itu engkau kekasihku! Geming di sudut netra. Cerminan jiwa berbayang gelisah. Remuk tersebab senja kemarin menaruh api di petang tak berpelangi. Hingga malam seteru dengan kabut, masih engkau pulas membasuh.
 
Kueja tiadamu dengan angka bilasan almanak. Betapa waktu serasa menguncup. Mengecup seluruh pilu, yang entah ke mana lagi kulayangkan. Sedang Tuhan saja tak cukup tuk mendekap.
 
Kembali, kembalilah duhai!
Merasai, rasamu jua rasaku. Usaikan tikai membelati pikir. Pangkas rimbun sunyi berduri. Timbun ranah kita semaikan semi. Perempuanmu kini menanti dengan seminai rindu.
 
Makassar, 08 September 2017
 
Seminai Rindu mengingatkan kita pada kuat dan kokohnya kayu panel bila dipasah menjadi halus permukaannya namun kuat. Mungkin demikianlah rindu begitu halus, kuat, dan kokoh bagi si aku lirik. Rindu yang berkualitas dalam bangunan rumah tangga seperti kokoh dan kuatnya kayu panel dalam sebuah bangunan rumah.
 
Kueja tiadamu dengan angka bilasan almanak. Betapa waktu serasa menguncup. Mengecup seluruh pilu, yang entah ke mana lagi kulayangkan. Sedang Tuhan saja tak cukup tuk mendekap.
 
Ketidakhadiran pasangan dalam beberapa waktu yang lama menghadirkan kegelisahan-kegelisahan dan kepiluan. Bahkan keberserahan diri pada Tuhan pun belum mampu menghapus kegelisahan dan keresahan.
 
Kembali, kembalilah duhai!
Merasai, rasamu jua rasaku. Usaikan tikai membelati pikir. Pangkas rimbun sunyi berduri. Timbun ranah kita semaikan semi. Perempuanmu kini menanti dengan seminai rindu.
 
Kepulangan kekasih hati adalah satu-satunya penghalau keresahan dan kegelisahan yang menusuk-nusuk hati. Rindu yang pilu pun menjadi duri dalam batin karena menggelisahkan dengan kekhawatiran-kekhawatiran meskipun doa-doa dan penyerahan diri pada Tuhan telah terus dilantunkan.
 
SENANDUNG CINTA WANITA BERMATA HUJAN
 
Terkisah wanita bermata hujan berbulu rindang. Sunyi dianggap nyanyian ombak bergelombang sedang malam adalah buta benderang di tengah air pasang.
 
Beribu sengketa menikam hasrat, menyulam kalam-renjana mengikat. Mengurai, meraup suara-suara sumbang menjerat. Gubahan rindu menggunung dari pekat cemburu yang semakin melarat.
 
Senja di wajah cinta berkabut, membelah buih- buih hanyut. Ayat- ayat alam sabdakan penat, tertimbun gigil-gigil lara yang melekat. Hujaman dingin beku, tak jua larut.
 
Kecamuk riak angan mencumbu hening. Menggantung di dahan-dahan rapuh nan lembab. Mengawang kitari geming awan, terperangkap pada langit-langit berlubang.
 
Jingga pun berarak membias kelabu, mengabu sewarna tumpukan debu. Seolah menjahit jaring di peraduan dalam kelambu. Sembari bersenandung tentang kabut-kabut jatuh di tanah berbatu.
 
Bergantilah dikau musim! Semikan kembali negeri khayalku. Tumbuhi kelopak-kelopak ranum kembang andewi, menjuntai di rambutku. Sekemilau bening, manakala alam beralih musim. Pancarkan pijar, menghapus bulir basah di binar mata.
 
Makassar, 10 September 2016
 
Tak ada cinta yang tak diwarnai cemburu. Bahkan, ada yang mengatakan cemburu adalah tandanya cinta. Cemburu ibarat bara api yang membakar jiwa. Kecemburuan bisa muncul kapan saja dan di mana saja bahkan kepada siapa atau apa saja. Cemburu ini yang seringkali meretakkan segumpal hati tergores oleh pisau cintanya. Hidup semata mencinta dengan ikhlas memanglah sulit karena hati ingin adanya kesetiaan. Cinta menjadi sebuah milik yang tak ingin termiliki oleh yang lain. Cinta si aku lirik membentuk sebuah keegoan untuk tidak ingin dibagi dengan apapun bahkan kepada hujan ataupun angin.
 
Puisi sebagai sarana estetis dengan memanfaatkan medium bahasa telah secara khas dilahap penuh oleh Sri Astuty Asdi. Gaya berbahasa yang ritmis dan sublim dia bangun puisi-puisinya sehingga membentuk sosok pribadi tulisan yang sekaligus menggambarkan sosok pribadi penyair. Ekspresi personal yang tergambar jelas dalam puisi-puisinya sebagai bentuk luapan perasaan atau produk imajinasi yang beroperasi dalam persepsi-persepsinya.
 
Dalam hal ini, aspek emosional lebih tampak menjadi corak warna makna yang tertangkap dari tulisan menjadikan puisi-puisinya sebagai sebuah bahasa perasaan. Di sini, fungsi emotif menjadi lebih menonjol daripada fungsi-fungsi yang lain misalnya intelektual, sainstik, ataupun kritik secara menonjol. Fungsi kritis dalam puisi-puisinya ditujukan untuk diri sendiri juga yang terjadi di lingkungan pribadi penyair sendiri, walaupun sesungguhnya ketika makna telah tertemukan bagi pembaca hal-hal yang dialami dan disampaikan penyair pada akhirnya menjadi ragam permasalahan secara universal. Artinya, sesungguhnya bahasa dalam puisi sebagai sosok pribadi penyair lebih difungsikan untuk menggambarkan, membentuk, dan mengekspresikan gagasan, perasaan, pandangan, dan sikap penyairnya. Oleh karena itu, di dalam puisi sesungguhnya berdiri pribadi penyair lengkap dengan latar belakang kebudayaan, ideologi, pendidikan, sosial, dan sikap penyairnya.
 
Semakin jauh berhadapan dan membaca puisi di dalam buku Kidung Asmaraloka karya Srie Astuty Asdi semakin jauh pula pembaca diajak bertegur sapa dengan jiwanya. Kidung Asmaraloka benar-benar menjadi sebuah ungkapan kecintaan yang meruang dan mewaktu dalam jiwa penyair menjadi nyanyian dunia yang begitu indah. Hal ini dapat kita simak dalam puisi berikut.
 
SEPASANG MERPATI
 
Tak habis-habis aku mencintaimu dalam sentuh raga pada hidupnya ruh doa. Selayak pandang di gulita ruang, berdua kita sanggamai gelap. Meraba cinta yang semesta dan aku dapat melihatmu dengan cahayanya.
 
Cinta sepasang merpati terpatri janji. Berdua mengepak angin ‘tuk sampai ke menara suci. Basah, memeluk hujan asuhan awan. Merangkul badai dalam kepak terjang. Segala penjuru tergubah cinta di lingkar cincin tersemat.
 
Aku dan engkau tak teringkari ayat-ayat kekasih yang telah sama kita sabdakan. Pada peraduan langit bertilam gemintang. Disaksikan alam dan Tuhan. Hingga kuterasa hambar dan jauh, bila bukan denganmu.
 
Makna kasih hanyut terbawa indah, belaimu begitu puitis! Aku lunglai saat kaueja tubuhku. Nyaris tak menemu kata apa yang ingin kubisikkan.
 
Bersamamu aku nyaman, duhai merpati putihku! Tiada lain selainmu yang menempati seluruh buluh-buluh perindu, sampai aku takluk, lemas, dan terkulai!
 
Makassar, 28 November 2017
 
Inilah Srie Astuty Asdi dalam puisi. Tunak dia mencukupi puisinya dengan diksi terbaik dalam bahasa yang sempurna. Digambarkannya cinta sepasang merpati sebagai gambaran renjana di dalam dirinya kepada pasangannya.
 
Namun, tak ada gading yang tak retak demikian pula dalam cinta selalu didera ujian-ujian untuk menguji kekuatan cinta. Perselisihan, perseteruan, kecemburuan, dan keegoan pun menjadi warna dalam cinta. Menghianati atau dihianati menjadi salah satu warna hubungan sebuah pasangan. Sekuat apapun cinta digenggam adakalanya terlepas perlahan memupuskan harapan-harapan.
 
RENJANA YANG PUPUS
 
Pupus renjana. Repih tertumbuk karang. Sayap-sayap kasih patah dihentak prahara. Senjang jiwa terhempas. Menahan tamparan angin yang diamuk amarah.
 
Kuakui, aku bukan mentari purna hangati ruas dadamu. Hanya separuh rembulan, pemuja amor di balik jubah pemujamu yang lain. Bulan sunyi hilang perawan di pematang senja. Berlayar ke puncak jingga mengharap pendar seribu asihmu.
 
Teramat sendu kupuisikan engkau. Kutakluk pada kidungmu nan aduhai. Begitu sarat menyentuh jiwa, runtuh seluruh jumawa. Dikau elegi yang luruh di debar romansa. Aku terkesima!
 
Jika badai kali ini tak lagi mekarkan renjana. Tersebab asa yang tiada sanggup ‘tuk melepasmu. Maka, sebelum sabit merapat pada gulita, izinkan lawas riang kita kutitip di rimbun keningmu, dalam cumbu dan linang pejaman mata.
Makassar, 28 Januari 2018
 
Ada saja badai kehidupan menjadi sebuah prahara yang menghempaskan cinta. Kekurangan-kekurangan pasangan seringkali menjadi salah satu pemicu retaknya sebuah hubungan. Ketidakberterimaan terhadap kekurangan salah satu pasangan menghadirkan perasaan-perasaan yang ingin lebih dan lebih dari yang telah dimiliki.
 
PATAH ANGAN
 
Kembali kuramu lamunan pada awan yang engkau arak. Kuikuti putihnya selayak kapas bertawaf di penjuruku. Dan bertanya, sesungguhnya engkau hendak ke mana?
 
Mataku berkejaran menyambangi arahmu. Punguti cahaya yang kautebar di mekar senja selaik mawar. Seketika seluruhku durja, melihat putik asaku berjatuhan. Engkau merangkai mendung di langitku.
 
Masa beralih musim.
Semi kemarin gugur disertai angin. Menerbangkan rasa, bergumul dengan rapuh sebelum lesap. Ada rindu bersembunyi di balik tirai, rebas. Nanar bersimbah air mata. Hanya puisi menjadi saksi tentang lara yang bicara.
 
Duhai pujangga jiwa … bilakah engkau tahu, perempuanmu kini tenggelam dalam tumpukan daun kering? Memujamu serupa syair hujan di duka kemarau yang mematah-matah angan. Dan engkau, masih sanggup menuai tawa.
 
Makassar, 04 September 2017
 
Puisi tersebut menunjukkan betapa pupuspatahnya harapan si aku lirik. Hal ini dapat disadari bagi pembaca sebagai kulit atau bahkan telah menuju ke dalam daging gejala yang dibangkitkan penyair sebagai sebuah luka dan kepiluan namun bukanlah merupakan sesuatu yang berlebihan. Ini merupakan salah satu tanggung jawab moral penyair, yaitu keinginan untuk berbagi kehidupan, pikir, dan rasa dengan sidang pembaca. Luka dan pupusnya harapan menjadikan penyair lebih mencintai puisi. Puisi menjadi rekam jejak perjalanan hidup yang liris untuk dituliskan sebagai luapan perasaan yang melegakan baginya. Melalui puisi penyair menyampaikan pesan-pesan dan berwasiat kepada pembaca dari kata-kata yang dituliskan. Dipilihnya puisi sebagai kawan kehidupan paling setia yang menemani hingga akhir kehidupan. Puisi sebagai salah satu penyuara pemberontakan batin penyair yang harus dilahirkan menjadi suara nyanyian.
 
WASIAT PUISI
 
Ketika aku tiada …
Pada hatimu dirikan mahligai pusara. Kuburan sunyi, mahkota sucinya penjara. Berdiam ruhku, hidup dan tetap ada.
 
Rumah abadi tegar nan berpagar. Terpancang ikrar, sekitar ditumbuhi mawar. Di tanah merah paling senyap bersenjang, berdinding penantian pada sekala senjang.
 
Pucuk-pucuk kamboja menebar wangi, semerbak duka lara semasa merindui. Pahami, bagai luka jingga di ranah elegi Namun akan kembali, menawar romansa dalam puisi.
 
Ketika aku tiada …
Kuwasiatkan engkau untuk setia!
 
Makassar, 20 Desember 2016
 
Penyair telah tunai menyuarakan kepiluan hingga tergapailah kepasrahan-kepasrahan hidup. Di dalam diri serupa pesakitan atas ketidakberdayaan dirinya melawan takdir atau tepatnya ketidaknyamanan diri dan keinginan-keinginan untuk terjadi perubahan hidup pada akhirnya harus diakhiri dengan keikhlasan untuk berterima dengan keadaan.
 
Banyak alasan bagi kita untuk tetap bertahan dalam keadaan yang kurang ideal pun semata karena dan untuk cinta. Bukan hanya cinta kepada pasangan namun pada buah-buah cinta dan pada pemilik cinta sejati sebagai pengalaman untuk menggapai transendental dan penghambaan diri pada cinta Yang Mahaagung.
 
SURAT TERAKHIR KAKANDA
 
Peluk hangat adinda. Adamu sehangat mentari, secantik rembulan, sebiru lautan, di tengah jarak berbisik satu hati.
 
Kala jeda tiada, usah ada belenggu resah. Biar masa taklukkan sua ketika runcing gigil hujan menghunjam unggun rindu.
 
Bila awan tak usai menangis, mari menjadi langit. Pinang saja asin linang itu biar tabah mengecup mata. Tegar! Meski duka berputar setara halilintar.
 
Jika nanti aku telah hangat di dada malaikat, usah hidup terbawa pekat. Bayang ini dekat sewujud mawar saat kusunting suci bidadari.
 
Andai semilir subuh peluk raga rapuh, bertahanlah! Meski luruh kabut selimuti jiwa. Keluh ‘kan hilang rengkuh ketika rembulan terbit di pelupukmu.
 
Jalin mimpi bertasbih di jari sepuluh, gelar sajadah menghantar suluh. Pinta jiwa kukuh meski bumi akan runtuh.
 
Kembali sebebas camar mencintai laut lepas. Temaram layung layang dalam deru, hingga karang tak lagi perih diterjang serpih ombak.
 
Adinda … mari kita pulang pada sesungguhnya tempat berpulang. Sekiranya dapat menghapus rindu yang sempat ditelantarkan berpuluh musim.
 
Makassar, 27 April 2018
 
Membaca puisi pembuka buku ini dan setelah membaca keseluruhan puisi di dalam Kidung Asmaraloka saya simpulkan ini sebagai penutup kisah yang semuanya liris tertulis dalam lembar-lembar puisi.
 
Ketika cinta dikembalikan pada pemiliknya sesungguhnya akan melahirkan kecintaan yang merelakan dirinya untuk melepaskan diri dari belenggu keinginan dan harapan. Kecintaan yang melahirkan kemerdekaan jiwa untuk berterima dengan cinta yang hakiki. Puisi merupa “kesaksian” yang menjadikan keyakinan tumbuh dalam diri penyair atas hidup dan kehidupan.
 
Demikianlah kidung cinta berkumandang dalam kehidupan manusia dengan semua kerumpilan-kerumpilan kisah sebagai warna. Pengalaman-pengalaman manusiawi yang mutlak dan penuh perenungan dengan ekspresi yang bersahaja membawa pembaca merasakan adanya tanggapan yang bangkit dalam diri secara tiba-tiba untuk turut merasakan apa yang dirasakan penyair. Puisi-puisi tersebut menyampaikan pesan yang bisu, dan kebisuan merupakan elemen penting dari setiap ekspresi puitik. Semua itu karena, lubuk hati dan perasaan pembaca adalah sasaran yang ingin dicapai dengan kata-kata puisi, dengan sarana bahasa yang mengedepankan fungsi konatifnya. Fungsi tersebut baik untuk secara praktis, ekspresi diri, artistik, fisiologis, integrasi dan adaptasi sosial, kontrol sosial, ataupun bahkan memelajari ilmu pengetahuan dan teknologi.
 
Perempuan sesungguhnya dapat menjadi penyejuk mata bahkan penajam pikiran bagi pasangannya. Bahkan, kecerdasan perempuan/istri dapat pula menjadi penunjuk jalan bagi suami bila dalam kebuntuan. Itu pun tak lepas dari peran perempuan yang cerdik dan cerdas di dalam rumah tangga. Namun, masih saja ketimpangan-ketimpangan sosial dan ketidakadilan terjadi padahal dengan keberterimaan terhadap kekurangan dan kelebiahan pasangan. Jalan bermusyawarah dan kesepakatan bisa ditemukan dalam rumah tangga dengan kesejukan berbicara sehingga satu kalimat akad bukalah sebuah rantai belenggu yang mengalungi perempuan, namun sebuah perhiasan yang harus dijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *