WARNA ALAM DALAM PUISI-PUISI DIEN DJUSNI Oleh: Margaretha Wida

Pengantar

Di zaman teknologi canggih seperti sekarang, saling bertutur tanpa bertatap muka merupakan sebuah keniscayaan. Tanpa bertatap muka komunikasi terjalin. Bentangan laut dan pulau tak lagi menjadi batas. Berkirim puisi pun tak lagi mengandalkan gelombang radio atau menunggu terbitnya koran pagi. Demikianlah maka banyak puisi tercipta, diunggah di dunia maya. Setiap orang dapat mencipta dan membaca puisi dengan mudah sehingga tingkat apresiasi sastrapun diharapkan meningkat. Walau belum diadakan penelitian serius tentang tingkat apresiasi puisi oleh pembaca dunia maya, dapat ditengarai bahwa apresiasi terhadap puisi itu ada. Hal ini terlihat dari komentar-komentar yang mengikuti unggahan puisi di facebook, baik secara pribadi maupun di dalam grup. Selain salam-salam say hello dari kenalan dan kerabat, ada pula tersisip kesan pembaca. Bahkan juga mengupas puisi tersebut bersama penyairnya.

Iklim demikian mendorong lahirnya banyak puisi di negeri ini. Mencipta puisi bukan lagi wilayah penyair. Seorang dengan berbagai latar belakang budaya, pendidikan, tempat tinggal, pandangan hidup, dan lain-lain dapat mengekspresikan pengalaman estetis lewat puisi.
Pada masa sebelum era komunikasi digital, puisi-puisi Indonesia pada umumnya bercerita tentang kegelisahan masyarakat perkotaan. Kemelut kultur internasional yang merambah di kota-kota besar menjadi ilham sebagian besar penyair untuk bersuara. Gegar budaya yang terjadi akibat belum siapnya masyarakat Indonesia yang agraris beralih ke alam modernisasi yang serba otomatis. Masalah-masalah yang muncul akibat gegar budaya itu, dan ketimpangan-ketimpangan sosial yang ada akibat berubahnya tatanan kota dan tatanan nilai di dalamnya, menjadi ladang garapan sastrawan.
Sastra menampilkan wajah kultur zamannya. Dan karena pada waktu itu Jakarta merupakan pusat penerbitan karya-karya sastra di Indonesia maka persyaratan dipublikasikannya suatu karya banyak ditentukan oleh tokoh-tokoh sastra ibukota itu. Hal ini lebih memperkuat lagi warna metropolitan di dalam karya sastra. Dan warna metropolitan tersebut menyebar ke kota-kota lain. Para penulis daerah pun memaksakan diri menggumuli masalah kota (baca: Jakarta) agar karyanya lolos dari dewan kurator penerbit. Yang masih ingin bercerita tentang masalah-masalah kedaerahan menulis di koran-koran atau majalah-majalah lokal terbitan daerah setempat.
Para pengarang hanya bisa hidup dan besar di Jakarta atau melalui Jakarta sebab penerbitan dan distribusinya melalui Jakarta. Akan tetapi sejak dimulainya era digital masalah penerbitan dan distribusi tidak lagi berpusat di Jakarta atau kota besar lainnya. Kecanggihan teknologi mampu menyiarkan karya seseorang secepat kilat tanpa harus melalui seleksi dewan kurator. Seseorang tidak harus menjadi sastrawan atau penyair untuk menuliskan pengalaman estetis dan menyiarkannya di media sosial. Mengenai seberapa bernilai-literernya sebuah karya sastra, itu diserahkan pada pembaca yang berkompeten dalam menelaah sastra.
Kini orang dan sastrawan Indonesia yang berasal dari berbagai daerah dapat bercerita tentang daerah dan masalah-masalah yang aktual di sekitarnya. Persoalan dan kehidupan daerah setempat yang menjadi obsesi pengarang dapat dituangkan ke dalam karya dan diunggah di dunia maya. Dan secepat unggahan ditampilkan, secepat itu pula pembaca dari seluruh nusantara dapat melihat dan menikmati karya yang biasanya membiaskan warna lokal daerah yang dimaksud. Warna lokal dapat tersaji lewat tokoh dan dialog yang ditampilkan, petikan kata-kata atau ungkapan yang merupakan kearifan budaya, setting atau latar cerita, persoalan yang ditampilkan dan sebagainya.
Dien Djusni tidak lahir dari sebuah keluarga sastrawan. Ia lahir dan melalui masa kecilnya di Tarakan, sebuah pulau di provinsi Kalimantan Utara. Walau sempat merantau di Makasar untuk bekerja tetapi pengalaman dan milieu masa kecilnya tetap terpateri di dalam hati. Kembali ke daerah kelahiran dan bekerja sebagai wiraswasta yang mandiri, pengalaman masa kecil itu menguak kembali berupa coretan-coretan puisi. Ia sering menggunggah coretan penanya di media sosial, dan kegemaran itu berlanjut menjadi hobby baru. Sejenak ditinggalkannya hobby bermain catur. ‘Kudanya’ tersesat di belantara kata, selorohnya, namun bila ada lawan bidak-bidak caturnya akan melangkah lagi.
Agaknya hobby baru ini menarik untuk digeluti. Ikut dalam beberapa karya bersama, sejumlah puisinya sudah diterbitkan oleh sejumlah penerbit di daerah. Namun tak pernah ia kehabisan persediaan puisi. Alam Kalimantan dan bakat alam yang dimilikinya menjadi pendorong terciptanya puisi-puisi baru. Alam seolah tak henti memberi inspirasi bagi terciptanya puisi-puisi baru. Warna alam apakah yang dapat kita nikmati lewat puisi-puisi Dien Djusni, dan bagaimana ia menyajikan alam itu di dalam puisinya akan kita ketahui setelah kita urai satu demi satu puisi yang tersaji.
Citraan, Metafora, dan Lambang
Kalau kita mulai mempelajari makna puisi dari keseluruhan strukturnya yang kompleks berarti kita mulai berhadapan dengan inti struktur puitis yaitu citra, metafora, lambang dan mitos. Secara semantik keempat istilah itu saling bertumpang tindih. Urutan keempat istilah itu tidak mesti demikian. Mungkin metafora bertumpang tindih dengan citraan dan sebaliknya. Sebuah metafor dapat menggambarkan suatu citra dalam puisi, demikian juga sebaliknya sebuah citraan mendorong seorang penyair menciptakan metafor dalam puisinya.
Citraan dan metafora menghubungkan puisi dengan unsur-unsur lukisan, mengandung unsur-unsur estetis yang indrawi, dapat dilihat atau dirasakan dengan alat indra kita. Misalnya alam sekitar entah perkotaan atau pedesaan yang ditampilkan dapat dindra secara imajinatif oleh pembaca. Penyair menyajikan alam itu dalam bentuk metafora dan pembaca menghadirkan lukisan alam itu ke dalam imajinya.
Citraan disebut juga imaji (imagery), adalah gambaran-gambaran angan dalam puisi. Citraan ini adalah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji. Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang disajikan pengarang atas sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata, didengar, dirasa dan sebagainya. Pembuatan gambaran ini hendaklah jangan berada di luar pengalaman kita sehingga dapat membingungkan pembaca. Misalnya imaji tentang tinggal di dalam perut bumi. Sukar dibayangkan keadaannya. Tetapi bila penyair menggunakan imaji-imaji tak masuk akal demikian, puisi yang diciptakannya akan bersifat absurd dan menuntut pembaca berkerut kening untuk memahaminya.
Di tangan seorang penyair yang bagus imaji itu segar dan hidup, berada di puncak keindahannya untuk mengintensifkan, menjernihkan dan memperkaya. Sebuah imaji akan menolong orang merasakan pengalaman penulis tentang objek dan situasi yang dialaminya, memberi gambaran yang setepat-tepatnya sehingga dapat dirasakan sebagai sesuatu yang dekat dengan pengalaman hidup pembacanya.
Jenis-jenis Citraan
Gambaran angan (citraan) ada bermacam-macam, dihasilkan oleh indra penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, bahkan juga diciptakan oleh pemikiran dan gerakan. Citraan yang timbul oleh penglihatan disebut citra penglihatan atau citra visual. Ini jenis yang sering digunakan penyair dibandingkan dengan citraan yang lain. Citra visual memberi rangsangan kepada indra penglihatan hingga sering hal-hal yang tak terlihat jadi seolah-olah terlihat. Misalnya puisi Chairil Anwar berikut.
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
(Sajak Putih)
Citra pendengaran juga sering digunakan oleh penyair. Citra ini dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara. Seringkali digunakan bunyi onomatopeyaitu menirukan suara binatang dan lain-lain. Contohnya:
Ada podang pulang ke sarang
tembangnya panjang berulang-ulang
Pulang ya pulang, kau petualang!
(ADA TILGRAM TIBA SENJA, Rendra)
Citra perabaan jarang digunakan oleh penyair, begitu juga citra penciuman dan pencecapan. Dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu kita seperti mencium bau sesuatu. Atau juga kita seperti mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa tertentu. Misalnya:
Dua puluh tiga matahari
bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
(Rendra)
Citraan gerak menggambarkan sesutu yang sesungguhnya tidak bergerak, tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak. Citraan ini membuat hidup dan gambaran menjadi dinamis.
Pohon-pohon cemara di kaki gunung
pohon-pohon cemara
menyerbu kampung-kampung
bulan di atasnya
menceburkan dirinya ke dalam kolam
(SARANGAN, oleh Abdul Hadi)
Metafora
Citraan dapat dibangkitkan melalui metafora. Dunia acuan citraan menunjuk pada hal-hal yang menjadi acuan citraan dan menghasilkan metafora. Dunia acuan citraan itu menunjuk pada hal-hal yang berhubungan dengan alam, seni budaya, industri, kota, desa dan sebagainya. Selain itu objek-objek seperti kelahiran, kematian, wanita, pandangan hidup dapat pula menjadi acuan untuk menghasilkan metafora. Seorang penyair dapat menggunakan alam, misalnya bunga mawar, untuk melukiskan kecantikan seorang wanita. Tetapi dapat juga menggunakan objek wanita untuk melukiskan dunia yang penuh godaan. Misalnya sajak Subagio Sastrowardojo berikut.
Bumi ini perempuan jalang
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
ke rawa-rawa mesum
(Dewa Telah Mati)
Metafora terdiri dari dua term (bagian) yaitu term pokok (principal term) dan term kedua (secondary term). Term kedua juga sering disebut vehicle term. Term pokok menyebutkan hal yang dibandingkan sedangkan term kedua adalah hal yang untuk membandingkan. Misalnya dalam metafor ‘bumi adalah perempuan jalang’, bumi adalah term pokok sedang ‘perempuan jalang’ adalah vehicle. Seringkali penyair langsung menyebutkan term pokok seperti ‘Hidup ini mengikat dan mengurung’. Hidup diumpamakan sebagai tali yang mengikat dan sebagai kurungan yang mengurung. Dalam metafora ini yang disebutkan bukan pembandingnya tetapi sifat pembandingnya.
Di samping itu ada metafora mati yaitu metafora yang sudah klise sehingga orang sudah lupa bahwa itu metafora misalnya kaki gunung, kaki kursi, kaki meja, dan sebagainya.
Dengan metafora yang dibuatnya seorang penyair dapat menghadirkan alam, budaya, suasana kota, desa, dan sebagainya. Suasana akan diterima oleh pembaca di alam angannya sebagai gambaran angan (imaji) baik yang bersifat visual, pendengaran, rasa, gerak, dan lain-lain. Seorang penyair dapat membandingkan seorang gadis cantik dengan sekuntum bunga, atau kegagahan laki-laki dengan elang yang mengepak di langit. Jika citraan itu terus-menerus muncul sebagai perujudan mewakili sesuatu, citraan itu dapat menjadi lambang. Bahkan dapat menjadi bagian dari sistem yang simbolis.
Simbol atau lambang ialah sesuatu yang mengandung arti lebih dari apa yang terdapat di dalam fakta. Hampir semua orang tidak asing dengan bermacam-macam simbol. Simbol yang umum dapat kita pahami maknanya dengan mudah misalnya cahaya melambangkan pengetahuan, malam atau kegelapan melambangkan ketidaktahuan. Tetapi dalam usahanya meningkatkan emosi dan meluaskan pengalaman, seorang penyair terkadang menciptakan lambang-lambang tersendiri yang bersifat pribadi.
Warna Alam dalam Puisi-Puisi Dien Djusni
Ada empat puisi Dien Djusni akan kita kupas dalam tulisan ini yaitu (1) Bunga Sekuntum, (2) Biarawati di Rimba, (3) Purnama dan (4) Kembali Purnama. Dua puisi yang disebut pertama bercerita tentang seorang gadis. Pada puisi Bunga Sekuntum penyair menyajikan sebuah lukisan tentang bunga yang tumbuh di ladang ilalang.
Bunga Sekuntum
Oleh: Dien Djusni
Bunga sekuntum di padang ilalang
merekah mekar menabur pesona
mewangi pagi olehmu
Alang-alang menggigil basah
belalang-belalang berloncatan gelisah
kumbang-kumbang ramai mendesah
kabut senyap-melenyap
tiada pesan
angin berhembus singgah menggoda
Bunga sekuntum tersenyum
menyapa semesta
Sang elang di rindang pohon menjulang
mengintip tak berkedip
terpinang cemburu
membuta
(Tarakan, 11 Juni 2019)
Ada beberapa jenis citraan ditampilkan Dien dalam puisi ini seperti citraan visual, penciuman, rasa dan gerak. Citra itu dinyatakan dengan bahasa kias bermajas metafora dan personifikasi. Tentang metafora sudah kita bicarakan di muka yaitu bahasa kiasan perbandingan tetapi tidak menggunakan pembanding, misalnya:
(1) Bunga Sekuntum di padang ilalang
(2) Sang elang di rindang pohon menjulang.
Dalam metafor ini seorang gadis dibanding dengan bunga sekuntum yang tinggal di padang ilalang. Tentu bukan padang ilalang dalam arti sebenarnya. Penyair menyamarkan tempat tinggal si gadis sebagai padang ilalang, mengacu pada sebuah daerah yang masih alamiah, belum tercemar oleh hiruk pikuk kota besar. Dan ‘Sang elang di rindang pohon menjulang’ menggambarkan pemuda perkasa yang tinggal di sebuah lingkungan kehidupan mapan dan berkecukupan.
Namun bukan hanya elang yang memuja si gadis, juga pemuda-pemuda biasa dari berbagai macam kalangan yang dimetaforkan sebagai ‘alang-alang’,’belalang-belalang’ dan ‘kumbang-kumbang. Metafor yang digunakan penyair untuk menghadirkan citraan visual tentang gadis dan pemuda-pemuda itu diungkapkan dengan gaya bahasa personifikasi. Gaya bahasa ini mempersamakan benda dengan manusia. Benda-benda dibuat seolah-olah dapat melakukan perbuatan-perbuatan seperti manusia seperti menggigil, mengintip, tersenyum. Penggunaan gaya personifikasi ini sekaligus dapat menampilkan citraan gerak dalam puisinya, contoh:
(3) alang-alang menggigil basah
(4) belalang berloncatan gelisah
(5) sang elang mengintip terpinang cemburu
(6) bunga sekuntum tersenyum.
Pada puisi kedua, Biarawati di Rimba, setting cerita atau latar cerita masih berada di daerah alamiah. Bahkan dengan tegas disebutnya sebuah rimba. Puisi berkisah tentang seorang gadis biarawati. Walaupun anak-anak memanggilnya dengan sebutan bunda, biarawati itu tetaplah seorang gadis. Puisi ini berkisah tentang seorang biarawati yang meninggalkan tempat tugasnya di rimba untuk menuju ke tempat tugasnya yang baru ‘nur nun jauh’, sebuah tempat yang jauh. Kepergiannya meninggalkan kesedihan pada alam dan anak-anak rimba yang memohon sang biarawati mau kembali ke tengah-tengah mereka. Lukisan alam menggambarkan kesedihan dan kerinduan datangnya sang biarawati. Suasana sedih dan duka masyarakat rimba diungkapkan dengan metafora yang bagus oleh Dien. Ia bermain dengan alam yang terhampar di rimba untuk menciptakan metaforanya seperti:
(7) meriap tanya dedaunan sendu
(8) jemaring laba-laba menutur waktu
(9) menyusup rindu kian karat
(10) menepis sunyi di ladang sendiri.
BIARAWATI DI RIMBA
Oleh: Dien Djusni
menuju nur nun jauh langkahmu
jejak hilang tersapu kemarau
meriap tanya dedaunan sendu
jemaring laba-laba
menutur waktu
“Maukah bunda balik lagi,
meniris sunyi?”
jemari bertaut merapal setangkup puisi
mereka tak pernah letih
menanti, jemanta
resah tiada henti
bocah-bocah lugu
penghuni rimba raya
menangis miris tanpa
mengerti
tawa senyap berganti
nestapa
hening terpekur
tak terukur
menagih jawab setiap
malamnya
menyusup rindu kian karat
kapan bunda kembali
“menepis sunyi di ladang sendiri”
(Seludau, 03 Agustus 2016)
Dalam puisi ini lukisan alam mengungkapkan perasaan mendalam anak-anak rimba (dan juga masyarakatnya) tentang kerinduan dan harapan akan kembalinya biarawati berkarya di tengah-tengah mereka. Dedaunan pun menyibak dan bertanya ketika sang biarawati melangkah hendak meninggalkan masyarakat itu. Jaring laba-laba juga bercerita tentang waktu yang sudah dilalui bersama sang biarawati. Dan ketika ia benar-benar meninggalkannya, mereka selalu menunggu penuh duka dan rindu. Bahkan rindunya pun sampai berkarat saking lama menanti. Akhirnya mereka pasrah, mencoba menepis sunyi di ladang sendiri. Ladang sendiri ini agaknya sebuah metafora yang mengacu pada tempat tinggal sendiri. Dalam penantian yang tak kunjung padam mereka (masyarakat rimba) akhirnya menyerah dan berusaha untuk hidup dan berkarya seperti biasanya di daerah mereka sendiri.
Dalam kedua puisinya tersebut Dien Djusni menggunakan alam yang terhampar di hadapannya sebagai acuan citraannya. Suasana padang ilalang, suasana rimba berikut segala macam isinya dimanfaatkannya untuk membangkitkan citraan baik yang bersifat visual maupun gerak. Citra-citra ini diungkapkan dalam bentuk bahasa kias metafora dan personifikasi. Tidak berhenti pada citraan dan metafora Dien juga menggunakan metafor itu sebagai lambang. Misalnya Bunga Sekuntum yang merekah mekar dan memberi aroma wangi pagi hari di padang ilalang, merupakan personifikasi seorang gadis yang mempesona banyak pemuda di daerah sekitarnya. Kecantikannya memikat pemuda dari berbagai kalangan baik yang gagah dan berderajat tinggi seperti elang di rindang pohon, atau belalang dan kumbang yang gelisah dan mendesah. Sedang pada puisi kedua, Biarawati di Rimba, pesona kecantikan gadis biarawati itu terletak pada kesucian dan keikhlasan hati mengabdi, berkarya di tengah-tengah masyarakat rimba yang jauh dari segala kemewahan kota. Alam rimba yang dikemas dalam bentuk gaya bahasa metafora dan personifikasi melambangkan suasana hati yang sedih atas kepergian sang biarawati. Demikian juga rasa rindu dan nestapa karena tidak kembalinya sang biarawati ke tengah-tengah masyarakat rimba yang menanti.
Pada puisi ketiga dan keempat Dien Djusni menghadirkan pesona suasana alam malam hari. Masih bermain dengan metafora dan gaya personifikasi, alam dihidupkan ke meja pembaca sebagai sesuatu yang hidup dan mengaduk perasaan. Mari kita lihat puisi ketiga yang berjudul Purnama.
PURNAMA
Oleh: Dien Djusni
Rindu bersengketa
Riak sendu terbata-bata
Risalah menutup tiada
kata
Risau berkepanjangan
meminang derita
Rimba cemburu
menyesatkan cinta kita
Rintik gerimis
sembunyikan air mata
Rintih-merintih memohon
pinta
“Beri kesempatan sekali
lagi”
Kau
Bulan separuh
Mengintip jendela bilik
sunyiku
“kapan purnama?”
(Tarakan, 05 Juni 2019)
Puisi diawali dengan kecamuk perasaan rindu, sendu, risau dan cemburu. Aneka kegundahan itu sampai menimbulkan tangis dan memohon sebuah kesempatan sekali lagi. Penyair mengungkapkan perasaan-perasaan tersebut dengan mempersonifikasikan perasaannya seperti kutipan berikut.
(11) Rindu bersengketa
(12) riak sendu terbata-bata
(13) risau meminang derita
(14) rimba cemburu menyesatkan cinta kita
(15) gerimis sembunyikan air mata.
Perasaan-perasaan itu diungkapkan oleh penyair untuk melatar-belakangi inti cerita yang ingin disampaikan. Apa yang ingin disampaikan oleh Dien adalah kerinduan seseorang untuk menatap sebuah purnama bulan. Si ‘aku’ yang gelisah menunggu kesempatan sekali lagi untuk menatap bulan purnama. Sementara waktu itu bulan baru separuh, mengintipnya dari jendela biliknya yang sunyi.
Bulan yang waktu itu baru separuh nampak, agaknya metafor tentang seorang gadis atau wanita yang sangat dicintai ‘si aku’. Gadis itu telah meninggalkan ‘aku’ tanpa pesan sehingga menjadikan ‘aku’ menderita dan memohon kesempatan untuk bersama lagi. Tetapi gadis itu tidak datang, ia nampak secara sembunyi-sembunyi, memandang si aku dari jendela biliknya. Pandangan si gadis itu kembali menimbulkan rasa rindu di hatinya yang sunyi sehingga bertanya,”kapan purnama”.
KEMBALI PURNAMA
Oleh: Dien Djusni
angin sepoi-sepoi
hembus lembut usap-usap
basuh gerah dan keringat siang
terbangkan debu-debu kemarau
lesap cumbui dinding-dinding hati
dan dia kembali menyapa
kekasih yang hilang
engkaulah bulan separuh
malu-malu meliuk
memikat
mengintip dari balik
awan pekat
mengeja kata-kata
kepada angin
membisik rahasia hati
menabuh ingin
“tunggulah aku di jendela hatimu”
duhai yang kembali
menyapa derita
membuka lembar-lembar terlupa
kini bulan sempurna purnama
bahagiaku tak terkira
tak lagi terpenjara
andai kau tahu
aku seumpama perahu
patah layar di telaga cinta
sejak pergimu
tak berkabar berita
dengarlah pintaku yang
tiada jemu
merantai hatimu atau
gerhanalah
jika tiada ruang di bilik hatimu
teruntuk rindu bersahaja
(Tarakan, 15 Juni 2019)
Puisi ini merupakan kelanjutan cerita yang dilukiskan penyair di dalam puisi Purnama. Diawali dengan setting alam yang melukiskan keindahan pesona malam yang sepoi-sepoi dan lembut, si aku menyapa kekasihnya yang hilang. Bulan separuh yang melambangkan gadis pujaannya malu-malu memandang dari kejauhan ‘mengintip dari balik awan pekat’. Ia menyampaikan pesan kepada angin untuk mengatakan rahasia hati yaitu agar si aku menunggu di jendela hatinya. Pesan tersebut sangat membahagiakan ‘aku’ lirik yang mengumpamakan dirinya sebagai perahu yang patah layar sejak kepergian sang kekasih. Setelah kekasihnya kembali ia ingin ‘merantai hati’ si gadis, dalam makna mengikat hatinya. Jika si gadis menolak ‘tiada ruang di bilik hatimu’, jiwa si aku akan mengalami ‘gerhana’ gelap gulita lagi.
Puisi keempat ini lebih kaya metafor dibandingkan puisi terdahulu, misalnya: dinding-dinding hati, bulan separuh, jendela hati, bulan sempurna purnama, perahu patah layar, merantai hati, gerhana dan bilik hati. Metafor-metafor itu sekaligus dimaksudkan sebagai lambang tentang sepasang pria dan wanita yang terpisah jarak waktu karena kepergian si gadis yang tanpa berita. Si gadis dilambangkan sebagai bulan separuh yang memikat, berada di kejauhan di antara awan pekat. Namun tetap memberi sinyal tentang keinginannya untuk kembali kepada ‘aku’ seperti terlihat pada metafor berikut.
(16) Engkaulah bulan separuh
malu-malu meliuk, memikat
mengintip dari balik awan pekat
Dan ketika si gadis sudah benar-benar berada di dekatnya, si aku lirik melambangkannya sebagai bulan purnama sempurna.
(17) Kini bulan sempurna purnama
bahagiaku tak terkira
Penyair juga menciptakan lambang-lambang tersendiri untuk menggambarkan si pemuda, baik pribadi maupun suasana hatinya. Hal ini terlihat pada metafor berikut.
(18) Aku seumpama perahu
patah layar di telaga cinta
Dan perasaannya ketika sudah bertemu dengan pujaan hati
(19) Pintaku yang tiada jemu,
merantai hatimu
Perasaan si aku akan gundah jika si gadis menolak pintanya, jiwanya akan gelap bagai malam yang gerhana.
Membaca puisi-puisi Dien Djusni kita serasa diajak berjalan-jalan menikmati wisata alam yang hijau, alami, penuh kesyahduan di malam hari. Pribadi-pribadi yang ditampilkan sebagai tokoh-tokoh puisinya diambil dari alam seperti bunga, elang, belalang, kumbang, laba-laba, dedaunan dan bulan. Ia menghadirkan alam itu dalam kemasan gaya bahasa metafora dan personifikasi sehingga alam yang pada awalnya kita kenal sebagai benda tak berjiwa, menjadi terasa hidup dengan goresan pena Dien Djusni. Selamat menikmati setiap goresan pena penyair berbakat ini dan ikut merasakan sensasi alam yang dihadirkannya.
Dan khusus untuk Dien Djusni, kuucapkan selamat ulang tahun sahabat. Semoga selalu sehat dan semangat dalam berkarya. Ulasan ini kubuat untuk kado di hari istimewamu, semoga layak diselipkan di antara Mozaik Senja, mengantar pembaca menikmati puisi-puisimu.
Semarang, 23 Juni 2019
Pustaka
Pradopo, Rachmat Djoko, 1987, Pengkajian Puisi, Yogyakarta, Gajah Mada University Press
Situmorang, B.P 1983, Puisi Teori Apresiasi Bentuk dan Struktur, Ende, Nusa Indah
Sumardjo, Jacob, 1982, Masyarakat dan Sastra Indonesia, Yogya, CV Nur Cahaya
Wellek, Rene dan Austin Warren, 1989, Teori Kesusastraan, Jakarta, Gramedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *